Cerpen & Novel

Hidupkan kembali naluri, dengan cerpen & novel.


Berbagai Novel Dan Cerpen

Bagi anda yang suka baca novel, silahkan download disini.


Berikut Laskar Pelangi, Karya Andrea Hirata.

  • Andrea_Hirata_-_Laskar_Pelangi__1_of_6

  • Andrea_Hirata_-_Laskar_Pelangi__2_of_6

  • Andrea_Hirata_-_Laskar_Pelangi__3_of_6

  • Andrea_Hirata_-_Laskar_Pelangi__4_of_6

  • Andrea_Hirata_-_Laskar_Pelangi__5_of_6

  • Andrea_Hirata_-_Laskar_Pelangi__6_of_6




  • Berikut Berbagai Novel Dan Kumpulan Cerpen.

  • Ayat Ayat Cinta-Habiburrahman

  • Badai Salju-Karl May

  • 23 Lukisan Cerpen-Ulku Malak

  • Cerita Kriminal

  • Cerpen Horison

  • Badai-Badai Puber-Motinggo B

  • Da Vinci Code-Dan Brown

  • Cintaku Selalu Padamu

  • Dari Luapan Sungai Nil-Fera

  • Habiburrahman El Shirazy-Mahkota_Cinta

  • Dear_Love-Princes WG

  • IGMA Simpul tak Bernama-Ambhita Dyaningrum Femina 2004

  • Kisah Kearifan Joha

  • Jelihim Sang Pembebas-Syam Asinar Radjam

  • Ketika_Cinta_Bertasbih_1-Habiburrahman A

  • Kisah Kisah Nasruddin Hoja

  • Kumpulan Cerita Rakyat

  • Kumpulan Cerpen AA.Navis

  • Kumpulan Cerpen Helvy TR

  • Kumpulan Cerpen Ahmadun Yossi Herfanda

  • Kumpulan Cerpen Arie MP Tamba

  • Kumpulan Cerpen Isbedy Stiawan ZS

  • Kumpulan Cerpen Kurnia Effendi

  • Kumpulan Cerpen Motinggo Busye

  • Kumpulan Cerpen Indra Trenggono

  • Kumpulan Kisah Annida

  • Kumpulan Cerpen Satmoko Budi Santoso

  • Kumpulan Cerpen-Campur

  • Kumpulan Cerpen-Campur02

  • Kumpulan Novel Ahmad Tohari

  • Kumpulan Sastra Koran

  • Malaikat dan Iblis-Dan Brown

  • Mimpi-mimpi Nietzsche-Surgana

  • MASA_YANG_HILANG-Marisa Agustina

  • Novel Saraswati Si Gadis Sunyi-AA Navis

  • Novel MANTRA PENJINAK ULAR-Kuntowijoyo

  • Novel Tembang Kampung Halaman-Gola Gong

  • Perempuan Paris-Motinggo Busye

  • Pasir Maut-Karl May

  • Novel Ular Keempat-Gus TF Sakai

  • Rahasia_Diri-Dennise

  • PUDARNYA_PESONA_CLEOPATRA-Habiburrahman

  • Sang Alkemis-Paulo Coelho

  • Senjadi Selat Sunda-Gola Gong

  • THE CHRONICAL OF FLARION-KISAH FLARION

  • Tempatku disi-Mu-Gola Gong

  • Si pemaki Tuhan-Karl May

  • Titik Muslihat Deception Point-Full Version-Dan Brown

  • Trilogi Ashadi Siregar

  • Trio_Detektif_-_Misteri_Warisan_Hitchcock-JOHN CROWE

  • Trio_Detektif_-_Misteri_Cakar_Perunggu.-JOHN CROWE

  • Trio_Detektif_-_Trio_Penyamar-JOHN CROWE

  • Untukmu_Aku_Ada-Awangga Setiawan

  • WANITA_KEDUA-NURMA

  • When_Love_is_NOt_EnOugH

  • Wanita_Lain_Ayah-Frida Rahmita Gultom

  • baca selengkapnya..

    Jelihim Sang Pembebas

    Jelihim (Sang Pembebas)
    Novel Syam Asinar Radjam

    Bab I - Disekuilibrium


    Asap kabut menyelimuti bumi, aras menjadi panik. Matahari terasa semakin dekat. Bumi memang sedang memanggang dirinya. Bulan makin susah terlihat, begitu sabit. Titik api terlihat di sekujur bumi. Walah, penghuni khayangan menjadi panik.

    Baladewa turun ke bumi, memantau dengan mata api, di mana telaga-telaga ? tempat para bidadari turun dari bianglala,…Ou, mata seorang dewa pedih, tertancap abu dari telaga. Melesat cepat sang dewa kembali ke aras. Anak manusia mana sebegitu kurang ajar membuat bumi terpanggang ? Apakah Yang Maha Kuasa penyebabnya, Waduh,.. takdir siapa percaya ?


    Sekilas yang lalu, para dewa menghirup kiriman udara bersih bumi, para bidadari menikmati sengeng (sunset) di telaga-telaga segar bumi. Selendang mayang panjang sembilannya berwarna-warni membusur di angkasa.

    Anak-anak manusia bercengkrama, petani menanam dan menuai. Padi melambai dan menunduk, bujang dan gadis ribang-ribangan, lesung selalu berbunyi dihantam antan, guhong gemercik. Sang Kemare datang dengan khabar baik, tatanan sosial teratur seimbang, hukum berkuasa, tunjuk salah tunjuk ditetak, Oh, tak ada manusia memakan manusia. Bayi-bayi menangis secara wajar, ketika lapar minta susu. Menangis bukan karena terpanggang, dan buah dada ibunya pun tak lagi berisi. Kemarau begitu panjang.

    * * *


    Siapakah gerangan, anak manusia di atas batu ? Tuak di kanan, gadis di kiri. Dicumbu sepuasnya, O, baumu memabukkan, bidadari mengintip dari awang-awang. Urat geli menggeletar,…

    Dia, dia orangnya. Rentasan. Yang empat windu lalu menumbangkan dewan kute. Didahului dengan bertebaran fitnah, hawa jahat bertebaran, pembunuhan bukan hal yang aneh. Kecemasan melanda tujuh kute di utara Muara Cawang. Kematian bersimaharejalela.

    Apalah Belalang Kerta Gambir ? apalah Simboer tjahaja? Ketika kesepakatan tak lagi bermakna. Lantas Rentasan naik ke pentas pemerintahan kute, sebagai penguasa tujuh kute. Rentasan muncul sebagai pahlawan, sebagai pembaharu yang dieluh-eluhkan. Lengkaplah, Pemuda yang juga memiliki ilmu awet muda ini lengkap kesaktiannya.

    Banyak orang ditoreh beraliran sesat. Harus dipisahkan nyawa dan badannya.

    Lambat laun semua berubah. Setiap datang ke pelosok-pelosok kute, rakyat dikumpulkan dulu. Diajari berbicara yang baik dan benar, sebelum bertemu 'Pemimpin sejati'. Pagar-pagar rakyat miskin di poles pewarna. Pondok-pondok diratakan, rumah-rumah dikapuri.

    Rakyat hidup dalam masa 'lupa' yang panjang dan gelap. Tak ada cahaya di ujung terowongan. Sekalipun sesekali perlawanan terlihat, hanyalah letupan-letupan kecil yang cepat dipadamkan. Penindasan ini pun didukung para cendekia yang melacurkan pengetahuan pada penguasa. Kepandaian dihargai dengan pangkat dan emas. Kaum Cendikia tak mau kembali ke talang, "Rakyat malas dan tak menguntungkan untuk hidup di sana!" Sergah mereka.

    Kekuatan adat, kepercayaan, bersebunyi di balik tirai hitam. Disudut sumpak balai-balai adat, tempat bersembahyang. Berbicara dalam kasak-kusuk. Hanya menghabiskan waktu berprasangka buruk terhadap pemikiran-pemikiran pembaharuan.

    Mereka justru membantu pembesar menarik upeti dari setiap musim ngetam, musim berjual getah, berniaga ternak, dan damar.

    Dan Para tukang cocok tanam, di pedesaan bukan sekali dua melakukan perlawanan, bersama para pekerja di tempat-tempat usaha serta kalangan terpelajar. Apalah kekuatan. Para begundal Rentasan menguasai semuanya. Menguasai pendidikan, tipuan, persenjataan dan kekuatan seluruh negeri.

    * * *


    Bab II - Anak Sepotong Kayu

    Tok-tok tikus,
    Melemang melukut,
    Datanglah (h)antu tikus,
    Nyuhok-nyuhok kebawah Jelapang Simar,....

    Tembang itu diiringi tawa geli anak kecil.Bersama dengan suara malam lainnya, jangkrik, burung, angin dan daun-daun, tembang itu berasal dari sebuah Talang di tepi sungai besar. Talang Buleh Pehabung yang artinya boleh berlebih atau makmur. Isinya cuma empat rumah panggung, bersuasana tenang. Teratur dan aman, sekalipun tanpa peraturan tertulis. Hanya kesepakatan tertuang di kepala yang diberi nama 'Belalang Kerta Gambir', tunjuk salah, tunjuk ditetak.

    Tok-tok tikus, mele,...

    Suara itu tepat dari rumah Matni. Istrinya Ningyut bertembang sambil bergelut dengan putranya yang sedang belajar berjalan. Simar adalah nama putra Matni dan Ningyut.

    Betapa rindunya Siamak dan istrinya akan kelahiran seorang anak. Seperempat abad sudah usia perkawinan mereka. Tak juga muncul seorang anak, maklumlah anak di negeri mereka, bukanlah seperti dongeng di negeri Andersen, bayi antaran para bangau.

    Purnama empat belas. Bulan bulat penuh. Hanya nenek bongkok yang sedikit menambah warna sinar emas bulan. Bocah berkumpul di tengah laman. Bocah laki-laki behusek, bermain pedang-pedangan. Bergulat di tanah. Gadis-gadis kecil berjajar di anak tangga bulat, saling mengepang rambut kawannya, sehabis bermain cak-ingkling.

    Bayi bernyanyi kegirangan di sebelah rumah Siamak dan Rieayu. Orangorang tua begesah, bercerita dari tundan ke tundan. Semua rumah berdekatan. Talang berbau gelundu dari dapur-dapur yang membuat minyak kelapa. Aromanya bercampur pandan memenuhi talang. Malam begitu akrab, tenang, dan sejuk.

    Ningyut masih bergelut dengan putranya,..bocah-bocah berpedangan. Berlompatan, sembunyi-sembunyi di balik pohon pisang. Ada yang mengendap untuk menyerang,... Gadis-gadis kecil bernyanyi di pangkal tangga.

    Siamak dan Rieayu memperhatikan semuanya. Siamak menoleh ke Rieayu, pasangan itu bertatapan. Hampir setengah abad perkawinan mereka tak juga hadir keturunan. Tak putus asa mereka berpinta berupaya. secara adat, secara akal sehat,...

    Rieayu mendongak ke langit. Siamak cuma tertunduk. Sinar kesedihan, sinar pengharapan, oh adakah terbaca dari langit. Keduanya bertatapan lama. Ambung Rieayu tek selesai dianyam. Cuma asap tembakau dari daun nira Siamak yang berterusan mengapul. Keduanya bertatapan. Tak jelas, apalah kesedihan ?

    Bocah-bocah sudah berhenti main pedang-pedangan. Gadis kecil semua sudah berkepang. Tawa Simar sudah berhenti agaknya. Sudah tidur agaknya di tetek ibunya. Lampu minyak kelapa di tundan ujung sudah padam. Hanya suara jangkrik, angin menggesek rumpun buluh. Bocah-bocah dengan peluh naik ke panggung. Pedang-pedangan dari pelepah pisang, terpecah terkapar-kapar. Perdang milik Rentasan dari batang rukam menghancurkannya.

    Tiga bocah menangis. Kalah. Rentasan memang begitu subur tubuhnya. Dibanding bocah seusianya. Gadis-gadis berlarian dengan suka. Kepang panjang dan belah dua bergoyang. Pulang.

    "Indok, ceritakan andai-andai," Terdengar gadis kecil Remayun meminta ibunya mendongeng.

    "Ini panggung si Kude Irang, Kude Irang kude melayang. Kakak mengilir ke Pelimbang. Belikan aku sabut Kain, belikan aku pitir emas,..." Sayup-sayup terdengar syair Kude Irang dari dongeng Rumasalit dan antu Mook.

    Dan malam pun bergerak menuju pagi. Malam tertidur. Siamak dan Rieayu bertatapan. Angin lembut menjatuhkan daun-daun Kemang. Ada suara gigi tupai menguliti duku muda. Malam itu tak terdengar burung pelatuk membuat sarang.

    Nyala-nyala api padam. Cuma bara berkilat di bawah masing-masing panggung. Tak ada tuju. Tak ada bintang jatuh. Siamak dan Rieayu masih ditundan. Menyesali nasib ataukah mencari harapan. Rieayu mendongak ke langit. Berpinta. Siamak mengikuti.

    "Oh, yang memberi hidup. Bila kau percaya pada kami, Apalah pelipur, jika tak ada seorang anak,…"

    Dan langit tak berubah. Senandung satwa semakin indah.

    * * *


    Esoknya, Pasangan pembelah kayu ini meninggalkan talang, mencari damar dan pohon sialang.Pengembaraan pembela kayu dan istrinya ini tiba di Gunung Tujuh. Entahlah apa do'a yang dipanjatkannya, terlalu indah, doa seorang rakyat, do'a seorang yang penuh pengharapan. Lancang sekali jika dicoba membahasakannya ke dalam sebuah tulisan sembrono.

    Singkat kata terjadilah dialog antara Siamak dan Sang Pencipta. Entahlah, apakah dialog pelambang, atau dialog oral.

    "Apalah pelipur, jika tak ada seorang anak,…" Begitu menghiba nadanya. Berpadu dengan gesekan buluh-buluh tertiup angin sepoi.

    Siamak adalah pembelah kayu yang dikenal jujur. Tak pernah sembarang mengambil pekerjaan. Tak pula pernah berniat lebih dari sekedar kebutuhannya, sederhana tapi tidak miskin. Meski garis tegas antara sederhana mulai bias dengan kemiskinan.

    Empat puluh hari empat puluh malam mereka berpinta. Sang istri setia menemaninya. Hidup hanya hitungan waktu.

    Mereka hendak melanjutkan berpinta pada hari ke empat puluh satu. Ketika guruh petir bergemuruh berani. Hutan begitu kelam, tabir hitam turun berlembar-lembar.

    Melesat sang Kemare membawa khabar " Segera Pulang!"

    Sepasang tua bersedekap.

    "Mengapa kami harus pulang, tak ada yang menunggu kami di Talang."

    "Segeralah Pulang. Tapi, potonglah kayu besi di sebelahmu. Apa yang kau pinta akan kau temui berkat kekuasaan-Nya." Sang Kemare berlalu.

    Keduanya bertatapan. Istrinya mengangguk. Apakah mungkin sesuatu di dalam kayu. Dan apalah mampu membuat rebah kayu besi dengan kapak tuanya.

    Tapi itu dilakukan mereka. Hari pertama berhasil mengikis kulit kayu besi. Hari kedua, lingkar tahun terluar terkikis, begitulah selanjutnya. Berapakali mereka harus mengganti gagang kapak tua. Untuk alat pemotong itu dari sebuah besi tua bagus mutu.

    Hari ke setengah, Rieayu terdiam saja.

    "sudahlah, kakak Siamak. Kita Pulang ke Talang. Sudah dua kali purnama muncul kita tak menemukan apa-apa,..." Nasihatnya akhirnya.

    Siamak merangkulnya. "Rieayu, jikapun tak sesuatu ada di sini, kayunya akan berguna untuk pedang-pedangan anak kita nanti." Hibur orang tua itu.

    "Siapa tahu, dia bisa bermain dengan yang lain."

    "Iya, kalau dia perempuan?"

    "Kita berikan untuk calon suaminya kayu bermutu ini, Pondok mereka akan teduh dan kuat. Dingin dan kokoh,..."

    Keduanya melanjutkan. Rieayu sambil Siamak memotong Kayu, berhasil membangun pondok kecil, peristirahatan menjelang malam. Ketika fajar membuat bayang-bayang daun kelapa dan pinang-pinangan, Siamak memotong lagi.

    Begitulah seterusnya. Hari Keempat puluh pohon tua itu rebah. Betapa kecewa Rieayu melihat tak ada apa di dalamnya,..." Pohon itu perlahan rebah ke mata air berhulu di matahari terbit.

    Kayu besi menimpa rumpun bambu betung. Menerapas daun-daun buluh. Mengesek bilah sebelum jatuh berdebam ke tanah. Siamak dan Rieayu mengitari tunggul kayu besi. Tak ada lelubang, tak ada tanda-tanda pencapaian permintaan mereka.

    Burung malam berbunyi siang itu. Rieayu ketakutan. Duhai musibah apakah pertanda. Betina tua memeluk Suaminya, yang tak kalah ketakutan. Sang Kemare tak terdengar, sebelumnya Siamak sempat diperingatkan istrinya bahwa ada suara nenek di dekat mereka. "Aku takut Kakak,..."

    "Ssssst,... Apakah kau mendengar sesuatu ?"

    "Hanya suara burung malam,...suara guhong ?"

    "Bukan,..." Siamak menjawab dengan mendesis. "Cobalah kau dengar lebih tajam, di tempat rebahan kayu kita, di rumpun buluh, arah mata air,..."

    Rieayu terdiam. Keningnya bertambah kerut. Matanya semakin tajam,... ada sesuatu tertangkap di telinga. Keduanya bertatapan lama,.... Keduanya berlari meninggalkan tempat mereka semula. Menuju ke sumber suara," Suara Bayi,..." Sorak mereka.

    Siamak mencegah lari istrinya sebelum tiba di ujung rumpun. Ada harimau tua tertimpa kayu besi,... mulutnya berdarah, entah darah apa,... ataukah darahnya sendiri.

    Mengendap orang tua itu menuju bangkai harimau. Di atas dedaun mati,...tergolek bayi sekira-kira dua puluh hari. Darah sedikit mengucur di kulit bahunya yang empuk,... lembut, merah.

    Rieayu langsung mendekapnya,...

    Oh,...mereka bersedekap berdua. Memanjatkan syukur ke pemberi hidup. Bayi itu kelak diberi nama Jelihim, Anak Sepotong Kayu.


    * * *


    "Jelihim, makanlah dulu."

    "Iya, nek. Nanti dulu," Jelihim memanggil keduanya Nenek. Nenek Jantan dan Nenek Betina, seperti yang diajarkan. Dua orangtua itu menghadapi gulai tempoyak mengepul di atas tikar pandan. Masa tua begitu menyenangkan, terlebih sejak kehadiran anak kecil di rumah mereka. Sekalipun keduanya masih mencari tahu siapa orang tua Jelihim sebenarnya, meyusuri ceceran darah dari taring harimau.

    "Jelihim, makan dulu,..."

    "Iya, Nek,"

    Kumbang arang-arang,
    'Men nak idup keluah,
    Men nak mati kedalam.

    Tembang itu terdengar di bawah tangga. Bocah Jelihim memukul-mukul tiang rumah, mengusir kumbang dari liang-liang. Menangkapnya dengan benang yang menjerat. Kumbang arang-arang, 'men nak idup ke luah, men nak mati ke dalam,...


    * * *


    Bab III - Berguru ke Padang Datar

    Jelihim minggat. Sejak tiga hari ini Tak muncul di perguruan tulis baca yang diasuh guru-guru bayaran penguasa negeri. Kawan-kawannya mencemooh 'kebodohan' itu.

    Guru-guru mengajarkan tulis baca surat ulu. Mengajari mengeja kitab-kitab yang tak terbaca mata hati Jelihim. Terjadi di sini pemindahan pengetahuan dan keterampilan hasil ceplakan yang tak menyentuh talang, kute, marga dan Negeri. Guru-guru seperti orang-orangan pengusir burung di ume yang menunjukkan pengetahuan yang diceplak oleh pembesar negeri bidang keilmuan dari kitab-kitab tak dikenal di luar. Dibiakkan di dalam negeri begitu saja.

    Jelihim minggat.

    "Nenek ingin aku memperoleh pendidikan, karenanya ia melarangku sekolah,"

    Kawan-kawannya mencemooh,...

    Setiap tempat adalah sumber ilmu. Pergi begitu saja, berguru dengan alam ke padang datar.

    "Pengalaman adalah guru terbaik, karena bayaran guru mahal,..." Canda Jelihim kepada kawan-kawannya.

    Muak dengan keseharian mencatat dan menghapus batu sabak. Menghapus isi kepala berisi kederhanaan. Menghapus kenyataan di gerbang perguruan terdapat peminta-minta, bertebaran mereka yang tak mampu masuk, dan terpaksa menjadi penjahat tak terbagi pengetahuan dan kesempatan. Walah, di dalam pun orang-orang dilatih menjadi penjahat. Bau pantat dimuka guru.

    Masuk ke sarang pengetahuan dijadikan tujuan utama. Bukanlah sebuah perjalanan pengikisan kekentalan perseberangan derajat. Orang-orang mencari 'laba' dengan modal yang ditanamkan di pada pendidikan. Murid terlatih menabung nilai di saku guru-guru, dengan kehadiran tanpa penghayatan dan penghormatan palsu. Orang-orang menjadi tergantung bukan karena mencari ilmu adalah tugas hidup. Hanya alasan laba rugi bak perniagaan. Orang-orang dibodohi tujuan mencerdaskan kehidupan negeri.

    Hanyalah lingkaran setan di perguruan macam ini. Orang-orang bertujuan mencapai cita-cita menjadi pengawal penguasa negeri, bukan untuk kepentingan orang lain. Asal untuk tidak kelaparan, memeras pun halal. Lingkaran setan menghasilkan orang-orang berkedudukan, berkecukupan dan mampu menjadikan keturunan di perguruan-perguruan ternama. Dan Talang tetap tak ada perubahan.

    Orang miskin tak mampu menginjak perguruan. Orang muda desa tak mampu belajar di kute, Tak mampu menyuap menjadi pengawal pembesar.Walah,..orang-orang berilmu diharapkan mampu menuntaskan perseberangan ini, mampu menuntaskan kemiskinan. Padahal tak ada yang mampu menarik benang merah antara keduanya.

    Orang-orang muda di talang-talang tersesat pada keputus-asaan berkepanjangan, tak berdaya dengan tingginya biaya berguru. Sekalipun sempat mencicipi belajar di perguruan, kenyataan di kute tak ada peluang bagi mereka mengabdikan ilmu. Sungguh telah tertolong bangsa priyayi yang sekarang memerintah merebut kekuasaan.

    Oh, semua menjadi ajang pemaksaan saja. Pencucian otak, penghancuran nilai kemanusiaan. Betapa manusia adalah mahluk membingungkan. Semua nilai dikurbankan demi kebendaan.

    Makanya Jelihim minggat. Mengembara, berguru kepada angin yang bertiup, pada matahari yang setia, tak pernah tenggelam, pada bintang benderang sekalipun tau yang dilihatnya bukanlah bintang, hanya sebuah cahaya dari benda bergerak cepat yang tertangkap mata lemahnya dalam jarak begitu jauh. Jelihim mengembara setelah berpamit ke Siamak, Rieayu, dua orang tua yang besedingan.

    * * *


    Pengembaraan begitu melelahkan, belajar pada mata air, belajar pada petani tentang bertanam tanpa harus menikmati panen.

    Akhirnya pengembaraan berhenti sebentar. Jelihim bertemu guru belang kaki. "Tak ada yang dapat kuberikan padamu Jelihim. Bisa taring raja harimau memenuhi isi darahmu. Bersilat hanya melatihmu membunuh,"

    "kalaulah itu diniatkan untuk membunuh, Guru." Jawab Jelihim.

    "Nah, ternyata kau lebih bijak daripadaku."

    Di sela berlatih silat, memainkan selendang sampang due belas,...

    "...Apa guna kita memiliki sekian banyak pemuda dari pondok-pondok berisi ilmu yang cerdas. Tetapi rakyat dibiarkan bodoh. Segeralah kaum pintar itu pasti akan menjadi penjajah rakyat dengan kepintaran mereka," Lalu suara itu menghilang guru belang kaki itu lenyap. Meninggalkan Jelihim di padang datar.

    Jelihim terduduk. Entah mau menangis atau apa dalam perpisahan tak terduga itu. Menangis pun untuk siapa ?


    * * *


    Jelihim tepekur saja dua hari setelah berpisah dengan Belang Kaki. Dia mencoba menggabungkan gambar-gambar dikepalanya yang panjang dan menghubungkan ke peristiwa pertemuan mereka.

    Matahari begitulah, dimusim pancaroba. Tak Jelas dingin panasnya. Hanya dia mendapat kesialan hari ini. Pengembaraannya menghantarkan raganya ke padang tak tampak tepian. Datar saja. Tak jelas arah bau mata air. Tiga hari jelihim dalam kehausan hebat. Jangankan mandi. Dia menghisapi keringatnya sendiri.

    Malam dingin dan panas siang menghantam tubuhnya. Bibirnya membiru, memutih dan pecah. Matanya membengkak saja. Debu begitu menyukai sisa kelembaban di mata Jelihim sepertinya. Ya, tak ada lagi kelembaban lain. Burung mayat di atas kepala berputar-putar dengan nyanyian kematian. Hanyalah rundungan kemalangankah yang pantas dinikmati seorang tak menerima kemapanan.

    Menjelang sore. Ya, menjelang sore kalau tidak salah. Tapi jelihim masih berjalan. Dia masih dapat merasakan selang waktu pertukaran ujung tumit kiri dan kanan bergantian melangkah pelan. Menjejak di rumput gersang. Langkahnya mulai amat pelan. Tumit terasa semakin menebal, perih. Tak ada sisa nasi diperutnya, hanya kemauannya menggerakkan kedua kaki. "Bukan takut mati, tapi mengapa harus mati dulu," Jelihim berkata sendiri.

    Matanya yang tertutup debu masih bersinar. Matahari semakin jauh. Dia menikmati kepergian matahari darinya. Oh, tak tahu Jelihim sedang mengejarnya. Hanya sisa-sisa larik jingga di ujung dataran tak nampak tepi. Selebih itu dia tak tahu seiring gelapnya dunia, terseret ke kegelapan yang lebih hitam. Jelihim terjatuh.

    "Hei, bangun Beruk!" Suara itu bukan teriakan. Jelihim menggerak-gerakkan pelupuk matanya.

    Setengah sadar Jelihim merasakan dadanya bergetar dengan bisikan pelan itu. Bergetar tapi tak sakit. Jelihim membuka mata.

    Oh, tersadar dia di tengah genangan air, mungkin danau. Sebatas dadanya jika duduk.

    "Nah, nah, nah Berukku sudah bangun." Dada Jelihim bergetar lagi. Matanya mencari-cari arah suara itu. Walah, seorang tua bangkotan di tepi danau berjingkrak aneh. Manusia gila, pikir Jelihim. Kakinya seperti berselaput lagi, berwarna coklat belang putih.

    Berjingkrak untuk apa? Kening Jelihim berkerut rapat. Dia mendengar nyanyian untuk seorang beruk. Ya, seorang bukan seekor.

    Sayup-sayup, terdengar genjer-genjer beruk di genjer, tercelup berhari-hari jadi beser, seorang beruk pemalas berendam saja, tak tau malu tak ada mau,...Dengan nada tak tentu. Tak teratur.

    Jelihim berhasrat naik dari danau. Mendekati orang gila belang kaki itu. Setidaknya dia bertanya sesuatu tentang yang tak diketahuinya sampai di tempat ini. Jelihim coba menggerakkan sendi kaki.

    "Eh, Beruk. Mandimu belum usai." Orang-tua berjingkrak itu berkata Ke Jelihim.

    "Bangsat, berarti Beruk itu Saya," Jelihim memaki seribu bahasa.

    "Habiskan makimu. Supaya kau bisa berkata baik besok, ha ha ha,..Tapi usaikan mandimu. Tubuhmu kotor dan menjijikkan. Mundur tiga langkah. Sudah tiga hari kau di sana saja. Tak baik air keruh untuk tubuhmu Beruk."

    Jelihim terhenyak, telah tiga hari dia mendekam di lumpur ini. Jelihim mencoba menatap matanya. Walah, mata itu begitu menakutkan, mencorong seperti bola api.

    Orang gila itu lebih terkejut lagi menatap mata Jelihim. Ya, Jagat raya. Matahari ternyata dua. Lalu dia berjingkrak-jingkrak seperti bocah menerima mainan baru. "Matahari ada dua, matahari ada dua, Emak,..."

    "Gila," Bisik Jelihim.

    "Eh, Kau jadi lupa untuk mundur."

    Jelihim tak mampu menggerakkkan kakinya. Seolah terpaku di lumpur. Sekalipun mampu tak akan dia menuruti kemauan orang itu. Dia sudah cukup kebasahan disini. Dia mau pergi melanjutkan pengembaraannya.

    "Masih tak mau mundur juga. Biar aku paksa!" Orang gila itu melambaikan tangannya.

    Lalu tubuh Jelihim diserang angin keras yang dingin. Tubuhnya tambah menggigil. Terlempar sepuluh depa ke belakang. Jelihim tergagap. Kedalaman air di tempat barunya menyambut ganas. Tubuhnya meluncur saja ke bawah.

    "Selamat datang, wahai ajal," bisik Jelihim.

    Dia tak mampu menggerakkan apa-apa. Tubuhnya meluncur lurus. Hanya dia mampu menahan nafas saja. Gelembung-gelembung udara kecil meluncur berbalik arah dengan luncuran Jelihim.

    "Bange (goblok) sudah kubilang tiga langkah saja, ha ha ha,...suara itu merambat di dalam air.

    Jelihim memaki dalam hati. Sementara tubuhnya terus ke arah bawah tak tentu batas. Jelihim memejamkan matanya menyambut sang ajal. Belum pernah sekali dia sepasrah ini.

    Lalu dia merasa rambutnya di tarik dari atas. Jelihim membuka mata. Hanya kaki yang terlihat. Kaki berbelang-belang. Teringat dia itu orang gila di atas tadi. Secepat kilat mereka tiba di atas awang-awang. Hanya riak air dan luapan yang meninggi dilihat Jelihim di atas permukaan danau. Lalu tubuhnya terlempar lagi ke air, ke kira-kira tiga langkah dari tempatnya semula.

    Jelihim menggigil kedinginan. Rahangnya menggeretak. Sampai malam datang lagi. Sumsumnya terasa membeku. Jelihim hanya mengatur pernafasan. Terus berjuang melawan kedinginan. Menjelang pagi, sumsum terasa semakin berat. Jelihim kembali menggeretak. Kulitnya terasa tebal dan mati rasa.

    Sampai saat kekuatan panas dari ubun-ubunnya mengaliri setiap sarap di tubuhnya. Jelihim memberanikan membuka mata. Kaki belang-belang itu di depan mukanya. Orang gila itu duduk di atas kepalanya. Jelihim menggerutu. Tapi kekuatan apa yang mampu memghangatkan air beku ini.

    Tak lama. Orang gila itu menghilang.

    Kurang lebih empat puluh kali Jelihim melihat Matahari di atas kepalanya. Dia masih saja tak mampu meninggalkan telaga. Panas kepanasan, dingin kedinginan. Kadang laki-laki tua itu muncul lagi ketika matahari menyegat kulit. Mengalirkan tenaga dingin beku ke ubun-ubun Jelihim.

    Saat itu mungin pada hari ke tiga belas. Jelihim menyadari sebuah perubahan pada dirinya. Dia tak lagi berlapar-lapar saja karena ada buah teratai yang dapat dilahapnya. Sekalipun kakinya masih terasa lumpuh. Tapi kekuatan panas dan dingin itu benar-benar berguna. Hari ke dua puluh Jelihim mampu menguasai kekuatan baru itu. Dia mampu membuat ikan di sekitarnya mengapung dan masak dengan menaikkan sedikit suhu tubuhnya.

    Saat itulah sebuah tendangan mengenai dadanya. "Saat ini kau hanya boleh makan dari tanganmu." Lalu bayangan itu begitu silap.

    Sampai hari ke empat puluh satu. Dia dia diperintahkan naik ke atas. Kelumpuhannya selama ini hilang. Dan orang tua itu berlalu saja.

    "Bapak tua," tahan Jelihim

    Orang itu berlalu saja. Kaki belangnya melangkah menjauh. Jelihim mengejar. "Kau tunggu saja di sana."

    Jelihim terdiam. "Apa yang harus ditunggu?" pikirnya. "Ketidakpastian?". Dia ingin mengejar. Dengan kekuatan baru yang dirasakannya saat ini tubuhnya terasa lebih ringan. Dia yakin mampu mengejar.

    "Tidak," Pikirnya dalam hati. Harus belajar mempercayai orang. Jelihim tak meninggalkan tempat ini.

    Hari keempat penantiannya, orang aneh itu kembali dihadapannya. Duduk bersilah. "Siapa namamu, Beruk? Jelihim, Bapak. Mengapa sampai disini? Tak tahu, Bapak. Setahu saya hanya padang rumput tak tampak tepi. Tahu-tahu saya terendam di telaga itu. Dan kalau boleh tahu tempat apakah ini, Bapak? Mengapa kau yang bertanya, tapi tak apa tak ada larangan untuk itu disini. Inilah padang datar.

    Jelihim tercengang. Padang datar ? Setahunya padang datar hanya sebuah tempat di dongeng-dongeng dalam kitab Ninek Gumbak Panjang. Dimana semua ilmu pengetahuan terkumpul.

    Hormat saya, Bapak. Hua ha ha, Jelihim ternyata kau tetap seperti Beruk. Beruk pun tak butuh pakai penghormatan-penghormatan. Apalagi kau memberikan itu setelah kau tahu sesuatu di sini, kan? Maafkan saya, Bapak. Lalu seperti apa layaknya saya memanggilmu, Bapak? Panggil aku Belang Kaki? Izinkan saya memanggilmu guru. Ha, ha, ha sudah lama aku tak dipanggil guru. Tidak, ha ha ha,... sebentar, Guru ? Guru? Guru Belang Kaki,... ya boleh kau panggil aku begitu. Sekalipun, belum tentu kau kuajarkan sesuatu. Kau belajar sendiri di sini. Di telaga. Atau rumput yang bergoyang. Terima kasih Guru ? Guru ?!!! Guru Belang kaki, tahu ?! I,... iya Guru Belang kaki.

    Jelihim memberi hormat lagi.

    Begitulah seterusnya. Hari-hari Jelihim diisi dengan mempelajari falsafi air, atau apa saja di padang datar. Mengupas kitab Ninek Gumbak Panjang yang merupakan sumber ilmu siasat dan terkaan terhadap yang akan terjadi. Mengupas pula Belalang Kerta Gambir. Belajar pencak, berlatih silat. Bersemadi. Berlatih mengumpulkan tenaga panas dan dingin di pusarnya. Mengeluarkannya pula dan mengendalikannya.

    Jelihim mematangkan sastra surat ulunya. Dari Guru Belang kaki dia mendapat ilmu memintal dan menenun. Mereka berkebun juga untuk kebutuhan sehari-hari. Gurunya tak mengajarkan untuk memakan sesuatu yang bukan hasil kerja tangannya. "Janganlah kau terlalu suka mengumpulkan kesenangan, kekayaan."

    "Mengapa, Guru Belang Kaki?"

    "Saat yang sama kau juga telah menumpukkan kemiskinan dan penderitaan bagi orang lain."

    "Tidak Guru. Karena hanya aku sanggup makan hingga kenyang saja. Aku hanya mampu memiliki pakaian sampai rusak. Tak ada lagi yang berhak kumiliki."

    "Kau berasal dari kelompok aneh, Jelihim. Kau bukan dari kelompok tertindas, bukan pula penindas."

    "Penindasan itu di depan mata saya, Guru Belang Kaki."

    "Kau melihatnya. Maka derake bagimu jika kau membiarkannya."

    "Mudah-mudahan tidak, Guru Belang Kaki."

    "Semestinya Jelihim. Karena kau mempunyai ilmu yang bisa dibagi untuk pembebasan."

    "Lalu Guru Belang Kaki sendiri ?" Tanya Jelihim.

    "Ha ha ha, pertanyaanmu menyindir sekali Jelihim, ha ha ha"

    "Maaf, Guru Belang Kaki."

    "Tak apa Jelihim. Inilah bagian dari hidup. Aku mengambil peran ini. Doakan aku mampu menjalani peran ini dalam mendukung gerakanmu. Aku hanya mampu menulis kitab-kitab dan membagikan sedikit isi kepalaku."

    "Kalaulah aku tak mampu lagi bergerak tanpa kitab Guru Belang Kaki ?"

    "Maka kau percayakan pada nurani. Dia akan menggiring jalannya perang yang kau jalankan."

    * * *

    Jelihim (Sang Pembebas)
    Novel Syam Asinar Radjam


    Bab IV - Smaradana

    Dua betina di atas telaga, jentera bianglala masih terukir lengkung. Selengkung busur soratama. Dua mata dibalik aur berduri pasat memandang terpesona. Betina peri yang muda menyisiri betina peri yang tua. Tempurung biuku menyusuri setiap lembaran panjang rambut ibu peri.

    Telaga tersapu bianglala. Sore itu peri mandi. Geletar urat geli Jelihim mengacaukan nafas. Sinar matahari, desah angin mengkilatkan air meriakkan kecipak katak menjadi besar. Duhai, siapakah betina begitu indah,…?

    Tak lama rambut peri tua telah terikat rapi, dibalut kerudung sutra lembut. Telah lama selesai mandi, betina peri tua melangkah melintasi bianglala. Melesat pelan ke balik mega.

    Angin lebih keras terasa mendekat. Angin dengan uap panas. Dua betina itu diam saja. Jelihim menangkap gerakan angin itu. Kekuatan besar milik Rentasan, jejaka penguasa tujuh kute di selatan.

    Kekuatan itu berhenti di semak rukam, Sepasang mata merah bekas bau tuak menatap pemandangan indah itu.

    Dang betina peri muda melangkah ke telaga. Aroma telaga bertebaran bunga melur. Dua jejaka bersembunyi termabuk keindahan. Gerakan di bawah air sedikit tampak menggelegakkan nafas Rentasan. Jejaka itu melesat ke telaga.

    "Duhai, siapa demikian jelita sampai masuk ke kawasan kekuasaanku? Wajarlah kiranya jika ku harus tahu namamu, duhai tamuku,…" Rentasan memandang lekat ke Betina di telaga.

    Betina itu mempercepat mandinya, dan naik ke atas darat. "Siapapun kiranya Tuan, tak pantaslah jika sampai mengganggu perempuan mandi," Ucap betina itu pelan tapi tegas.

    "Apakah salah jika aku cuma ingin berkenalan?" Rentasan menebar senyum di sela kalimatnya. "Sebenarnya aku juga tahu sedikit kesopanan, tapi hasrat begitu kuat. Tak kuat kutahan keinginan berkenalan,…Apalagi dengan perawan demikian rupawan." Tak tahan Rentasan merasakan kehalusan jemari betina di hadapannya. Sampailah Rentasan mengulurkan tangan, "Namaku Rentasan. Penguasa tunggal tempatmu mandi ini,…"

    "Namaku Redendam," Jawab sang betina tanpa mengulurkan tangan. "gadis tersasar yang sekedar numpang membersihkan diri."

    "Ooh, sendirikah Dikau, Adinda Redendam ? Aku berharap kau tak menolak jika kuajak singgah ke istanaku. Aku menyukai matamu, seperti sepasang bintang kejora, tak ada bandingnya. Hanya satu kejora di langit. Kau memiliki dua. Kecantikan sukar ditara. Kebetulan aku sedang mencari pasangan. Jika kau bersedia aku akan segera meminangmu."

    Rentasan mulai berani meraih tangan betina Redendam.

    "Maaf, aku tak suka dengan caramu, Anak Manusia. Aku harus segera pergi," Nada betina terdengar layaknya orang yang terganggu saat-saat indahnya.

    Peri muda melesat pergi dengan muka sedikit kesal. Rentasan pergi dengan ketersinggungan. Belum pernah rayuannya tak mempan di gadis di muka bumi. Oh, Rentasan,… Buluh perindu-mu mandul. Peri muda melangkah ke bianglala yang mulai pudar.

    Jelihim tertinggal di semak aur berduri. Terpaku mabuk harum melur. Duhai, wangimu harum bayi. Jejaka penjudi itu tetap terpaku. Khayal menerawang jauh. Kilatan matahari di atas telaga. Kilatan lembut sutera basah. sosok itu begitu indah. Tulang bahu begitu simetris. Tak ada lemak berlebih, bisa digolongkan kurus malah. Tapi begitu menarik. Begitu merangsang. Betapa tulang lebih terlihat menggiurkan dibanding daging.

    Bianglala semakin memudar. Ujungnya meninggalkan tanah.

    Jelihim melesat menyambar sumber kilatan. Serangga air tak berhenti berbunyi, katak masih menunggu lalat, tak ada kecipak. Begitu tinggi ilmu meringan tubuh jejaka yang diakui sebagai penguasa tujuh kute di selatan Muara Cawang.

    "Hei, tunggu!"

    Jelihim menangkap ujung pudar bianglala. Betina di atasnya menoleh dengan rupa kesal, "Mengapa lagi?!" Dia menyangka jejaka genit di atas telaga mengganggunya lagi.

    "Maaf jika aku mengganggumu, Wahai Perempuan. Tapi apakah kau ketinggalan sesuatu."

    Betina itu tersadar yang datang ternyata lelaki lain. Bukan lelaki yang tadi mengganggunya. Keangkuhan melarangnya meminta maaf. "Tidak, tak ada yang tertinggal."

    "Ya sudah, berarti selendang ini bukan milikmu. Maaf, selamat tinggal," Jelihim pura-pura hendak pergi.

    Betina di bianglala terkesiap. "Hei, kau bilang selendang?" Lalu dia meraba lehernya sigap. "Iya, selendangku tertinggal. Maafkan atas kekasaranku tadi."

    Warna muka Jelihim tak berubah. "Tapi Aku rasa kau tak begitu butuh," Tidak juga ternyata. Warna muka Jelihim ditoreh sedikit rasa iseng. "selammm,……mat,..ting,…." Tinggal jari telunjuk dan ibu jari Jelihim memegang ujung bianglala.

    "Eii, jangan pergi dulu. Benar-benar aku minta maaf. Selendang itu pemberian ibu periku,…tolong berikan padaku. Begitu berharga bagiku." Ujung lentik jari-jari Betina peri menangkap jemari Jelihim.

    Jelihim meloncat ke atas bianglala. Akibat hentakan tenaga betina ditambah tenaga bujangan sakti itu sendiri.

    "Aaaah,… " Begitu kuat lonjakan tadi. Jelihim berhasil menjejak ke bianglala. Si Betina terhempas ke luar sisi bianglala. Jemari mereka terlepas. Tubuh ramping melayang di atas awang-awang. "TENANG!" Teriak si Bujangan.

    Tubuh Jelihim melesat. Tubuh jatuh itu begitu cepat meluncur. Jelihim menambah kecepatannya. Meloncat dari mega-mega. Tinggal sedikit lagi, jemari lentik itu sampai. Tapi kecepatan jatuhnya semakin cepat. Keringat Jelihim jatuh perbutir. Tubuh kuyuhnya basah peluh.

    Jelihim mempercepat lesatannya. Gadis itu semakin dekat ke bumi. Bayangannya jatuh di telaga. Serangga darat berhenti berbunyi. Semua sepi. Belido bersembunyi di balik-balik purun. Angin seolah diam.

    Jelihim berdoa dalam rupa cemas. Menyesal seumur hidup jika dia tak mampu menyelamatkan betina itu. Entah kenapa kesan pertama begitu menggoda, bukan karena itu saja. Setidaknya dia turut menyebabkan gadis itu jatuh,…dan mati.

    "Aaaah! TIDAK!!!" Teriakan Jelihim mengacaukan telaga. Ikan-ikan berlompatan. Air beriak keras, telaga tenang tiba-tiba bergelombang. Ada sesuatu di hatinya yang rentan pecah. Jelihim merasa sesak di dadanya.

    Tak ada harapan. Betina itu sebatang pinang sepuluh tahun dari tanah. Jelihim terus mempercepat laju.

    Burung-burung berhenti terbang. Hinggap di atas pohon-pohon tepi telaga.

    Gadis itu seolah pingsan. Diam. Tak ada yang bisa berharap. Tak juga ada yang mampu menolong. Tubuh itu akan remuk dalam waktu tak lama lagi. Umban. Luluh,… lantak.

    Jelihim terus menambah kekuatannya. Tak bisa semakin cepat dia melesat, tubuh lepas itu bertambah pula kecepatannya. Gaya tarik bumi menyedotnya.

    Jelihim pun tak mampu berharap.

    Selendang di pinggang betina itu tiba-tiba berkibar. Arah jatuhnya membelok. Melengkung setengah cakrawala. Gerakan itu begitu indah. Burung-burung diam teriri. Diiringi tawa-tawa kecil. Betina itu menari di udara. Berputar dari mega ke mega tak secepat Jelihim memang. Pipit, cucakrawa yang tadi terdiam bersorak kagum. Tarian itu begitu indah. Awan mengganti-ganti rupa. Bentuk biri-biri putih, kereta kencana dengan empat kuda, atau kapas-kapas putih kecil, jagung beheteh.

    Tertinggal Jelihim dalam kekesalan. Bujangan itu merasa dipermainkan. Tapi tawa kecil keluar dari mulutnya. "Sial, kubalas kali lain!" Teriaknya ke betina penari di mega.

    Betina itu tertawa saja. Pemandangan di langit begitu indah. Dada jelihim bergeletar. Belum dia pernah melihat betina serupawan ini. Rona merahnya tertimpa mentari sore yang tak tega menyentuh kulit mulus sang betina.

    "Hei, bianglala hampir habis!" Jelihim cemas mengingatkan.

    Akhirnya betina rupawan berhenti menari. Berusaha mengejar ujung bianglala. Jelihim melesat cepat. Menyambar tubuh ramping. Dalam terbang Jelihim berkata, "Maaf bila ku tak sopan." Getarannya begitu lembut. Oh, pikir si Betina. Asmaramu di bicaramu, bujangan.

    Cinta tertebar di intonasi si Bujangan.

    Jelihim menyambar ujung bianglala. Mereka berdekapan di tujuh warna. "Terima kasih, namaku Redendam. Bolehkah ku tahu namamu ?"

    "Jelihim. Kau bisa panggil aku Kawan Jelihim." Mata mereka bertemu. "Ufh, maaf aku cuma mau memulangkan selendangmu. Begitu berarti sepertinya," Jelihim tersadar.

    "Apakah aku harus berterima kasih lagi, persediaan terima kasihku tak banyak,"

    Betina itu tertawa kecil setelah ucapan terakhirnya sendiri.

    "Tak perlu berterima kasih. Toh, tak bisa tak bisa ditukar sekulak beras," Jelihim membalas.

    Keduanya tertawa.

    "Bolehkah aku berterus terang, duhai Redendam ?" Ucap Jelihim pelan. Gadis itu menganggukkan.

    "Aku cuma mau minta maaf sempat memperhatikanmu dan ibu perimu di telaga tadi, eee,…."Ucapan itu putus. Cuma terucap di hati. Tapi rendendam membacanya, eh,…aku mencintaimu karena kau mencintai ibumu.

    Keduanya terdiam. Jelihim tak kuasa menahan hatinya. Getaran Betina itu pun begitu kuat. Bumi langit guncang. Sudahlah, anak manusia. Buang mimpimu pada perempuan langit. Tak ada kata-kata. Cuma bayangan di sengeng. Siluet tubuh berdekatan. Wajah mereka menyatu.

    "Maafkan aku, aku harus pergi, " Suara berat jelihim menyadarkan.

    Ada desah tertahan milik Betina.

    Tapi Jelihim sudah berlompatan di mega-mega.

    "Aku tunggu setiap sore di telaga," Bisik sakti Redendam dari jauh.

    Jelihim menoleh sebentar. Cuma bentuk hitam seorang betina dengan latar oranye di ujung langit. Nyawamu dan nyawaku dijodohkan di langit, dan anak kita akan lahir di cakrawala. Adapun mata kita akan terus bertatapan hingga berabad-abad lamanya.10

    Di bawah, dua pasang mata Rentasan yang rupanya belum pergi berlumur kebencian karena peristiwa tadi.


    * * *

    Si Betina selalu menunggu di tepi telaga. Sendirian. Dan Jelihim tak pernah muncul. Menghabiskan waktu di lapak taruh. Tapi jangan cari Jelihim di satu lapak taruh, Jelihim hanyalah petaruh berpindah. Jelihim tak pernah menang, tak juga pernah kalah. Dari hikmah dari pertaruhan macam itu didebatkannya kepada kawan-kawan penjudi lainnya. Dan ajaklah mereka berdebat dengan cara sebaik-baiknya 11

    "Ada judi lain yang lebih besar, kawan-kawan. Tentulah taruhannya besar pula. Bagaimana menaruhkan hak dan martabat diri terhadap penguasaan musuh di kute di utara." Sambil berjudi Jelihim membangun kekuatan dengan mencoba menyadarkan kawan-kawannya. Jelihim masih meragukan betinanya.

    Si Betina menunggui di tepi telaga. Berpantun, Uji dengan aku dek ngandang, ngandang pedare lelayuan, uji pedengan aku dek ribang, ribang ketare kemaluan,…


    * * *


    Bab V - Panen Raye

    Di Selatan

    Begitu indah. Semuanya tersaput keemasan. Bulir-bulir padi merunduk dalam, dewi padi menari di mata kelam sang dukun. Bocah-bocah berlarian di sela-sela rumpun padi, bergumul miang. Bocah-bocah telah dilangiri.

    Asap mengepul di dapur umum. Bau padi pulut tersiram kince memenuhi ume. Perempuan tua memanggul keruntung , ani-ani menari. Dan padi tak pernah marah kepada ani-ani. Laki-laki mendorong kisaran. Bocah-bocah ditarik ibu-ibu mereka dari rumpun padi. Disuruh bermain layang-layang.

    Sebagian menurut. Berlari dengan benang layang-layang dari urat pohon. Layang-layang daun waru terbang, membelah angin. Siulan bersahutan. "Hei, jangan bersiul di tengah ume." Teriak ibu-ibu mereka. Bocah berlarian menjauh. Siulan dari mulut penuh karamunting terus berbunyi tersendat. Melompati sesaji untuk bumi. Dewi Padi tersenyum di alam maya.

    Ayam-ayam yang ditehing. Tunja dan lengkur tetap dipasang. Dua bulan lalu Cik bernyanyi di tepi-tepi desa melawan arah angin. Berucap-ucap,…Kepak-kepik kumbang lenggane, baleklah kamu ke mega metu. Kalu kamu dek balek, kamu dikutuk oleh Allah. Ke ayek kamu dak boleh minum, ke dahat kamu dak boleh makan. Laillaha ilallah, …"

    Pak Cik ikut ngetam hari ini. Ikat kepalanya hitam. Jelihim bersamanya. Keduanya dilarang bekerja di tengah tengah ume. Keduanya melihat saja panen raye itu. Panen tiba, petani desa memetik tanaman. Bocah-bocah menari lincah dipematang,…

    Padi begitu cepat berlumbuk, di jemur-jemur. Jelihim menenggak tuak. Wajahnya merah bersuka. Rakyatnya tak pernah kekurangan beras. Padi begitu cepat berlumbuk, padi di jemur-jemur. Padi berlumbung-lumbung.

    Jelihim meniup batang padi. Menimpa-nimpa siulan bocah. Sebuah harmoni alami. Orkestra mereka mengisi suara gemercik air guhong. Bercampur suara angin menggesek batang-batang buluh, daun-daun, serangga padi, jangkrik tanah, pipit.

    * * *

    Di Utara

    Panen tiba. Petani --tepatnya tukang cocok tanam di dusun-dusun-- bergumul ditengah sawah dan ladang. Petani bergulat dengan utang yang harus dibayar kepada Rentasan. Panen tak bisa disebut berhasil, belalang muncul entah dari mana. Kesaktian petani musnah. Mantra apalah daya. Ramuan yang selama ini dipaksakan oleh Rentasan lewat kaki tangannya, tak lagi bergigi. Pemuka-pemuka kepercayaan ditugaskan mencatat hasi panen yang kelak disumbangkan ke tempat-tempat pemujaan.

    Bocah-bocah bekerja bersama orang-orang tua. Semua harus cepat selesai. Tak ada bersuka. Antan bertalu keras. Perempuan-perempuan menumbuk bonggol jagung kering. Tak ada yang bisa dimakan sekalipun tersedia padi. Padi itu bukanlah milik mereka. Semua milik Rentasan.

    Musim tugal kemarin panen gagal, karena cuma padi kesenangan Rentasan yang boleh ditanam. Ketika musim kepi' dan belalang panen gagal. Petani berhutang besar. Untuk tongkat tugal sakti yang mampu membuat lubang tanam setengah sekat sekejap.

    Matahari begitu panas, peluh berkucur, belacu-belacu kuyup oleh keringat. Hanyalah tukang cocok tanam belaka, yang keuntungannya dinikmati mereka yang tak melakukan kerja-kerja menghasilkan sesuatu apa. Petani tanpa tanah, walah. Menanam tanpa memanen, sekalipun petani begitulah adanya. Bertandur saja, tak begitu memikirkan siapa kelak menikmati bebuah yang ditanam. Anak-cucukah ? atau orang yang tak sengaja bersinggah ? selayaknya hakikat seorang petani. Petani tanpa tanah, walah-walah. Siapa menguasai tanah dia menguasai makanan. Dan Rentasanlah sang penguasa.

    Rentasan mabuk di rumah bordil. Aroma tuak mengambang terbang. Tawamu aneh,... tawa serakah. Gudangnya dipenuhi cengkeh, kelapa, padi,... tak termakan-makan oleh mulutnya padahal. Memanen tanpa menanam, merompak tanpa jejak, kabur tanpa buntut, bau tanpa kentut.

    Rentasan keluar menonton pasukannya. Berlatih perang, latih tarung. Rentasan mencoba mereka satu-satu. Semua bergelimpangan. Lalu latih tarung lagi. Pasukan Rentasan hanya bisa bertarung. Lain tidak,... seperti ayam jago kesayangannya.

    * * *


    Petani tak boleh berkumpul ramai-ramai. Kaki tangan Rentasan menyelempangkan pedang-pedang panjang.


    * * *


    Bab VI - G e g a r

    Kute Muara Cawang terlihat lenggang. Padahal hari itu hari kalangan, hari pekan. Angin bertiup sedikit, cukup mampu menggerakkan anak rambut putri Redendam, bidadari khayangan yang turun di kalangan kute Muara Cawang. Parasnya elok, harumnya wangi bayi, jadikan keringat menjadi bumbu, ah

    Parasnya elok benar, mata-mata mengintip dari jendela rumah-rumah yang juga menjadi pasar. Kalangan Muara Cawang memang sangat ramai, pedagang dan pembeli tujuh kute di hulu dan dan tujuh kute di hilir bertemu. Setepak sekat dari batanghari dipenuhi pedagang.

    Durian hingga tempoyak, ada tersedia. "Belilah pekasam ini, sebentar lagi banjir besar, kalian tak bisa membeli ikan."

    "Ssst, mau beli kalung babi tidak," Penjual obat baju hitam itu berbisik ke seorang yang kelihatannya habis menjual getah. Punjinnya gemerincing. Orang-orang kasak kusuk.

    Buah-buah berlumbuk di kalangan, sementara orang-orang terlihat segan datang. Pedare, rukam, duku, rambutan, dan macam-macam lagi. Tapi Cuma mata-mata yang terlihat dari kejauhan.


    Bidadari itu demikian cantik, sehingga orang-orang tahu kalau Redendam turun pastilah Rentasan keluar dan memancing keributan dan menggoda gadis bidadari itu. Mata-mata itu bukan dari kuku orang mati, duhai mereka tertindas atau tidak?

    Tapi Redendam hari sepertinya tak mau berurusan. Sehingga dia cepat-cepat pulang setelah membeli beberapa butir telur ulat sutra. Terbang, selendangnya terurai serupa jalan, dan orang-orang lima belas kute itu merasa bernasib benar jika telah memandang semua itu. Untung Jaka Tarup di lain lakon.

    Lenyap sudah keindahan di sisa matahari terbit. Orang-rang diliputi rasa senang dan penyesalan. Menyesalkan terlalu singkat semua keindahan, dan mensukuri dengan keindahan berlalu, bencana urung datang.

    Angin tiba-tiba bertiup kencang, udara jahat tak ramah. Kepulan asap dari ujung kute membumbung, bukan asap tapi debu. Sebuah bayangan gelap berkelebat, Orang-orang yang baru mau keluar celah-celah pintu minggir lagi.

    Ada yang datang. Matanya menyorot tajam, hidungnya mengendus-endus bau wangi. Seperti mereka yang ada di kedai tuak milik pedagang Tiongkok.

    Rentasan sang penguasa tujuh kute di utara. Kekuatannya maha dashyat, Duhai siapa yang mampu menyamai kekuatan para dewa di khayangan ? Yang mampu mendatangkan badai, mampu memindah gunung. Tak ada yang mengalahkan Rentasan di tujuh kute utara. Setelah berhasil mengacau rapat dewan kute, Rentasan menguasai tujuh kute tersebut. Muncullah sang tiran.

    Saat ini Rentasan berkeinginan mengusai kute di selatan Muare Cawang. Ah, politik kenegaraan masa itu begitulah, kedaulatan hanyalah muncul setelah menguasai daerah kekuasaan lain. Setelah menindas kelompok lain, setelah …. kegilaan-kegilaan yang memunculkan kelas-kelas penindas baru, entah penindas kelas miskin atau penindas dari kelas pemilik modal,… Bumi terbolak tertelan hawa serakah.

    Seketika kedatangannya mempercepat jalannya matahari, kalangan mendadak panas, matahari terasa lebih dekat.

    Rentasan hanya bergelak. Mencomoti dagangan di tengah kalangan. Melemparnya sekehendak hati. Durian hanya terbelah dua-tiga tanpa dimakan. Dilempar ke angkasa, terbakar oleh kekuatan langit. Membara dan menabrak bautu langit. Pecah.

    Kute Muare Cawang gegar. Dewa-dewa khayangan ribut di angkasa, ribut rembuk, rapat tikus terjadi. Semua sepakat menghentikan ulah Rentasan, semua sepakat. Tapi siapa yang mau turun ke bumi, dan menginjak tanah. Rentasan tak terkalahkan.

    Siapa bisa menolong siapa ? Siapa yang mau jadi pahlawan, apakah memang pahlawan tak dibutuhkan ?


    Tiba-tiba hawa berubah pelan-pelan, sejuk terbawa angin selatan. Matahari tertekan awan, naik ke atas lagi. Hawa sejuk berputar mengitari Muare Cawang. Rentasan mengetahui ini, "Hei, siapa berani main-main dengan ku !" Dia memaki. Memang dia hanya bisa memaki. Kecuali dengan Redendam yang diimpikannya. Tak kurang akal, dipancingnya keluar panas bumi, bloom ledakan-demi ledakan mendahului semuanya. Api-api keluar dari celah-celah mata air.

    Hawa sejuk semakin kuat. Bergantian dengan hawa dingin membekukan memadamkan api. Sesekali gas bersih terasa dikurung, api padam. Hidup lagi oleh kemarahan Rentasan. Api membeku lagi, ….

    Orang-orang di Kute Muare Cawang panas dingin, suasana tenang pagi menjadi kotor. Keringat sebesar jagung tiba-tiba menjadi salju, salju tiba-tiba menjadi cair, dan mengembun,… Oh neraka tercium dari bumi, apinya menjilat-jilat pantat anjing,…

    Kedaan tak dapat dibiarkan, sayur dan buah menjadi busuk, ternak-ternak terkapar, … Hawa beku semakin dekat.

    Orang-orang tertegun, Sosok kurus kering dengan rambut riap-riapan muncul. Kepalanya tak tertutup apa-apa, Cuma belacu yang membungkus tubuh tipis itu. Jelihimkah ? Yang diakui rakyat kute selatan sebagai pemimpin. Pemimpin yang tak pernah muncul langsung, semua dipercayakan kepada rakyat, lewat senyum tipisnya dia sering mendesah, "kalian rakyat, kalianlah pemimpin,.." Selebihnya dia lebih sering berada di ume atau dimanalah berada tempat tempat sepi.

    Jelihim sang 'sempalan' biasa disebut Rentasan. Sampai saat ini Rentasan begitu bernafsu mengalahkan si Kerempeng itu, karena kekayaan 'negeri' kecilnya begitu cukup. Sampai saat ini kekuatan bersenjata Rentasan belum mampu merobohkan benteng aur negeri sang sempalan.

    Khabar burung menebar bahwa Jelihim menjalin asmara dengan Redendam. Dan Rentasan meluap kemarahannya mendengar itu. "Lebih baik berbuat dosa daripada kudengar namanya!" Maki Rentasan setiap anak buahnya melaporkan Jelim.

    "Oh rupanya kau yang membuat rakyat disini kedinginan, wahai pemimpin yang tak pernah menghangatkan rakyat. Habis panas tubuhmu Cuma untuk mensedekap Redendam, cuih!" Ludah Rentasan menyentuh tanah, membuat lubang sebesar sumur. Seketika cacing-cacing keluar, kepanasan.

    Khabar burung lagi mengatakan bahwa Rentasan mencemburui Jelihim. Ah terserah,… "Siapa yang dengki dengan kesukaanku terhadap Redendam, maka dialah musuhku !" Maki Rentasan seringkali di hadapan pendukungnya. Anak-anak buahnya menyingkir menjauh dari Rentasan. Biasanya dia membanting apa saja yang ada di dekatnya setiap berkata itu.

    "Ada apa Rentasan, pagi-pagi kau sudah ngamuk-ngamuk tiada karuan. Muare Cawang kan bukan kekuasaanmu," Jelihim berkata pelan. Udara perlahan normal, orang-orang memberesi dagangan berdiri di kejauhan menonton dua orang digdaya itu. "Di daerah kekuasaanmu sendiripun tak boleh terlalu kejam. Berapa orang yang tak bisa makan hari ini karena kalangan kau hancurkan?" Jelihim berusaha menyadarkan Rentasan.

    "Sudahlah kau tak usah berkhotbah, berhentilah berbicara tentang surga-neraka, jangan sok suci. Kau sendiri bercinta setiap waktu!" Rentasan geram.

    "Aku tak berkhotbah, apalagi tentang surga neraka. Aku Cuma mengingatkan bahwa kita manusia. Maka jadilah manusia,…"

    "Tutup mulutmu." Kebencian meluap-luap , amarah membakar hati Rentasan. Kuduk rentasan tercabut dari sangkar dan membacok Jelihim. Hanya mengenai angin. Jelihim mengelak gesit sambil melemparkan ajian membuat rompal golok Rentasan.

    Golok membacok lagi, menusuk, dan mengiris. Jelihim terus saja mengelak. "Hei, apa-apaan ini." Disela-sela kelebatan bayang-bayang golok yang membungkus bayangan Jelihim, Jelihim bersuara.

    Masih sempat tiga kali golok itu mencincang tubuh Jelihim, luput. Lalu Rentasan berhenti. Nafas terengah, matahari memoles keringat mereka.

    "Baiklah, Jelihim." Rentasan memulai pembicaraan. "Ambillah jagomu, kita sabung saja,"

    "He, bukan begitu maksudku. Kenapa harus main adu-aduan, adu otot, adu ayam, atau adu apalah. Seperti binatang saja kita ini," Jelihim mundur. "Dan kau tahu aku tak punya ayam, kan?"

    "Tak mau tahu." Atau kau mengaku kalah. "Taruhannya ini," Rentasan memperlihatkan punjen berisi simbol kekuasaan di tujuh kute di utara. "Kau harus serahkan tujuh kute di selatan kalau kau kalah." Lalu Rentasan memperlihatkan selendang Sutra, simbol seorang perawan. Redendam juga dipertaruhkan.

    "Bukan cuma ini, tapi kalau kau kalah, tanah secuilmu di Selatan juga untuk ku," Senyum Rentasan terasa culas.

    Tunduk tertindas adalah penghianatan, "Cuma ada satu kata,… Lawan!" Bisik batin Jelihim.

    Tapi apakah tega, kalau Redendam pun kupertaruhkan.

    Sang Kemare hinggap di bahu Jelihim, Lelaki itu dalam kebingungan. Otaknya dipacu berpikir cepat. Keadaan setempat tak mentolerir pikiran yang gagap dan setengah hati.


    Lelaki dan Murai
    Mencumbu pilihan tersulit,
    Ketika cinta jadi taruhan
    Jadilah Hanoman menyerbu alengka,
    Gawat, lakonmu berat wahai lelaki,…


    Paruh murai begitu dekat dengan telinga Jelihim, "Aku rasa Redendam bisa menerima itu, jangan kau pandang ini permainan yang menyakitkan dia. Sebuah langkah pembebasan manusia di kute utara, wahai Jelihim. Tarung ini untuk kebenaran."

    Maka mantaplah pilihan yang diputuskan Jelihim, dia menulis pesan dalam surat ulu kepada kekasihnya di khayangan.


    Salah besar mungkin keputusan ini,
    Segala bolehlah kau timpakan kepadaku
    Masih ingatkah adinda tentang sebuah cita-cita
    Kehidupan tanpa penindasan
    Kehidupan disini dipenuhike serakahan
    sampai beberapa sengeng kita tak bertatapan
    Kirimkan padaku ayam jalak juring kuning,


    Sang Kemare itu segera kembali meninggalkan Redendam di dalam rundungan sedih. Terbang bersama ayam jalak juring kuning.

    Dan Rentasan dan Jelihim melesat ke kute Pagar Batu. Hanya sebuah kelebatan, menyisakan tawa Rentasan sepanjang rimba yang dilalui. Satwa berhenti bernyanyi, Perjalanan teramat jauh, melintasi rimba, sebuah padang pasir yang panas, Debu mengepul-ngepul, pasir tergurat panjang dan dalam. Dua garis. Menuju sebuah kute mati. Dipenuhi batu-batu raksasa yang menjulang, dan tandus.

    Orang-orang kute berkumpul menyusul dengan langkah tergesah. Kute selatan dan Utara bertatapan sinis bersiap perang. Orang-orang Rentasan beringasan bermata merah. Siap menelan orang-orang berduyun itu.

    "Hei, tak baik kau membesarkan matamu ke rakyat ini, kita sesama rakyat. Mari sama-sama mengarahkan mata pisau ke musuh bersama," Sergah seorang tua. Pak Cik ikut rupanya.

    Orang-orang dalam langkah berduyun-duyun.

    Dua sosok berhadapan. Dari kejauhan hanyalah kibaran-kibaran jubah, angin terlalu deras,… Dikendalikan setan-setan.

    * * *

    Jelihim (Sang Pembebas)
    Novel Syam Asinar Radjam


    Bab VII - Perang

    Keduanya bertatapan. Tempat ini adalah ladang pembunuhan empat windu lalu. Orang-orang terkena fitnah sebagai pengikut aliran sesat, diculik, dan tinggal nama. Khabarnya ladang ini menyimpan roh-roh penasaran mereka.

    Jelihim menggali kapak perangnya. Ayam jago dihadapkan. Siapakah dia? Dia begitu berani mengembara dalam keterasingan, menentang maut dan penderitaan di padang yang dibanjiri darah, dan yang dari merahnya lautan kesyuhadaan dia mengangkat semangatnya dan tegar menghadapi tantangan. Jago Rentasan mengepak-ngepak sayap besar. Jago terbaik di muka tujuh kute. Bulu kumbang, hitam perkasa. Tajinya ganda, serupa besi hitam. Diasah baik, pecahlah entah berapa batu istimewa. Segala racun mengendap dipangkal hingga ujungnya.

    Lawan-lawan terbaik Bulu Kumbang tersungkur kehilangan darah dan bengkak-bengkak. Biasanya Selalu didampingi tujuh dagok yang mengitari arena sabung dari kejauhan. Semuanya haus darah, selalu begitu lawan Bulu Kumbang tersengkang, tujuh anak panah raksasa itu melesat ke darat melemparkan bangkai jago ke angkasa. Bulu-bulu beterbangan, daging dan tulang tercerai berai dimakan binatang bebas racun itu.

    Ayam Jalak Juring Kuning bertubuh kecil, bulu jarang, serupa bulu jarum. Jelihim sejenak ragu.

    Tapi tak mungkin Redendam memberikan pilihan yang salah.Sang Kemare hinggap di pundak Jelihim. Membisikkan pesan Redendam, bahwa Jalak Juring Kuning adalah anak elang yang diasuh ayam. Meski buruk tampilan, kekuatanya belum tentu kalah dengan kesaktian Bulu Kumbang. Dagok-dagok pun terbang menjauh, melihat sorot mata Jalak Juring Kuning.

    Maka sabung pun dimulai. Jelihim dalam rupa tenang. Di hati dia mencemaskan taruhan. Redendam dan rakyatnya di kute 'sempalan'. Rentasan berdiri tersengkang. Tangannya dilipat di depan dada. Kemenangan diatas kepalanya. Bibirnya tertarik ke atas.

    Bulu kumbang menerjang. Debu mengepul, Jalak Juring Kuning terseok. Jalak Juring Kuning bengkit lagi, tapi Bulu Kumbang bergerak lebih cepat. Menerjang lagi. Jalak Juring Kuning, terhuyung sedikit. Tidak terkena terjangan, tapi kepakan sayap Bulu Kumbang. Luput sedikit jengger Jalak Juring Kuning, terpatuk musuhnya. Jelihim dalam rupa cemas. Taji Bulu Kumbang menghujam ke arah kepala Lawannya. Sepemanggangan petaling, Lalu perkelahian begitu cepat, hanya debu mengepul dan bayang-bayang hitam mengitari warna kuning pudar.

    Dua kali bulan terlihat melintas perkelahian itu tetap berlangsung, bayang-bayang mulai jelas, bayang kuning pudar mengitari warna hitam pekat. 'Ayam kecil' itu menghentak melesat ke atas.

    Bulu kumbang bergasing di bawah. Putarannya melubangi tanah. Jalak Juring kuning menghujam ke Bulu Kumbang. 'Ayam besar' itu mempercepat gasingannya, memasang taji kembarnya sebagai tameng.

    Juring Bulu Kuning luput serangannya. Oh, tidak memang serangannya ke sejengkal dari gasingan Bulu Kumbang. Menghujam tanah di dekat Bulu kumbang. Melubangi tanah dengan cepat. Menghilang.

    Bulu Kumbang masih mempertahankan serangan dari atas. Taji kembarnya berputar cepat tak henti. Tiba-tiba gasingan itu berhenti. Tubuh Bulu Kumbang melesat ke atas.

    Darah bercipratan di udara. Tubuh Jalak Juring Kuning melesat dari bawah tanah, bersama debu dan tanah liat. Sayapnya membentuk bor tajam. Melubangi tanah, melubangi bumi, melubangi punggung Bulu Kumbang. Melubangi hati busuknya.

    Bulu Kumbang terseok, diam. entah mati.

    Rentasan terhenyak, Jelihim langsung menyambar ayam Jalak Bulu Kuring.

    Rentasan tertawa,...terbahak keras, "Kau Kalah, Jelihim Malang!" Soraknya jumawa. Orang berduyun dari berbagai kute telah sampai dari perjalanan tiga hari ini, menyaksikan semuanya. Orang-orang itu dari kubu bermacam, kelompok sang sempalan dan kelompok penguasa.

    Jelihim tersenyum, kau yang kalah Rentasan," Ujarnya pelan.

    "Ayammu menang ! Maka kau kalah, hai Bujang Dungu!" Makinya.

    "Aturan macam apa itu, diseluruh Kute ayam menang sabung dia yang menang, sebaliknya juga demikian, hai orang tak tau diri." Jelihim mulai memaki. Orang-orang tertindas selama ini turut memaki kelicikan itu.

    Rentasan mendelik. Dia tetap terbahak. 'Aturan di dunia ini aku yang buat, dan tak tahukah kau bahwa undang-undang Kute Muare Cawang yang diakui orang-orang itu, sudah kuganti pagi tadi." Rentasan menciumi Bulu Kumbang dengan suka cita. Lalu melemparkannya ke ujung arena sabung. "Mana lambang kekuasaan di kute kecilmu yang miskin itu. Serahkanlah, supaya tak memperpanjang urusan. Dan jangan sekali lagi kau muncul di tepi telaga, karena kau tak berhak bergaul dengan Redendam. Pecundang."

    Jelihim naik Pitam. Dan berkeras tak mau memberikannya. Jelihim menolak takluk. "Alangkah buruknya hatimu! Tak akan kuserahkan rakyatku kepada manusia tak tahu malu sepertimu. sekehendak hati kau ubah peraturan!"

    "Jadi maumu apa!" Rentasan mengayunkan kuduk-nya. Rentasan mengelak. Terus terang saja dia tak terampil berkelahi. Cuma memiliki sedikit kemampuan membela diri. Jelihim terkurung kelebatan putih tajam. Dia tak tahu kelemahan orang sakti yang menyerangnya. Peperangan tak terelakkan, banjir darah orang-orang berduyun terjadi,...

    Semua orang tahu Rentasan orang nomor wahid untuk kekebalan tubuh.

    Jelihim kebingungan. Lari adalah pengecut. Terlintas di ingatan, selempang yang kadang dipakainya mampu membuat bayangan kembarannya. Selempang dua belas itu dilepas. sreeet,..

    Perkelahian terlihat terus berlangsung. Jiwa Jelihim melesat ke angkasa. Rentasan terus saja menyerang bayang-bayang yang terlihat tak semakin lemah. Ilmu-ilmu terbaik Rentasan bermunculan. Ilmu racun, tenaga dalam.

    Rentasan mengubahnya menjadi macan kumbang. Lawannya sedikit tersudut. Keadaan berbalik, Macan kumbang terlilit Naga,...Macan Kumbang menjadi asap. Naga kebingungan seperti mabuk.


    * * *


    Bab VIII - Patah-hilang Kaki Langit

    Baru tiba di gerbang langit Jelihim dikepung sepuluh penjaga langit, "Anak manusia! Tak layak sungguh Engkau menjajakkan kaki ke sini!"

    "Maaf, tolong pertemukan aku dengan aku dengan para dewa."

    "Engkau pikir siapalah dirimu?! Sukarkah bagi engkau memandang diri sendiri?!" Pemimpin pasukan mentertawakan.

    "Sudahlah, tak usah berpanjang ulur, ada persoalan penting langit dan muka bumi yang harus dibicarakan."

    "Ha, ha, ha,… persoalan langit dan bumi katamu. Melucu, kan? Apalah soal sedemikian hingga Engkau berani ke sini?!"

    Jelihim naik pitam. "Jadi apalah kerja kalian hingga tak tahu isi dunia. Berjaga dan berpesta di sini saja tah?" Oh begitu panas hawa langit, matahari tak menjauh, duhai mengapa Jelihim tiba-tiba beringas,...Sudahlah, ini mendesak nian. Pertemukanlah aku segera. Aku punya indok dan Rame dewa di sini?!

    Pengawal langit beringas bengis "Segumpal daging hina dina, tak kau pandang muka dahulu menerobos kemari?! Pulanglah Engkau!" Tubuh Jelihim terdorong ke arah megag-megag.

    Jelihim memaki lagit yang bisu dan tuli terhadap masalah dunia dan isinya. Naik pitam. Sepuluh pengawal mengepungnya. Sepuluh bola api menyambarnya. Entah kekuatan apa mebuat Jelihim begitu berani. Apatah ini karena Jelihim direndam Guru Belang kaki belasan purnama di Padang Datar. Bola api terarah ke Jelihim. Dan anak manusia itu menangkapnya saja. Jelihim bersedekap. Uap air mengepul di sekujur Jelihim. Sebegitu kuat hawa dingin Jelihim menjadi uap. Api mengembun.

    Bola api bertambah-tambah.

    Tubuh Jelihim bergeletar. Sosok itu kemudian mencelat-celat. Dengan gerak tangannya api dipelintir dan dikumpulkan di tangan. Di telapak Jelihim api terkumpul sebesar anak sapi memadat beku dingin. Sebagian memadat lekas mnyublim. Dilemparkan kembali ke tubuh sepuluh pengawal. Pengawal sibuk menghindar-hindar. Oh, betapa es itu seolah digerakkan. Kemanapun mereka mencelat mengikuti. Sampai kemudian habis menguap.

    Tak urung Pengawal mengatur stretegi baru. Sepuluh tombak perang mencelat berseliweran di muka hidung Jelihim. Tidak tepat dan kembali ke tangan pemilik. Tapi serangan tak berhenti. Serang, kembali, serang, kembali, serang begitu saja. Jelihim menghantamnya dengan uap panas dari perut. Gagang tombak terbakar hangus menjadi abu.

    Tak urung mata tombak dari besi langit yang tak termakan api menyerang ke arah tubuh Jelihim. Tubuhnya ditaburi keringat dingin. Mata tombak mengarah ke titik-titik saraf anak manusia itu. Jelihim menggasingkan tubuhnya. Jubah belacunya menjadi perisai.

    "Kurang ajar kalian!"

    Belacu Jelihim tersobek-sobek.

    Jelihim meningkatkan tenaganya." Anak Manusia gonggongan harimau ini menaburkan racun. Ya Serabit, apakah mahluk langit teracun bisa.

    Lmega Jelihim terdesak. Jelihim terseok. Tak habis pikir dengan kekuatan sendiri. Dari Kute Mati terlihat kilat menyambar-nyambar diselingi guruh besar.

    Ratusan pengawal bermunculan. Tubuh manusia itu terkepung. Jelihim memaki kesombongan langit. Darahnya mengelagak. Jelihim meningkatkan lagi kekuatannya. Tubuhnya memerah. Mencelat-celat menghindari larik-larik sinar anak panah. Sepuluh sabuk serupa baja, menyerangnya. Jelihim terpukul mundur. Sembilan sabuk menghantam dadanya. Jelihim terlempar ke mega.

    Tubuhnya menyelinap di mega-mega. Anak petir menyusul menyambar Jelihim. Susah payah Jelihim mengumpulkan mega. Pertempuran terus berlangsung di bumi. Tak henti-henti. Pecundang-pecundang bumi memanfaatkan untuk menghimpun kekuatan di luar pertempuran. Pemangku-pemangku segala, menyerukan ketentraman. Apalah jadi, keadaan memaksa meninggalkan semua pertimbangan para pemangku. Yang lain berperang untuk pengakuan kedaulatan. Bahwa manusia lahir dengan sifat mulia, yang dipaksakan untuk hangus.

    Mega membeku di kepalan Jelihim. Pengendara mega di belakang Jelihim. Petir menyambar diatas kepalanya. Jelihim melesat menangkap ekor petir. Bersekutu dengan para pengendara petir. Memanggil pengendara-pengendara angin, badai, topan, yang selama ini menjadi boneka-boneka langit.

    Mereka melesat ke pendopo langit. Para pejaga lagit mengangkang menghadapi. Berkumpul di satu sudut langit. Perisai kaca dan pentungan baja yang dipanggang di matahari. Dibawah satu seruan Jelihim, mereka mendesak di dua Sayap. Pertempuran besar tak terelakkan. Jelihim merengsek ke dalam. Uap panas mengumpul di perut jelihim. Uap dingin di dada naik melesak. Dua belah tangan Jelihim di satukan. Jelihim memusatkan serangan ke satu kaki langit.

    Tak ada yang dapat memastikan apakah kekuatan itu berupa padatan atau bukan. Kekuatan itu melesat. Ratusan penjaga langit menghindari angin panas dingin itu. Hawa berputar-putar. Ratusan tubuh mencelat menghindar menjauh. Kekuatan itu terus menghantam, ke kaki langit.

    "BLARRRRRRRR!"

    Langit geger termiring ke sudut-sudut bumi. Patah, jatuh dan Hilang kaki langit. Melesat ke dalaman samudera di bumi. Pengawal langit mencak-mencak. Dewa-dewa keluar istana. Mencari-cari sumber kejadian.

    Dewa Perang Langit paling duluan tiba. Tidurnya terganggu. Selama ini dia berkuasa dengan tenang dengan dua kekuasaan.

    Melihat siapa pengacau, Dia mencabut tombak perangnya. "Kurang ajar, kuhancurkan tempurung kepalamu pengacau ketentraman langit!"

    Tombak perang melesat ke arah Jelihim. "Tak ada pilihan kecuali mati di sambarnyawe-ku ini.Akhirnya kau makan lagi, Tombak Sambarnyawe, ha ha ha,... Matilah!"

    "Tahan!" Teriak Jelihim melihat pendatang baru itu.

    Jelihim sempat mengelak. Tak urung mukanya tergores sinar tombak, tak berdarah lagi. Goresan itu gosong.

    Yang disergah mendelik tajam. "Siapa Engkau, hai bocah pengganggu. Tak urung Dewa Perang terkesiap melihat ada anak manusia yang mampu menghindari serangannya. "Siapa pun engkau tak tak ada hidup untuk perusak kaki langit."

    "Aku Jelihim. Karena kalian tak segan merusak bumi, maka aku merasa tak bersalah merusak langit. Dan Bukan salahku karena sambutan langit teramat sombong!" Balas Jelihim tegas. "Guntur, bayu, bianglala, mega, dan semuanya di sini yang bukan penghuni kerajaan langit. Kita saksikan bersama betapa sombongnya sambutan langit ketika ada permasalahan di bumi!"

    "Banyak cakap!" Maki Dewa Perang Langit.

    "Bebal! Tongop!" Jelihim menggeradak.

    Dewa Perang menghunuskan tombaknya. Jelihim menghindar ke sudut langit lain, berbaling di tiang-tiang langit. Matanya merah. Memaki-maki dalam hati. Di tengah kancah, bayu, guntur, awaan, bainglala, bertempur sebentar dengan pasukan penjaga langit. Lalu satu persatu pergi ke megag-megag. Dunia batas bumi dan langit. Ooo, Jelihim seorangan.

    Bola api berpendar-pendar. Bunga api memercik-mercik. Hawa nafsu menari-nari.

    ***


    Masih terasa getaran itu dari megag-megag. Dentuman di Bumi dan di langit menggetarkan. Bayu, Guntur, Bianglala, mega berhenti melayang. "Kita kemana?"

    "Menjauhi semuanya."

    "Ya."

    "Tapi mengapa?"

    "Mengapa bagaimana?"

    "Mengapa harus lari?"

    "Keributan itu adalah persoalan langit dan bumi."

    "Lupakah kita, bahwa kita diantaranya."

    "Satu hancur, semua juga tak akan benar."

    "Jadi?"

    "Kita bantu Jelihim."

    "Ke langit lagi?"

    "Tak harus. Mega dan bianglala ke Kute Mati. Coba kalian redamkan pertempuran dengan perubahan cuaca."

    "Tapi itu penipuan. Kau pikir perang itu cukup pada Jelihim saja?"

    "Baiklah. Kita ikut berperang, kita biarkan semuanya berperang."

    "Sampai kebenaran itu datang."

    Mereka melesat ke arah berlawanan.

    ***


    Benturan antara tenaga Jelihim dan Tombak Sambar Nyawe Dewa Perang Langit semakin dahyat. Keduanya basah berpeluh. Berisan-barisan penjaga langit mengepung keduanya berkeliling.

    "Jelihim, kami datang!" Teriak Guntur dan Bayu. Jelihim hanya sempat menoleh sekilas. Ujung landap Sambar Nyawe hampir saja membakar tubuhnya. Dua sosok kawannya pun langsung terkurung barisan yang memecah.

    "Apa yang kalian bela?!" Teriak Jelihim di sela seliweran serangan.

    "Yang Kalah, ha ha ha,..."

    Tak urung Jelihim turut terbahak, sambil melihat ke atas. Tak mau tawanya menghadap langit. Dewa aperang semakin beringas. Nafsunya memburu, marah. Dan tak habis pikir.

    "Semuanya berhenti!" Terdengar seruan pelan. Semua menghentikan gerakan. Tak urung membuat Jelihim terheran. "Suara siapa gerangan, sebegitu mempengaruhi mahluk-mahluk bebal ini?"

    "Hormat Raja Langit." Suara Dewa Perang Langit. Dan semua pasukan penjaga langit bersuara serupa serempak. "Hormat Raja Langit."

    "Hentikan persengketaan ini, aku ingin berbicara dengan anak manusia ini." Raja langit itu melambaikan tangan ke Jelihim. Dan Jelihim dengan setengah sadar menuju dia.

    "Mengapa sampai kau ke sini?"

    "Sebelumnya, maaf. Benarkah engkau Raja Langit, Bapak?"

    Dia menangguk.

    "Lalu gerangan mengapa sampai tak tau permasalahan di bumi yang akan kukhabarkan ke sini?" Jelihim bertanya heran, sambil menghapus peluh dengan lengan baju belacunya.

    "Ha ha ha,...baik kalau kau ingin bertemu dengan indok-ramemu di aras. Kupersilahkan Engkau. Carilah. Tapi apakah kau tahu siapa mereka?"

    "Engkau yang tahu, Bapak. Maka engkau pula yang menunjukkan."

    ***


    Bab IX - Kematian


    "Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan, wahai Rame dewa. Andaikan aku boleh membunuh Rentasan,... maka aku lakukan itu.

    "Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Pemberi hidup, kecuali dengan alasan yang benar," Nasihat dari langit.

    "Lalu bagaimana pilihan harus kutempuh ?"

    Terlalu sulit menggambarkan obrolan khayali Jelihim dan penguasa langit.Hanya mampu tergambar kembali dengan sisa-sisa kekuatan pengandai-andai bahwa langit bercerita Jelihim dan Rentasan adalah saudara kandung di langit. Dari indok dan rame dewa yang sama.

    Jelihim mempertanyakan bagaimana dia harus mematikan Rentasan. Mengingat dia belum pernah membunuh sebelumnya. Dan musuh ini bukanlah musuh biasa.

    Pengadai-andai menceritakan Jelihim pesan untuk mengiris 'sesuatu' Rentasan. Dan harus dihidupkan lagi, dengan mencukur tiga jalur.


    * * *

    Jelihim melesat ke bumi. Selendang berlaga dengan kuduk. Jelihim masuk ke selendang. Tubuhnya dikerubungi libasan kuduk.

    Jelihim menghindar-hindar. Dia teringat satu rumpun buluh di dekat kute mati. Menghindar untuk bersiasat bukanlah pengecut. Tubuh kuyuhnya menghindar-hindar, selendang berkibas-kibas, menyelaputi bayangan tubuh.

    Jelihim terbang menjauh, tubuh rentasan mengejar. Pukulan demi pukulan beruntun dari belakang. Jelihim terbang serupa gasing. Menghindari tabrakan dengan batu-batu raksasa sekaligus menghindari serangan di belakang punggung.

    Rumpun bambu di depan muka. Jelihim mempercepat langkahnya, tubuhnya melayang dari debu ke debu. Rentasan menghentakkan tenaga yang tersimpan. Bayangan tepat di kepala Jelihim. Serangan berasal dari arah yang sama. Hawa panas tangan Rentasan membekukan isi kepala Jelihim.

    Selang waktu sejenak saja, dapat menghancurkan isi kepala Jelihim. laki-laki itu menahan kepalanya dengan kibasan telapak tangan dua belas kali di atas ubun-ubun kembarnya.

    Tak urung tenaga dari atas membuatnya terguling-guling. Jelihim melanjutkan gulingan menghindari kilatan bola api dari tangan Rentasan. Jelihim memang tak lebih lemah dari Rentasan. Tapi dia tak bisa membunuh Rentasan.

    Tubuh lelaki Jelihim bergulingan terus ke rumpun bambu. Daunnya telah gugur terpanggang oleh tangan Rentasan. Burung sirna sarangnya.

    Hanya beberapa batang yang utuh, yang lain roboh melapuk mengikuti kejatuhan daun. Jelihim menyambar dan memotongnya dengan ujung kuku, membuat sembilu.

    Jelihim menahan-nahan kuduk dengan bilah sembilu. Jelihim kewalahan. Sembilunya tak lebih sakti. Tebasan kuduk mengancamnya. Jelhim merendahkan bahu. Sembilu menyerang arah pusar.

    Berhasil, baju Rentasan tersobek. Tapi pusarnya tak tergores sedikitpun. Rentasan terbahak, mentertawakan kelucuan gerakan sembilu,...

    Srettt,

    Jelihim memotong ujung jari telunjuk Rentasan. Kelengahan itu harus dibayar mahal. Satu buku jari telunjuk putus. Rentasan tertegun, mukanya merah menahan marah. Kuduknya mengacung ke atas, membuat gerakan menebas ke Jelihim yang tertegun tepat sebahu di muka Rentasan.

    Tak ada kesempatan berlari, bukan kesempatan tapi kemampuan Jelihim hilang, kaku dia melihat darah mengucur,...

    "Aahhhhhhkk,..."

    Rentasan tersungkur, hilang kekuatannya terpotong sembilu.

    * * *


    Dan orang-orang berhenti berlaga.


    * * *


    Bab X - Ujung Tak Putus


    Khabar itu terbawa angin sejuk yang berhembus di seluruh negeri. Negeri dipimpin sementara oleh pendamping Rentasan selama ini. Kehidupan negeri menjadi lucu sedikit, tetapi cukup baik untuk mengikis keistimewaan peran pemimpin negeri. Satu kute paling kecil lepas terpisah.

    Rakyat di yang tiggal kute-kute Utara bergembira, mereka mematok lahan-lahan Rentasan di utara. "Ini lahan kami sendiri !" Teriak mereka dengan ikat-ikat kepala merah. "Rentasan merampasnya dari kami empat windu lalu."

    Padang penggembalaan Rentasan dicangkuli, ditanam umbi-umbian. Kebun kelapa, istana, taman peristirahatan, pemancingan, yang semuanya pernah dikuasai Rentasan luluh lantak. Dihantam pacul, ditebar biji-biji, umbi-umbi. Berhadapan dengan bugundal-begundal Rentasan.

    Rakyat utara mengadakan ruwatan rakyat. Panen yang hilang empat windu dirayakan. Tari tanggai, andai-andai, gamalan. Musim kebebasan, musim kawin pula.

    Musim kawin bukan hanya milik manusia. Orang-orang tak bisa tidur bermalam-malam. Anjing-kucing bergelut ramai. Hari ke hari, minggu ke minggu, bulan ke bulan. Kegembiraan berlebih ini lama-lama,pelampiasan kekecewaan yang menumpuk dan terbakar selayaknya jerami kering di musim panas. Kegembiraan meluap keseluruh negeri. Padahal pertarungan baru usai, bertahun lamanya pertarungan Jelihim-Rentasan berlangsung. Sejak perebutan dewan kute.

    Saat itu Bertebaran manusia-manusia yang mengaku berpihak kepada rakyat negeri. Pemilihan pengusa sementara berlangsung. Pemilihan ini sejujur-jujurnya bunyi mulut ke mulut. Dipantau oleh beragam kelompok pemantau yang berdiri sendiri. Rakyat di sibukkan dengan empat puluh delapan calon pengganti.

    Negeri disibukkan dengan pemilihan. Sekalipun banyak kelompok yang menolak pemilihan tanpa pemulihan terlebih dulu itu. Pemilihan berlangsung saja.

    Negeri berwarna-warna. Merah-kuning-hijau dibumi yang buram. Merah kain dan darah, api menyebar di beberapa titik. Hijau kain dan lumut di koreng-koreng memborok. Kuning di kain dan kotoran. Buram, semuanya buram, Semua disibukkan kekuasaan. Oh, betapa kebaikan itu setengah hati,... Serta warna-warna lain, apalah guna menyalahkan warna, apalah berkat menyalakan warna, apalah salah menggores warna....

    Dan terpilih seorang ratu yang dipercaya sebagai si Adil. Tapi kemudian yang menjadi pemimpin si segala tahu yang amat sakti. Ternyata peraturan pemilihan bukan memilih pemimpin, tetapi wakil rakyat kute. Merekalah yang mencarikan pemimpin negeri.

    * * *


    Jelihim masih saja, terduduk. Sang Kemare Redendam membawakan sajak-sajak bidadari. Jelihim rengko dalam. Tapi dia memandang awang-awang. Bidadarinya di atas langit. "Kutunggu sore nanti, ditelaga," Bisik Jelihim tersenyum.

    Betina tersipu di balik awan.

    Tubuh Rentasan masih berdiri mematung. Mati. Tidak jatuh. Kakinya tertancap ke tanah sepaha. Tubuh itu merunduk ke depan. Rambut seperti bujangan tak mandi semusim tugal. Awut-awutan, penuh debu.

    Jelihim ke arahnya, mencabut tubuh Rentasan, merebahkannya di tanah.

    Sungguh jika ada pilihan lain, tak akan dibunuhnya Rentasan, saudara kandungnya di alam lain. "Tak ada musuhmu yang manusia, wahai Anak Jelihim3," Jelihim terngiang kata-kata Siamak. Orang tua yang menemukannya di atas bambu.

    "Lalu siapakah musuhku ?" Jelihim terngiang pertanyaannya ketika berlatih silat.

    "Pikirannya. Musuhi pikirannya." Tegas pelan Siamak.


    * * *

    Jelihim masih terduduk. Mengasoh? Memikirkan apakah akan menguburkan Rentasan, atau dikirim ke kute Utara, Saja. Angin masih pelan, sisa-sisa peperangan terhampar di lapangan. Karang menjadi kawah. Ayam jago Rentasan diam tak bergerak. Bulu tercerabut di atas kepala. Jengger merah semakin merah. Merah pucat.

    Entah jago itu mati, atau pingsan. Diselubungi bulu bertebaran di tepi kawah. Kuduk Rentasan terlempar jauh di seberang kawah.

    Dari langit terbang lagi Sang Kemare, yang belum sampai ke langit. Ada yang datang, ke arah medan pertempuran.

    Jelihim sudah menangkap getaran itu. Tiga sosok berjalan gontai. Perempuan muda dan dua anak-anak.

    Jelihim melesat ke arah tiga bayangan itu. "Apakah yang membuat kalian tersesat ke kute mati ini."

    "Apakah Bapak kami masih hidup." Suara anak-anak mendahului perempuan itu.

    Tersadarlah, Jelihim bahwa ketiganya adalah istri sah Rentasan.

    "Bapak kalian telah mati,…" Ucap Jelihim pelan ke anak-anak dan perempuan muda. Jelihim menyesal tak mampu membahasakannya ke lain lebih halus. Ucapan itu tak sempat selesai, terpotong sesegukan ketiganya.

    Jelihim menunduk, melangkah membimbing ketiganya ke tubuh mati Rentasan. Makin keraslah sesegukan itu.

    "Tuan," Perempuan muda bersuara.

    Jelihim menoleh. Menatap wajah sedih perempuan di hadapannya.

    "Tuan bisakah kau hidupkan lagi suamiku. "

    Jelihim tak menjawab langsung. Pikirannya berputar pada rakyat di tujuh kute Utara. Kudeta dewan marga, empat windu yang lalu. Fitnah bertebaran terhadap dewan marga seiring kemarau panjang yang ditangkap orang-orang pintar sebagai isyarat bencana berkepanjangan. Aroma busuk fitnah bertebaran sejauh bunga ilalang terbang. Tumbuh berkembang di sembarang tempat.

    Didahului dengan tetua-tetua yang melihat bintang berekor jatuh. Keruntuhan penguasa yang dicintai rakyatnya tergambar di sana. Bangkai di sungai-sungai, manusia mati di hutan-hutan. Oalah, siapa yang membenarkan pembunuhan.

    Terlalu lama semua berjalan. Apakah salah memiliki dendam, Wahai Rentasan ? Adakah salah berpilih arif ?

    Perampok telah mati. Kekuasaan itu hancur luluh. Semua mungkin hancur, nol. "Tapi, mereka masih banyak ?" Pikir Jelihim. Tak Rentasan seorang.

    * * *


    "Tuan,..." Suara itu berulang lagi.

    "Maaf,... Aku tak mampu memberi hidup," Jelihim menolak. Sang Kemare melesat, membawa pesan dari langit "Jelihim, bukan kau penentu hidup-mati, tapi kau tak bisa beringkar janji."

    Jelihim tersedak. Malu, teguran dari langit tak mampu membuat lari.

    Lama Jelihim menentukan pilihan. Khabar bertebar secepat angin. Semua rakyat seluruh kute utara dan kute sempalan, pun telah hadir. Berbondong, beriringan. Membawa panji dan peringatan, tuntutan bahwa hukuman itu selayaknya bagi penjahat. Mereka berhadapan dengan sisa-sisa kekuatan Rentasan. Peperangan demi peperangan kecil terjadi.

    Kereta-kereta lembu. Lembu-lembu tanpa kereta. Orang-orang dengan buntalan bekal. Perempuan, pemuda, tetua, sesepuh, semuanya,..."Jangan hidupkan! Biarkan pengadilan rakyat!" Teriak mereka bersama.

    Semua merengsek ke arah mayat Rentasan. Jelihim menahan dengan sorot matanya.

    Rakyat seluruh kute mengepalkan tangan. Pembakaran sisa-sisa kayu di mana-mana. Dinding batu penuh coretan. "Hancurkan Rentasan!" Teriak mereka lagi.

    Orang-orang berikat kepala. Orang-orang berkerudung putih. Orang-orang membawa pacul, membawa palu, membawa arit. Orang-orang membawa kitab suci.

    Istri dan anak Rentasan di seret-seret. Jelihim mengamankan jika berlebihan. Jelihim tak kunjung memberi keputusan terakhir. Mayat Rentasan di situ saja. Tak bergerak barang segerak. Rambutnya menjuntai memanjang. Tak ada yang berubah selain rambut. Tak juga membusuk.

    Mereka menungu bermusim-musim. Arena pertemuan berlumut, memecah, basah, kerontang. Orang-orang berjanggut-janggut, kulit muka berkerak-kerak,...Oh betapa lama penantian.

    Jelihim menoleh menebarkan pendangannya, semua membalas dalam ketaksabaran. "Aku tak boleh membunhnya, tidak juga kita. Sebenarnya dia hanya mati sura. Aku hanya berhak mematikannya sementara. Tapi sesuai janji, bahwa dia akan hidup lagi.

    Hanya kita harus memberikan hukuman penyadaran untuknya. Terserah ke langit menuntun apakah dia akan kembali sadar. Tak harus dia mati, tapi cukup tanda kekalahan. Tanah-tanah di kute kalian, berbagilah dengan adil. Karena tanah, sawah, hutan dan bukit-bukit sesungguhnya milik kalian bersama."

    Jelihim mengabarkan pesan dari langit ketika dia meminta izin mematikan Rentasan. Maka Jelihim menggunting rambut Rentasan tiga juhai, tiga jalur. Jelihim memoles kulit kepala tersebut dengan ramuan sakti. Meresap ke akar rambut, mematikan rambut di tiga jalur itu. Sebagai tanda kekalahan.

    Jelihim memetik tiga helai daun selasih ulung membacakan ucap-ucap Selasih ulung untuk ujung jari telunjuk Rentasan di buluh mike (tanah tumbuh), "Hak hu meriang merindu ati, tidur tiade hede lagi, makan tiade kenyang lagi, mikirka adingku Rentasan si jantung ati," Artinya kira-kira, Hak hu meriang merindu hati, tidur tiada redah lagi, makan tiada kenyang lagi. Mikirkan adikku Rentasan si Jantung Hati.

    Orang-orang menunggu dengan tidak sabar. Orang-orang menanti tidak puas. Mahluk di bumi menunggu kesangsian.

    Rentasan dengan lemah bangkit.

    Orang-orang menjauh dengan rupa beragam macam.


    * * *


    baca selengkapnya..

    Mimpi-mimpi Nietzsche

    Mimpi-mimpi Nietzsche
    Novel Surgana

    Break

    Manusia Adikuasa pada bulan Januari tahun 1883 terlahir di tepi sungai, di bawah tekanan cuaca dingin yang membekukan. Hujan deras turun sejak pagi, matahari tak sempat menampakkan diri karena awan hitam terus menyelubungi langit. Dalam cuaca dingin seperti itu, tak ada tempat yang paling menyenangkan selain kamar yang hangat, terlindung dari hujan dan dingin. Tetapi rumah yang ada di tepi sungai itu tak cukup untuk menghangatkan badan. Dia, meski kondisi tubuhnya sudah rapuh, tetap bertahan dalam cuaca dingin di dalam rumahnya. Kerapuhan tubuhnya telah mengakibatkan dirinya hilang ingatan, dan berkali-kali masuk rumah sakit. Setelah sembuh dia langsung menulis. Karena menulis baginya adalah terapi untuk penyembuhan jiwanya. Dan pada saat hujan menderas mengguyur bumi, dia mampu melahirkan Ubermensch. Sosok yang lahir dengan selamat dalam keadaan dirinya yang sedang sakit. Bahkan konon kabarnya karya Ubermensch-nyalah yang membuatnya bugar, memiliki keseimbangan, dan memberinya usia yang lebih panjang.




    Prolog

    Warna langit yang gelap, matahari dijerat oleh kemelut awan bergumpal-gumpal yang dibawa oleh angin dingin, membekukan seluruh lintasan yang dilaluinya dan bila manusia yang merasakannya badan yang dialiri darah itu terasa beku, dingin menyayat saraf. Kadang deru angin itu terdengar kencang, menyeret rerumputan kering, ranting-ranting pohon bahkan atap rumah ke angkasa, tanpa arah dan tanpa tujuan. Berputar di udara hingga angin mereda. Tungku perapian hampir tak bisa difungsikan. Angin terlalu kencang, menerobos celah-celah dalam rumah. Menebarkan gigil dingin ke sekujur badan.

    Suram dan gelap di ruangan itu. Seorang yang sakit tersandar di kursinya yang sudah tua dan rapuh. Menatap langit-langit ruangannya yang sempit. Tidak mempedulikan terpaan angin dingin yang menerobos celah-celah di atas jendela dan pintu rumahnya. Tangannya mengisap rokok buatan Gudang Garam dari Kediri. Sesekali tangannya menggapai-gapai, menghapus asap. Kemudian jatuh kembali ke sisi tubuhnya yang lunglai. Asap rokok itu mengepul ke udara, berwarna putih menyelubungi kegelapan yang pekat di ruang hampa yang dingin. Lampu minyak berkedip-kedip hendak padam, tapi tak juga padam. Sinarnya remang di sore hari yang masih jauh untuk disebut malam. Jam di tangannya menunjukkan angka tiga. Masih jauh dari senja tapi kegelapan sudah merambat ke seluruh ruangan itu.

    Helaan nafasnya terdengar seperti keluhan sorang yang sedang membawa beban yang sangat berat. Ia terus mengisap rokok Gudang Garamnya. Tak jauh dari tempatnya duduk, sebuah meja tua dari kayu saman, di atasnya terserak lembaran-lembaran kertas yang tak selesai. Sebuah mesin ketik tua yang sudah rapuh dan bunyinya sangat keras bila sedang dipakai menunggunya untuk digunakan. Menyelesaikan sebuah cerita. Tetapi ia belum menemukan plot yang pantas untuk ceritanya itu. Ide sudah mendesaknya untuk menekan tuts mesin ketik itu. Masih ada yang belum lengkap, itulah yang membuatnya tetap berdiam diri di atas kursinya. Mengisap rokok sepuasnya. Ruangan yang gelap itu berubah warna dan aromanya. Asap putih terus mengepul dari bibirnya, membuat warna baru bagi ruangan itu dan bau tembakau terasa menyengat bagi yang tak terbiasa dengan asap rokok.

    Jarum jam di tangannya sudah menunjuk angka lima. Dua jam berlalu, tanpa ada perubahan. Ia masih tetap menunggu. Rokoknya sudah habis. Puntung-puntung rokok tertumpuk dalam asbak gelas bekas kopi.

    Dia akan segera lahir. Wajahnya berubah menegang, giginya terdengar gemeretak. Tangannya dikepalkan, kakinya ditendangkan ke depan. Tubuhnya meregang. Helaan nafas terdengar lebih keras dari yang pertama. Sesuatu sudah masuk dalam kepalanya. Ia berdiri. Esok semuanya harus sudah selesai. Dia harus sudah lahir dan menjadi hantu yang menakutkan yang terus gentayangan di muka bumi, tetapi dikenang sepanjang jaman. Bahkan setelah ia mati sekali pun. "Ubermensch".

    Kertas yang terserak di atas meja ia singkirkan semuanya. Tinggal geletak mesin ketik tuanya yang ada di atas meja. Lampu minyak sinarnya diperbesar. Bergoyang-goyang diterjang angin. Ia mengambil satu rim kuarto yang tertata di rak buku, tak jauh dari meja. Satu kertas dimasukkan kedalam as mesin ketik. "Pletak" bunyi itu terdengar sangat nyaring dalam cuaca dingin dengan deru angin yang kencang. Ia terus menekan tuts mesin ketiknya, bunyi "pletak-pletuk" berulang beberapa kali. Suara itu berhenti untuk waktu yang cukup lama, lima belas menit. Ia mendesah, matanya terpaku ke atas kertas yang sudah merangkai tiga kata, "Manusia Adikuasa Lahir". Setelah lima belas menit berlalu. Suara mesin ketik tua itu mengalun lancar. Kata demi kata tercetak dengan rapi di atas kertas kuwarto putih. Kalimat-kalimat yang akan menjadi ispirasi di jaman yang ia sendiri mungkin sudah mati.

    Sinar lampu minyak yang bergoyang diterpa angin tak membuatnya berhenti menekan tuts mesin ketiknya. Bahkan ia tak lagi melihat tuts mesin ketik maupun lembaran kertasnya. Hanya bla ia mendengar sebuah ketukan panjang dari mesin ketik itu, ia akan berhenti dan segera mengganti kertas. Terus bekerja tanpa peduli pada ruang dan waktu yang semakin lama semakin tidak bersahabat dengan tubuhnya yang sakit. Sesekali terdengar desahan nafasnya.

    Di luar sudah gelap. Gelap yang sesungguhnya, malam merayap kekedalamannya yang paling gelap, sunyi mencekam dan menakutkan diiringi deru angin yang membawa gerimis dari ujung langit, menebarkan udara dingin yang membekukkan tubuh. Ia tetap menekan tuts mesin ketiknya. Tak boleh berhenti bahkan sampai pagi. Manusia Adikuasa akan lahir dan tidak boleh dibiarkan menggantung di rahim pikiran. Dia harus segera keluar ke atas kertas dan menjelma menjadi bayangan atau bahkan hantu bagi siapa pun yang membacanya. Ia tak memikirkan apapun selain keinginannya yang kuat untuk segera melahirkan "Ubermensch".

    Ia sakit, tapi ia tak ingin mengatakan kesakitannya dalam tulisannya itu. Ia ingin mengatakan bahwa ada Manusia Adikuasa yang mampu melakukan segalanya dan tidak pernah mati karena melakukan apapun. Memberikan penjelasan tentang hidup dan mati yang sering dihadapi oleh setiap manusia biasa. Mengatakan kepada seluruh umat manusia bahwa seluruh manusia yang lahir di muka bumi ini dapat menjadi manusia adikuasa yang tak mengenal mati dan tak mengenal derita dalam hidupnya. Mati dan derita yang biasa dialami oleh manusia biasa.

    Drama keabadian dimulai dari sini. Di hadapan matahari dan bulan dan malam dan siang dan langit dan bumi dan KAU. Orang-orang tercinta yang hidup dan mati demi dan karena cinta.

    5 Februari Tahun 1883

    Untuk pertama kalinya Ubermensch tampil di hadapan publik, dia mendapat masalah. Semua orang menertawakan apa yang dia katakan pada mereka. Semua tidak percaya bahwa dia adalah manusia yang tanpa Tuhan yang mampu hidup lebih baik dari manusia-manusia bertuhan. Berbagai kecaman dia dengan santai sambil tetap bertahan pada pendiriannya sebagai Ubermensch yang menyebarkan keabadian. Meski dirinya tidak diterima oleh publik pertamanya, dia meyakini satu hal, dunia ini tak sesempit pandangan mata. Ada dunia lain yang sangat membutuhkan kehadirannya. Akhirnya dia mengungsikan diri di sebuah pulau dan menulis pesan-pesan keabadiannya.

    Buku yang ditulisnya langsung mendapatkan sambutan luas di dunia. Banyak yang mengaguminya dan lebih banyak lagi yang mengutuknya. Tulisan-tulisan Ubermensch dianggap berbahaya. Meski demikian dia tetap bertahan pada misinya menyebarkan keabadian bagi seluruh umat manusia untuk hidup tanpa derita.

    Para penguasa dari timur hingga ke barat menyepakati untuk menghukum dengan menghalalkan darahnya. Membunuhnya adalah pahala yang tak terhingga di hadapan tuhan. Mereka membuat saembara yang menghebohkan seluruh dunia. Darah Ubermensch halal. Orang yang berhasil membunuhnya akan mendapatkan penghargaan "Award of Theis" dan tiket ke surga Firdaus. Sebuah penghargaan yang diberikan oleh lembaga masyarakat pemimpin agama sedunia.

    Ayatullah Khomaeni dari Republik Islam Iran menjanjikan pada orang yang berhasil membunuhnya sebuah istana megah di pusat kota Iran lengkap dengan isinya. Dari halaman yang luas dengan taman bunganya, ruang tamu dengan berbagai lukisan terkenal, kamar tidur bersama perempuan-perempuan cantiknya, calon istri bagi si pemenang. Hingga dapur yang sudah dilengkapi dengan para koki internasional. Syaratnya satu memusnahkan "Ubermensch".

    Paulus pemimpin agama Masehi sedunia pun mengutuk tulisan-tulisan Ubermensch yang dianggap sebagai penyebar bid'ah. Vatikan mengeluarkan keputusan untuk memberikan imbalan hidup makmur bagi siapapun yang berhasil membunuh "Ubermensch". Demikian pula yang dilakukan oleh penguasa India. Hindu dan Budha menyetujui pembunuhan atas "Ubermensch" dan Ghandi akan menghadiahi orang yang berhasil membunuhnya dengan "Taj Mahal", warisan budaya yang tersisa di India.

    Tetapi di Indonesia, banyak orang yang mengagumi tulisan-tulisan Ubermensch. Dia menjadi idola seluruh anak muda. Meski hanya melalui buku-buku Ubermensch yang mereka baca dan melalui berita tentang Ubermensch, mereka yakin apa yang dicari selama ini. Orang yang dinantikan sudah lahir dan akan datang menolong mereka. Selama ini masyarakat Indonesia hanya mendapatkan derita. Pertikaian demi pertikaian tidak pernah usai, hidup diantara kumpulan para pemimpin yang serakah dan pongah. Keadilan sama sekali diabaikan. Rakyat semakin hari semakin kelaparan. Para pengemis berbaris di sepanjang jalan. Lampu merah menjadi tempat perkumpulan pengemis dan orang cacat.

    Negara seperti tidak bertanggungjawab pada kenyataan kemiskinan yang melanda. Undang-undang tinggal undang-undang, orang cacat tidak dirawat, anak-anak terlantar di jalanan. Sementara para penguasa ribut memperebutkan kekuasaan dan membagi-bagi kue diantara teman dan sejawat. Rakyat tetap melarat. Negeri kaya yang membawa sengsara bagi rakyatnya.

    Derita rakyat telah membuka mata generasi baru di Indonesia. Ketika mendengar berita tentang Ubermensch, mereka langsung memburu buku-buku yang ditulis oleh orang Jerman itu. Orang-orang yang dikutuk adalah pemimpin yang dinantikan yang akan menyelamatkan negeri ini. Doktrin itu sudah meresap dikalangan generasi baru Indonesia. Ubermensch dikutuk, Ubermensch dinantikan.

    Generasi baru di negara kaya ini sangat mengagumi keberanian Ubermensch dalam mengambil sikap tegas perjuangannya, merubah kesadaran manusia biasa menjadi manusia luarbiasa. Banyak hal yang membuat mereka kagum peda Ubermensch. Selain itu mungkin sudah budaya dari negeri seribu pulau ini, segala sesuatu yang berabu asing dipuja dan dijunjung serta dijadikan pegangan dalam bertindak. Menjadi trend hidup.

    Selama ini yang datang ke Indonesia hanya para artis dari Amerika atau negeri Barat yang lain yang melakukan tur, menjajakan kaset populer yang sangat digemari oleh hampir seluruh anak remaja di sini. Semuanya diterima dengan segala kemurahan hati orang-orang miskin. Hidup dalam hutang bukan menjadi penghalang untuk terus mendatangkan artis-artis dunia guna menghibur duka lara yang mendera. Biaya mahal tidak jadi soal. Duit habis bisa menghutang lagi. Toh negeri ini sangat kaya sumber daya alamnya. Budaya konsumtif yang menjerat generasi muda negeri ini ternyata tidak semuanya negatif. Mereka dapat memilih dan memilah yang mereka butuhkan. Saat mendengar berita Ubermensch, buku-buku yang ditulis oleh Ubermensch dalam pengasingannya dan yang ditulis oleh orang lain tentang tokoh yang satu ini laris manis di negeri ini. Mereka menantikan kedatangannya.

    Indonesia negara berkembang yang tak pernah berhasil berbuah. Hanya berkembang, kemudian kembang itu berguguran ditangan manusia biasa. Bukan Ubermensch. Itulah sebabanya, orang Indonesia yang mengagumi Ubermensch menantikan kedatangan Ubermensch ke negeri ini. Ada harapan yang menggantung dalam angan setiap pengagum Ubermensch. Mereka berharap orang Jerman itu akan membuat Indonesia bukan hanya berkembang tetapi juga berbuah. Buah yang manis dan lezat yang dinikmati oleh anak bangsa yang terus berjuang menghidupkan arti cinta dan kedamaian dinegeri pertikaian api ini.

    Kelompok pengagum Ubermensch ini kemudian mendirikan sebuah organisasi "New Age" yang mengakui kebenaran ajaran Ubermensch. Dipimpin oleh seorang yang mampu memadukan berbagai agama di dunia menjadi sebuah kesadaran utuh bagi para pengikutnya. Sebuah pernyataan resmi dibuat. Menolak tuntutan membunuh Ubermensch. Surat pernyataan itu dikirimkan ke seluruh penjuru dunia.

    Pemimpin organisasi ini memastikan surat pernyataan itu dikirim ke berbagai dunia melalui berbagai media. Siaran pers dilakukan secara tertutup, untuk hari pertama pernyataan membela Ubermensch. Surat-surat resmi dikirimkan ke berbagai negara. Dan surat elektrik pun menjadi sarana untuk menyampaikan berita spektakuler itu. Hari berikutnya pemimpin New Age melakukan siaran pers terbuka. Seluruh rakyat Indonesia mendengar pernyataannya yang dibacakan di depan puluhan kamera televisi baik milik swasta maupun milik pemerintah, yang laur maupun yang dalam. Wartawan CNN ikut hadir dalam siaran pers itu dan langsung merilay siaran tersebut di Amerika. Demikian pula dengan siaran-siaran televisi dunia yang lainnya.

    Berita besar. Sekelompok masyarakat kecil berkumpul menentang kebijakan dunia. Menentang pembunuhan atas Ubermensch. Nama pemimpin New Age langsung melejit, dibicarakan oleh orang diseluruh dunia. Bahkan PBB melakukan pertemuan khusus guna membahas penentangan organisasi New Age atas kebijakan bersama, menghalalkan darah Ubermensch. Pemerintah Indonesia dikecam oleh PBB, agar segera menghentikan kekonyolan yang dilakukan oleh kelompok yang menamakan dirinya New Age.

    Dalam pertemuan tingkat dunia PBB mengambil keputusan untuk menekan Indonesia agar menghentikan kamapanye New Age dalam pembelaan atas Ubermensch. Ada tujuh alasan untuk menghentikan kampanye pembelaan Ubermensch.

    Pertama, Ubermensch berbahaya karena mengancam Tuhan. Kedua, Ubermensch berbahaya karena merusak tata nilai yang sudah baku yang sifatnya universal. Ketiga, Ubermensch berbahaya karena akan merusak struktur pikiran masyarakat. Keempat, Ubermensch berbahaya karena mengakibatkan sikap nihilisme di kalangan masyarakat. Kelima, Ubermensch mengakibatkan pemberontakan rakyat jelata. Keenam Ubermensch menghancurkan kesadaran bertuhan, kesadaran akan kekuasaan. Ketujuh, Ubermensch mengakibatkan runtuhnya lembaga-lembaga keagamaan yang sudah baku. Mengancam Vatikan, Paulus, persatuan Gereja sedunia, persatuan Darma sedunia, persatuan masyarakat Islam sedunia dan persatuan-persatuan keagamaan yang lainnya.

    Kecaman PBB serta negara-negara lain di dunia membuahkan hasil. Hubungan luar negeri Indonesia kacau. Pemerintah Gus Dur kewalahan mengatasi masalah ini. Dia harus melanglang buana untuk menyelesaikan masalah pernyataan terbuka organisasi New Age. Baru satu bulan diangkat menjadi Presiden, Gus Dur sudah mengelilingi lima negara yang paling berpengaruh di dunia. Amerika, negeri paman Sam. Inggris, negeri Elizabeth. China, negeri komik Chinmi. Rusia, negeri mantan rezim komunis. Dan terakhir mengunjungi Ayatullah Khumaeni di Iran. Kunjungan-kunjungan itu dilakukan dengan satu misi meredakan kesalah pahaman. Menepis issu bahwa Indonesia membangkang dunia berkaitan dengan penghalalan darah Ubermensch.

    Kunjungan kenegaraan itu mendapat sorotan dari publik. Masyarakat pers dunia mempertanyakan kunjungan-kunjungan Gus Dur tersebut. Berbagai issu bermunculan seputar keliling dunia yang dilakukan oleh presiden yang baru satu bulan dilantik. Semua issu tersebut ditepis oleh presiden dengan satu jawaban "gitu aja kok repot". Untuk apa merepotkan hal-hal kecil bila masih ada hal-hal besar yang bisa merepotkan. Bagi orang nomor satu di Indonesia ini, masalah pernyataan terbuka organisasi New Age adalah masalah besar yang sangat merepotkan dan harus segera diselesaikan. Bantuan luar negeri akan dihentikan bila masalah ini tidak selesai secepatnya. IMF mencabut perjanjian bantuannya karena tekanan Amerika. Indonesia akan mati. Gaji pegawai negeri bisa tak terbayar. Negera terancam kebangkrutan bila tidak segera menyelesaikan kesalahpahaman dunia terhadap pernyataan New Age.

    Kunjungan Gus Dur keluar negeri adalah satu hal. Sedangkan masalah pernyataan terbuka organisasi New Age adalah lain hal. Gus Dur gagal menyelesaikan masalah masalah gugatan dunia terhadap ketidakkompakan Indonesia dalam menghadapi kasus Ubermensch. IMF benar-benar tidak mencairkan dananya untuk Indonesia. Negara terancam pailit. Gus Dur harus segera membuka matanya terhadap kemiskinan di negeri ini. Lapangan kerja sangat sulit. Anak-anak banyak yang putus sekolah. Yang melanjutkan sekolahpun gagal dalam setudi. Gus Dur bertanggungjawab atas kemiskinan di negeri yang baru saja dipimpinnya. Dan dia dibebani tugas oleh dunia, menghentikan kegiatan organisasi New Age.

    Tetapi Gus Dur tahu, organisasi ini memiliki potensi untuk membuat Indonesia terkenal dan menjadi pembicaraan dunia. Satu hal yang harus dilakukan pemerintah dalam menyikapi masalah ini.

    "Melindungi organisasi New Age." Demikian pendapat salah seorang politikus. "Apabila Gus Dur membredel organisasi ini, maka Gus Dur akan kehilangan kredibilitasnya sebagai Presiden yang menjunjung demokrasi untuk negeri ini."

    Setelah pernyataan tokoh politik ini, surat dukungan atas sikap "New Age" bermunculan tanpa diduga sebelumnya.

    Kuba negeri yang sangat jauh dari Indonesia, setelah mendengar pernyataan resmi organisasi New Age yang didukung oleh sekian banyak politisi terkemuka Indonesia. Secara resmi Kuba mendukung pernyataan itu dan dengan resmi pula mendukung sepenuhnya kegiatan Ubermensch. Bahkan mereka siap memberikan suaka politik bagi Ubermensch.

    Fidel Castro dalam pidato resmi kenegaraannya pada saat upacara peringatan kemerdekaan Kuba yang ke seratus lima tahun, seratus tahun pemerintahan Castro menyatakan,

    "Saudara-saudara sekalian diseluruh jagat raya. Sudah seratus tahun saya menjadi pemimpin negara, selama kurun waktu satu abad itu saya mendapatkan pengalaman yang tentu saja belum pernah di alami oleh presiden mana pun di dunia. Seandainya saya ini manusia yang bertuhan, niscaya saya akan mengatakan Tuhan itu adalah saya.

    "Tetapi saya tidak menyukai tuhan dan tak ingin memiliki tuhan. Oleh karena itu saya ingin mengatakan hal lain yang tak ada hubungannya dengan tuhan. Yaitu bahwa seluruh pemimpin pemerintahan di dunia dari mulai pemerintahan Hollywood di Amerika hingga Bollywood di India, dari negeri Gajah di Asia hingga negeri Rudal di Irak, dari negeri kulit hitam di Afsel hingga negeri tak bertanah di Israel. Seluruhnya mengutuk kegiatan Ubermensch yang dianggap menyesatkan para pemeluk agama.

    "Namun ada sekelompok kecil masyarakat di negeri yang sangat jauh dari sini. Dengan berani mengambil sikap berbeda dengan pandangan dunia. Indonesia negeri yang kaya, masyarakatnya berani bersikap. Sebagai dukungan moral sekaligus politik dengan resmi saya menyatakan, bahwa pemerintahan Kuba dalam peringatan kemerdekaannya ini menyatakan, bahwa kami mendukung pernyataan New Age. Kami menentang kebijakan dunia yang menghalalkan darah seorang pejuang macam Ubermensch. Dengan resmi kami menyatakan bahwa Ubermensch haram dibunuh. Ubermensch secara resmi pula mendapatkan perlindungan dari pemerintahan Kuba."

    Pidato resmi Castro mengguncang seluruh dunia. Kegegeran terjadi di mana-mana. Indonesia, negeri latah ini, para pemuka agamanya berkumpul untuk membuat pernyataan resmi memboikot Kuba. Hal itu disambut baik oleh pemerintahan Gus Dur.

    "Kedutaan Kuba di Indonesia ditutup dan duta besar Indonesia di Kuba akan segera dijemput untuk kembali ke Indonesia." Demikian sekretaris negara menyampaikan pernyataan resmi pemerintah dalam jumpa pers di Jakarta.

    Sementara itu kegiatan organisasi New Age tidak dapat dihentikan lagi, banyak generasi muda, para intelek, para cendikia terlibat dalam organisasi ini. Mereka semakin bersemangat dengat satu kalimat, perjuangan baru dimulai. Pemerintah tidak dapat berbuat banyak dalam mengontrol organisasi ini. Apalagi pada kenyataannya New Age malah memberikan nilai lebih bagi Indonesia. Bersikap tegas di hadapan tekanan dunia.

    Setneg ketika ditanya oleh seorang wartawan berkaitan dengan keberadaan organisasi New Age, hanya dapat menggelengkan kepala.

    Si wartawan itu mendesaknya untuk memberikan keterangan.

    "Apakah itu, maksud saya geleng kepala anda, juga pernyataan presiden?"

    "Ya. Saya sebagai Setneg hanya bisa mengikuti apa yang disampaikan presiden. Geleng kepala adalah jawaban presiden ketika saya menanyakan keberadaan orgnaisasi itu." Jawab sang Setneg sambil menyisir rambutnya yang kriting dengan tangannya. Dia memang orang biasa yang selalu mengadakan show Obrolan Orang Biasa.

    Kehebohan akibat pernyataan terbuka Castro juga mempengaruhi sikap keras Amerika terhadap Kuba. Sebelumnya Kuba dicap sebagai negara pembangkang oleh Amerika. Setelah kejadian itu Amerika meningkatkan tekanannya terhadap Kuba. Embargo ekonomi terhadap Kuba diperpanjang. Presiden Amerika bersumpah tidak akan mengunjungi Kuba dan apabila Castro meninggal dunia, dialah yang pertama kali bersujud syukur. Badan intelejen Amerika ditingkatkan pengawasannya. Rancangan siasat busuk untuk menyingkirkan Castro dari tampuk kekuasaan disusun dengan rapi. Berbagai issu dihembuskan untuk menyudutkan Kuba.

    Kepongahan Amerika membuat beberapa negara kecil, yang merasakan kekejaman Amerika mencibirkan bibir dan memboikot keunjungan kenegaraan yang dilakukan oleh aparat pemerintahan Amerika. Menlu Amerika dalam kunjungannya ke Vietnam disambut dengan demonstrasi oleh masyarakat anti kekerasan. Para veteran perang Vietnam berbaris di sepanjang jalan yang dilalui iring-iringan rombongan Menlu, mereka menuntut ganti rugi perang sambil meneriaki Amerika sebagai "musang berbulu ayam".

    Sikap pemerintah Amerika yang reaktif terhadap pidato Castro, memberi angin segar bagi rezim Sadam. Dari Baghdad di istana pemerintah Sadam Husein memberi dukungan moral untuk Castro. Siaran Pers dilakukan dalam menyambut peryataan Castro.

    "Kami memang masyarakat bertuhan, tapi kami mendukung Kuba dengan pernyataan terbukanya itu. Bahwa adalah hak setiap manusia untuk mempersepsi Tuhan. Klaim kebenaran yang tunggal adalah sebuah penyesatan bagi manusia itu sendiri. Kehidupan sehari-hari telah mengajarkan kepada kita. Untuk mencapai sebuah tujuan ada banyak jalan ada banyak cara.

    "Pernyataan Castro sebagai pernyataan resmi pemerintah dalam konteks ini tentu saja sah dan tidak bisa dihukum oleh siapa pun termasuk Amerika yang sok pahlawan. Embargo yang dijatuhkan oleh Amerika sama sekali tak berdasar. Dengan ini kami menyatakan bahwa Amerika benar-benar penjahat dunia yang selalu memberangus negara-negara kecil seperti Kuba. Juga kami. Dan kami mengecam segala tindakan anarkis di muka bumi termasuk sikap brengsek Amerika."

    Mimpi-mimpi Nietzsche
    Novel Surgana


    10 Februari 1885

    Setelah dua tahun berlalu sejak pertama kali kemunculannya di hadapan publik, Ubermensch baru mendapatkan tempat yang terhormat di hati rakyat di berbagai negara. Sebelumnya dia adalah yang dikutuk dan dicaci bahkan dihujat dan dihukum. Tetapi sinar kesejatian yang ia pancarkan melalui buku-buku yang ditulisnya telah menggugah nurani dan menyadarkan banyak pembacanya. Buku-buku itu ia tulis di tempat persembunyiannya di sebuah pulau. Dari tulisan-tulisannya masyarakat dunia mengenalnya. Setelah dua tahun berlalu, Ubermensch ingin menyampaikan idenya di hadapan publik. Dia merasa yakin publik mulai menyukainya. Segala hal sudah dipersiapkan olehnya. Dia akan meninggalkan pulau itu, tetapi sesuatu menghentikannya.

    "Manusia biasa itu lahir dari rahim seorang ibu. Menggantung dalam rahim selama sembilan bulan. Ada yang kurang dari sembilan bulan itu dan ada pula yang lebih. Setelah lahir pun hanya satu yang bisa dilakukan oleh manusia biasa yaitu menangis. Setelah menggunakan tangisan untuk menjelaskan apapun yang terjadi pada dirinya. Manusia biasa mulai menggunakan kaki dan tangannya untuk belajar menjejak bumi dan matanya digunakan untuk melihat kemudian telinganya belajar mendengar. Dunia yang begitu luas, penuh simbol dan tanda diserap dalam jaring saraf dan jadilah manusia biasa yang mengenal sakit dan bahagia. Hal itu karena mereka melihat ada yang sakit dan bahagia, hal itu pula yang mereka dengar dan setelah besar atau dewasa, mereka merasakannya.

    "Aku ingin manusia biasa mengenali manusia luarbiasa manusia adikuasa, Ubermensch. Manusia ini yang dibutuhkan oleh zaman ini, oleh detik ini. Karena manusia ini tak mengenal derita dan bahagia. Hanya satu yang dikenalnya, bahwa hidup ini adalah untuk memberi arti dan makna pada realitas.

    "Aku akan berangkat menjelaskan hal ini pada khalayak. Tetapi khalayak itu siapa? Pertanyaan ini membuatku tak mampu melangkahkan kaki. Aku telah merasakan betapa manusia biasa sangat sulit mengerti yang luarbiasa. Para nabi menyampaikan ajaran mereka melalui mukjizat. Mereka mewakili sesuatu yang disebutnya Tuhan. Sementara aku tak mewakili siapapun. Aku bukan Hermes sang dukun ajaib dari legenda Yunani. Aku bukan kahin yang digunakan oleh Firaun memprediksi kelahiran Musa. Aku bukan pula Nostrodamus yang mengkhayalkan masa depan. Tak ada yang kuwakili, tak ada yang menyerupaiku. Aku hanya aku dan berdiri untuk aku. Aku yang tak mengenal yang lain yang sama denganku. Karena aku adalah satu yang terpecah dari aku yang utuh. Aku luarbiasa. Ubermensch.

    "Mukjizatku hanya satu, aku Ubermensch. Aku hanya tahu satu kata lakukan apa yang ingin aku lakukan."

    Setelah merasa yakin atau sebenarnya dia memang sudah yakin. Hanya sebuah pertimbangan semu yang menyerupai pertimbangan manusia biasa Ubermensch berjalan menyusuri pantai. Dia mencari sampan yang dulu ditambatkan di tepi pantai dekat pohon ketapang.

    Pantai itu sunyi hanya suara ombak yang mempermainkan otak, mengingat masa silam yang dialami diresepsi dari pantai dari anginnya yang menderu atau sepoinya yang sejuk. Juga dari badainya yang menenggelamkan perahu-perahu layar di laut. Ubermensch terus berjalan mencari pohon ketapang tempatnya menambatkan sampan dua tahun yang lalu.

    Sampan yang terbuat dari sesuatu yang tak luput dari waktu. Kayu pohon yang tumbuh dalam lingkaran ruang dan waktu. Keterbatasan yang diciptakan untuk membuktikan ketidakberdayaan. Selingkar ruang dan selingkar waktu telah membuat pohon menjadi tua dan ditebang kemudian dijadikan kayu yang dioleh menjadi sampan. Apakah hal seperti itu dapat bertahan kuat dalam ruang dan waktu yang lain?

    Ubermensch tak memikirkan hal itu. Dia tak berpikir bahwa sampannya telah rusak dimakan usia atau ombak yang selalu mengombang-ambingnya di tepi pantai. Atau mungkin saja badai memporak-porandakannya. Hanya satu keyakinannya, apa yang dia bayangkan itulah yang akan terjadi. Dia tak membayangkan sampannya termakan oleh waktu. Karena dia tahu sampannya meski terbuat dari kayu yang meruang dan mewaktu, sampan itu dapat beradaptasi dengan ruang dan waktu. Ia mengalir mengikuti, bukan terbawa, ruang dan waktu. Sampan yang kekal yang dia bayangkan.

    Pohon ketapang yang dicarinya sudah terjungkal, tapi tali sampan yang ditambatkan di pohon itu masih utuh tak berubah, sama dengan ketika ia menambatkan tali itu di pohon tersebut dua tahun yang lalu. Sampannya masih ada di tepi pantai, diombang-ambingkan ombak. Tidak ada yang berubah.

    "Apa yang aku pikirkan itulah yang terjadi. Itulah aku. Ubermensch. Saatnya aku katakan kepada manusia biasa yang akan dan mau menjadi manusia adikuasa. Mereka pasti sedang menantikan kedatanganku dan aku meyakini hal itu. Persia."



    15 Februari 1885

    Ubermensch sedang berjalan di Teluk Persia, teluk yang selalu menjadi inspirasi setiap pertempuran di Timur Tengah.

    Irak dan Iran berseteru dalam satu dasawarsa di teluk ini. Perseteruan berakhir berganti dengan ekspansi Sadam ke Kuwait. Sekutu Amerika yang mengaku sebagai "polisi" atau mungkin provokator dunia segera mendepak Irak dari Kuwait. Sederet ancaman yang kemudian menghancurkan seluruh (yang diketahui kebanykan orang) peradaban Irak yang konon Baghdad adalah kota dunia dalam cerita seribu satu malam. Jejak Harun el-Rashied yang pernah membangun Baghdad telah musnah dimakan lapar dan penyakit. Perang tahun 90-an menyisakan kepedihan yang mendalam di hati rakyat. Dendam pun ditanam dalam jiwa mereka. Keberanian sejati muncul dari jiwa-jiwa jelata. Sadam Husein yang sesungguhnya adalah rezim yang harus dimusahkan. Karena kecaman memusnahkan Sadam itu berasal dari Amerika, rakyat Irak malah mendukung kekuasaan Sadam dengan segala pengorbanan mereka. Masyarakat dunia yang menyadari pentingnya masa depan anak-anak di Irak berdatangan memberi bantuan. Bantuan yang tak cukup besar, tetapi publikasinya menggelegar ke seluruh dunia.

    Dia berjalan, menysuri pantai. Sampannya sudah ia tambatkan di dermaga teluk, tempat kapal-kapal induk Amerika. Dia mengerti mengapa terjadi perang, tapi dia tak pernah merasakan perang dalam dirinya. Karena dia adalah utuh. Tak ada perlawanan dalam dirinya. Dia satu yang tak berkonflik dengan apapun. Diri yang dimilikinya menyatu bergerak atas kehendak yang dimilikinya, tanpa ada penentangan atas dasar baik maupun buruk. Tidak ada gambaran diferensial dalam dirinya. Jiwa dan raga adalah satu yang bekerja demi satu tujuan. Dan saat ini, di teluk Persia ini, dia memiliki satu tujuan.

    Matanya menatap ke segala arah, merasakan kecemasan tanah yang dipijaknya, merasakan kecurigaan angin yang menghembus pelan, merasakan kekhawatiran matahari yang mengambang di langit. Pantai itu sunyi, menyimpan berbagai misteri, tetapi Ubermensch dengan seluruh daya kekuatannya yang sempurna dapat mengetahui segala rahasia yang disimpan oleh alam. Karena alam dengan bahasanya sendiri mengatakan segala rahasia kepadanya.

    Angin yang berhembus pelan membelai tubuh Ubermensch yang tinggi besar itu mengantarkan bau amis peperangan yang belum usai. Matahari yang bersinar redup mengatakan padanya, bahwa dia bosan melihat desingan peluru atau peluncuran rudal atau deru pesawat tempur. Langit berwarna gelap mengatakan kepadanya bahwa setiap hari asap ledakan mengepul ke udara mengotori langit yang semula jernih menjadi kelam. Dan tanah yang dipijaknya mengatakan bahwa setiap saat ia terguncang oleh ledakan yang membunuh sekian manusia biasa yang tak berdosa. Perang selalu merugikan, tapi perang pula yang memberikan perubahan.

    Dari kejauhan Ubermensch melihat seorang anak berjalan, usianya tak lebih dari sepuluh tahun, tetapi tatapan matanya terlihat sangat tajam penuh kewaspadaan. Langkahnya tegap meski tangan kanannya telah hilang. Anak itu melangkah dengan pasti mendekati Ubermensch.

    "Maaf tuan," sapa anak tak berlengan itu, menatap ke atas. Tubuh Ubermensch yang tinggi besar seakan tak terjangkau oleh mata anak itu. "Bisakah tuan memberi saya makanan."

    Ubermensch menatap ke bawah, memperhatikan tubuh kecil tak berlengan dengan pakaian compang-camping, bibirnya bergeletar karena lapar. "Aku tak membawa makanan." Ubermensch heran, anak yang belum makan tetapi dia tak memperlihatkan kelaparannya dalam berjalan. Dia tetap bertahan dengan perut lapar, siap siaga menghadapi berbagai kemungkinan dalam situasi perang. "Apakah kau anak Irak?" tanyanya kemudian.

    "Aku anak Sadam. Semua orang disini menyebut kami anak sadam." Anak itu mengulurkan tangan kirinya yang masih utuh untuk menyalami Ubermensch.

    "Kami?" Ubermensch bertanya heran.

    "Ya, kami. Bukan hanya aku yang tangannya seperti ini. Masih banyak lagi anak-anak yang terluka. Ada yang kehilangan penglihatannya, ada yang kakinya putus, otaknya tak berfungsi dengan baik karena trauma. Dan yang paling banyak adalah kami yang tak memiliki orang tua lagi. Perang telah mengajari kami untuk menjadi orang cacat seumur hidup" Ujar anak itu sambil menarik tangannya dari genggaman Ubermensch. "Pemimpin kami ingin bertemu dengan tuan. Kami bangga dapat bertemu dengan Ubermensch si manusia adikuasa yang dinantikan oleh kami."

    "Dari mana kau tahu aku ini Ubermensch?"

    "Dari pertanada yang diberikan oleh alam kepada saya. Bumi dan langit mengatakan bahwa hari ini pada jam sekian tuan akan berjalan di pantai ini. Bintang-bintang di langit mengatakan pada kami yang mampu membaca bahasa alam. Mengatakan dengan jelas kepada kami pada titik sekian tuan datang dan akan memberi perubahan pada kami."

    Anak ini benar-benar akan menjadi atau mungkin sudah menjadi manusia luarbiasa. Dapat mengenali Ubermensch adalah sesuatu yang sangat luarbiasa. Ubermensch dengan mudah akan dikenal oleh orang-orang yang terluka. Bukan bahagia. Peperangan telah membuat banyak orang terluka, mereka dengan mudah akan mengenali Ubermensch.

    Dia mengikuti langkah anak itu. Sambil berjalan dia bertanya, "Apa hubungannya… em, maaf, kalian yang cacat dengan sebutan anak Sadam?"

    "Oh itu, itu karena Sadam mengangkat kami sebagai anaknya. Anak seorang jagoan yang tak pernah mundur menghadapi koboi Amerika." Mereka terus berjalan memasuki daerah perkampungan yang kumuh di tepi pantai.

    Sebuah lapangan udara yang sedang dibangun tampak kacau. Batu-batu terserak bersama alat-alat berat. Tanah yang tak rata, penuh kerikil menghampar seluas mata memandang, ke timur dibatasi oleh laut dan ke barat dibatasi oleh lengkung langit yang kusam. Ubermensch tersenyum.

    Si anak melihat senyuman itu, ia bertanya, "Mengapa tuan tersenyum. Apa yang membuat tuan tersenyum?"

    Ubermensch menoleh ke anak itu dan tersenyum lagi. Tetapi ia tak menjawab pertanyaan anak itu.

    Dua tenda besar berada di tengah-tengan lapangan berbatu itu. Keduanya diapit oleh dua kapal perang dan sebuah rudak scuad moncongnya menantang ke udara. Suasana perang sangat terasa di tempat ini.

    "Ubermensch, selamat datang di kota perang." Sambut seorang lelaki ketika Ubermansch memasuki tenda yang lebih besar bersama anak itu. "Kami sudah lama menunggu kedatangan anda. Ada banyak hal yang ingin kami dengar dari anda. Terutama hal-hal yang berkaitan dengan perang."

    Orang itu kemudian mempersilahkan Ubermansch duduk di atas permadani buatan Turki yang empuk. Seorang gadis bercadar masuk membawa baki berisi teko dan cangkir.

    "Ini teh buatan Sariwangi, dari Indonesia. Negeri yang tak mengenal panas seperti panas di sini dan tak mengenal dingin sedingin di sini. Negeri yang kaya akan rempah-rempah dan orang-orangnya sangat ramah, tetapi miskin-miskin. Demikian kabar yang kami terima dari koran dan tivi." Orang itu menjelaskan sesuatu yang tidak dibutuhkan oleh Ubermensch.

    "Silahkan duduk dan minum teh bersama kami. Kami akan sangat senang bila dapat mengenalmu lebih jauh lagi."

    "Maaf, aku tak memerlukan perkenalan sebelumnya. Aku tak ingin mengenal namamu. Aku hanya ingin melihat bagaimana kau menghadapi seseorang yang tak kau kenal." Ubermensch diam sesaat "Tetapi aku yakin kau adalah orang yang sangat percaya diri dan mengakui kemampuanku. Apa yang kau inginkan pasti aku berikan. Aku pasti menyampaikannya. Tetapi bukan di sini."

    "Apa pun yang anda minta, kami akan memberikannya. Anda memang bukan Sadam yang melindungi kami. Pahlawan kami. Tapi anda adalah inspirasi kami yang pernah mendengar namamu. Kami ingin mendengar wejanganmu. Kami siap menjadi muridmu." Orang itu berkata dengan meyakinkan.

    Ubermensch tersenyum dan tangannya diulurkan untuk menyalaminya. Orang itu hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala. Ubermensch baru sadar bila orang itu sama sekali tak memiliki tangan. Anak-anak Sadam.

    "Nanti malam kumpulkan orang-orang di sekitar tempat ini untuk mendapatkan arti perang dariku." Ubermensch memecah kesunyian setelah lama mereka diam. "Sekarang aku ingin pergi dulu ke laut."

    Orang-orang terluka mudah mengenalnya. Itu sudah menjadi semacam kodrat, atau dengan bahasa lain, dia telah membawa bahasa buana pada setiap penderita yang sengsara dalam hidupnya. Dan bertemu dengan dirinya adalah sebuah peristiwa agung yang sangat dinantikan. Karena satu hal dia mampu memberikan sesuatu yang belum dan tidak akan pernah didapatkan dari siapa pun. Hanya manusia adikuasa yang dapat memberikan sebuah arti dari kesengsaraan.

    Senja telah datang, matahari mulai menenggelamkan diri di pusara alam yang sunyi. Warna jingga di angkasa seakan mengatakan bahwa hari akan segera berganti malam. Sayup-sayup terdengar suara burung camar yang menyambar ikan-ikan kecil di pusaran buih ombak laut yang menderu. Geladak kapal induk yang sudah ditinggalkan terlihat angker di senja hari, menyimpan segala misteri tentang perang yang gagal. Bangkai perahu terdampar di tepi pantai. Banyak nelayan di sini, tetapi tidak sedang memancing ikan tongkol, tengiri ataupun ikan laut lainnya. Nelayan di sini pekerjaannya memancing emas hitam di tengah lautan atau di padang gurun. Emas yang sangat mahal yang diperebutkan oleh dunia lain yang tak memilikinya. Pada senja hari pun bahkan malam hari mereka tetap memancing dengan alat-alat canggih pertambangan. Asap tetap mengepul dari cerobong-cerobong eksplorasi minyak. Inilah teluk yang damai dalam jeda perang.

    Malam menjelma dalam gelapnya yang senyap. Angin dari darat menyeret bau reruntuhan ke tengah samudera. Mengabarkan pada air laut bahwa di darat bukanlah harapan untuk penghuni laut untuk dapat hidup. Semua terjadi sesuai keinginan jiwa yang tumbuh di kedalaman pengalaman hidup. Bertumpuk dari bermacam derita dan bahagia. Orang yang tak berlengan sudah mengumpulkan seluruh warganya. Orang-orang cacat yang menamakan diri anak-anak Sadam. Ubermensch sudah berdiri di tengah-tengah mereka. Dengan tubuh tinggi yang tak tampak wajahnya karena remang yang gelap. Tak ada sinar dinyalakan karena hal itu yang diinginkan oleh Ubermensch.

    Kegelapan dan kesunyian akan membuat suara lebih jernih terrekam oleh batin pendengaran. Tidak akan ada satu kalimat pun yang terlupakan oleh para pendengarnya. Dan itu adalah janji dari kesunyian. Semacam pencucian kendang telinga dari berbagai suara. Suara yang biasa didengar oleh orang biasa. Dia tahu bahwa manusia biasa perlu ketenangan dalam mendengar, sehingga mereka dapat mematrikan, mengukuhkan kalimat-kalimat suci dari bibirnya. Kalimat-kalimat yang akan mengaktifkan bawah sadar mereka. Hal itu sangat penting bagi sebuah perubahan besar yang akan terjadi dalam hitungan detik. Manusia biasa bermetamorfosa dalam hitungan menjadi manusia adikuasa yang tak mengenal derita dan bahagia.

    "Denting peluru yang menembus besi di depan rumahmu" Ubermensch memulai sabdanya "mengatakan kepadamu, bahwa perang sudah dimulai. Aku tidak akan menjelaskan arti perang kepada kalian. Karena kalian lebih tahu perang yang sesungguhnya. Aku hanya ingin mengatakan beberapa hal tentang perang.

    "Dunia dengan matahari yang selalu terbit di pagi hari dan bulan akan sempurna pada hitungan lima belas setiap bulannya. Tanah berdebu ketika kemarau dan berlumpur ketika musim hujan. Tentu saja ada salju bagi daerah yang bersalju. Itulah dunia. Dia indah karena ada pohon dan bunga. Dia dibanggakan karena ada kekayaan. Tetapi dia akan diasingkan dari mansuia bila dia hanya sebuah gurun sahara. Seluruh dunia tahu bahwa gurun di sini dapat berbicara kepada mansuia dengan kekayaannya yang amat sangat. Manusia berdatangan memperebutkan kekayaan yang ia kabarkan pada kalian. Peperangan dimulai dari satu kata. Harta.

    "Manusia Adikuasa tak memerlukan harta. Tak ada yang ia perlukan. Hanya sebuah petualangan, itulah hidup yang sesungguhnya. Lembaran demi lembaran dari hari dengan matahari dan malamnya dengan bulan, disusun untuk membentuk sebuah hakikat hidup. Aku akan mengajarkan sesuatu pada kalian. Tentang mengapa perang?

    "Manusia biasa butuh perang untuk menemukan hakikat hidup ini karena mereka masih membutuhkan kekayaan atau harta benda. Di ditempat kalian, terpendam kekayaan yang menggiurkan yang membuat iri siapa pun yang mengetahui betapa kaya tanah tak berrumput ini. Betapa kaya tanah yang sangat sulit air ini. Oase di tengah padang pasir mengatakannya kepada kalian dan kepada dunia. Maka mereka yang merasa kuat merasa berhak memiliki tanah tak bertuan ini. Kalian yang merasa lebih dahulu berada di sini, atas nama bapak moyang kalian, mempertahankan tanah ini dari keserakahan mereka yang memburu harta. Satu kata yang kalian emban bertahan demi kehormatan. Sikap itulah yang membuatku terseret ke daerah ini dan aku ingin melanjutkan pikiran kalian tentang kehormatan dan perang mempertahankan kehormatan. Kalian sedang menanjak menuju Manusia Adikuasa. Aku akan membantu kalian mencapainya dalam hitungan detik.

    "Pernah seorang nabi berkata, perang sesungguhnya adalah berjuang untuk utuh. Tak terpengaruh oleh hawa nafsu. Dan kalian semua tahu hawa nafsu adalah keinginan untuk berlebih dan keserakahan yang melelahkan. Kalian memiliki agama. Aku tidak, dan kalian sudah memiliki jalan dalam agama itu. Sekarang ini, aku hanya akan menunjukkan bagaimana berperang yang sesungguhnya dalam agama kalian. Tapi tentu saja dengan caraku sendiri aku mengatakannya pada kalian.

    "Perang yang bagaimana yang akan membawa kalian pada kesempurnaan. Bila kematian menjadi pilihan kalian, maka matilah dengan terhormat. Dan apabila kemenangan yang ingin kalian raih, maka menanglah dengan terhormat pula. Dalam perang tidak ada aturan, yang ada hanya simbol-simbol kekuasaan, kekuatan dan strategi. Tetapi kalian telah melihat dan merasakan bahwa kekuatan tak sepenuhnya membuat kemenangan. Kemenangan yang sesungguhnya bukan mengasingkan musuh atau menyingkirkannya dari hadapan kalian. Kemenangan yang sesungguhnya adalah menguasai musuh dan tetap memeliharanya sebagai musuh.

    "Akhir sebuah perang yang seperti itulah yang akan membuat kalian lebih mengerti dan memahami hidup dan membuat kalian menjadi manusia yang Ubermensch. Manusia Adikuasa yang hidup tanpa duka. Hidup adalah petualangan untuk dinikmati bukan diperjuangkan, bukan pula dimaki ataupun diperangi. Hiduplah sebagai Ubermensch."

    Seorang lelaki dengan pakaian jubah maju ke depan dan berkata, "Hei Ubermensch, kau berkata demikian karena kau tak merasakan bagaimana sakitnya telinga ketika ada mesiu meledak di dekatmu. Kau berkata demikian karena tak merasakan bagaimana sakitnya tubuh ini bila terkena serpihan bom. Aku yakin kau tak merasakan itu semua. Kau orang Jerman yang mengobarkan keangkuhan diantara manusia dan memberi janji yang hampa dan tak pasti."

    Ubermensch menjawab.

    "Sebuah pengalaman memang lebih penting dari sekedar melihat atau sekedar mendengar apalagi hanya sekedar membaca. Aku akan membawa kalian pada sebuah kenyataan yang berbeda dari yang kalian bayangakan. Tak ada syarat apapun untuk melakukannya, karena kalian adalah orang-orang yang sudah memenuhi syarat.

    "Malam ini juga aku akan membuat kalian menjadi diriku, Ubermensch yang agung. Berkumpulah di sini dan tidak akan lama lagi kekuatan itu akan datang dan kalian akan merasakannya setelah itu kalian akan mengerti apa yang aku katakan. Yang terpenting adalah hentikan keinginan untuk hidup bila memang sudah tidak ada yang diharapkan lagi. Hentikan nafas kalian bila hanya akan menyesakkan perut bumi. Hentikan perjuangan bila hanya demi sebuah kata yang tak bermakna yang telah mentuli-butakan telinga dan mata.

    Perjuangan yang kalian lakukan bukanlah perjuangan, itu hanya sebuah permainan konyol dari orang-orang yang kalian hormati dan kalian takuti. Berhentilah berpikir tentang kemenangan maka kalian akan menjadi pemenang. Hiduplah terus dengan satu tujuan, menikmati hidup ini sebagai sebuah petualangan. Bukan aturan, bukan kehendak yang lain. Apa lagi berpikir bahwa hidup ini adalah kehendak tuhan. Singkirkanlah segera pikiran itu, karena kalian akan terbunuh dalam pikiran kalian tanpa menikmati hidup ini. Tuhan kalian menciptakan kalian bukan untuk hidup menderita, Dia menciptakan kalian untuk bahagia. Bahagia banyak caranya."

    Seorang lelaki lain maju dengan kesal ia bertanya, "Tahu apa kau tentang Tuhan kami yang Maha Suci itu?"

    Ubermensch menjawabnya.

    "Aku tahu tuhan manapun. Aku tahu karena aku tahu aku istimewa dalam pengetahuanku akan segala hal, tetapi itu tak penting bagiku. Karena pengetahuan hanya akan membatasiku juga kalian dari ketidaktahuan. Jangan mencari pengetahuan tapi rasakanlah. Karena rasa ibarat racun yang menyebar keseluruh unsur-unsur air dan merembas ke segala penjuru bumi. Hingga seluruh tanah dan air adalah racun adanya. Begitulah hidup yang sesungguhnya. Dan dengan cara itu pula kalian akan merasakan sebuah perubahan yang sesungguhnya. Dari manusia biasa menjadi manusia luarbiasa, adikuasa, Ubermensch.

    "Tidak ada duka. Yang ada hanya petualangan yang membuat kalian mencemooh kehidupan yang dijalani oleh manusia-manusia biasa. Dan tugas selanjutnya adalah membuat seluruh umat manusia menjadi manusia luarbiasa. Setelah itu berakhirlah derita dan duka sebagai manusia yang tertinggal hanya bahagia. Hidup saat ini hanya untuk hidup saat ini. Sekarang."

    Seluruh yang hadir diam, Ubermensch tak berpikir dan tak bertanya tentang apa yang dia katakan. Setelah merasa cukup mengatakan semua itu, dia memanggil angin mengundang rembulan, dan menyapa matahari untuk datang bersamaan di malam itu. Keremangan perlahan menjadi terang. Bulan yang bulat di langit dan juga matahari yang pucat memperlihatkan diri diiringi angin sepoi yang lembut membawa suara damai dari negeri jauh. Bau bunga padi menyebar ke seluruh penjuru. Orang-orang yang berkumpul itu merasakan sesuatu. Sesuatu yang belum pernah mereka rasakan. Matahari dan bulan menampakkan diri sekaligus di malam hari, warna yang selama ini mereka ketahui berubah seketika. Sebuah kebiasaan atau kepastian alam sudah dilanggar, menjadi tidak berarti lagi. Pembedaan itu tak bermakna lagi. Segalanya hanya satu utuh dalam sebuah kesadaran yang utuh.

    Suara Ubermensch menggema dalam kesunyian.

    "Hiduplah dengan keutuhan bukan dengan kebercabangan. Jadilah satu bukan berbagi. Maka dengan begitu sempurnalah kalian menjadi Ubermensch-ubermensch yang tangguh dan tak mengenal duka maupun bahagia. Tugasku sudah berakhir di sini. Kalian akan aku tinggalkan." Kalimat itu berakhir bersama menghilangnya tubuh Ubermensch dari pandangan mata, terbawa angin menuju pantai tempatnya menambatkan sampan.


    Mimpi-mimpi Nietzsche
    Novel Surgana


    20 Februari 1885

    Kuba tahun tak tertulis di batu nisan, seorang anak telah mati ditangan berandalan jalanan dengan bekas sodomi yang mengerikan. Dua orang lelaki berjalan buru-buru di dekat pantai. Seorang ibu sedang menyusi anaknya. Dan sekelompok anak muda sedang menari salsa dengan khusyuk. Sepasang kekasih berciuman di ujung dermaga. Kapal besar berlabuh. Tidak ada yang mengetahui, sebuah samapan kecil ditambatkan di dermaga itu.

    Jalan ramai oleh kerumunan orang-orang. Para pengkhutbah berjalan di sepanjang pantai. Mengabarkan Tuhan yang menderita karena kesakitan telah menderanya. Melihat umatnya saling berperang dan saling bersaing dengan tidak sehat. Tuhan menangis dengan pilu karena anak-anak terlantar dan Tuhan berduka karena mereka tak mau mengerti apa yang diamui oleh Tuhan.

    Seorang pengkhutbah berdiri di sebuah altar, memegang Injil di negeri komunis. Tuhan di sini dijajakan dengan murah meriah. Masuk sebuah agama akan mendapatkan jaminan hidup yang cukup. Tetapi tak bertuhan tetap lebih menarik di negeri ini. Castro menjamin mereka yang tak bertuhan akan tetap menjadi warganya yang terhormat. Sementara yang bertuhan akan menjadi hamba dari tuhan yang mereka pertuhan. Gereja akan memberi aturan bagi mereka yang masuk Kristen. Syari'ah akan mengatur jalan bagi mereka yang masuk Islam. Samsara menjadi sebuah ancaman bagi mereka yang menjadi pengikut Budha. Dan masih banyak lagi yang menakutkan bagi manusia Kuba untuk memilih agama.

    Tetapi si pendakwah yang jujur dan setia pada Tuhannya tetap berteriak dikerumunan orang dengan lantang.

    "Tuhan menangis melihat kalian berpihak pada yang nyata. Padahal injil mengabarkan pada kalian yang mau mendengar kalimat suci ini 'Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!' maka kalian akan bahagia dalam hidup ini. Bukan hanya di dunia tetapi juga di akhirat. Neraka dan surga sudah diciptakan dalam enam hari penciptaan. Semua itu adalah untuk melayani kalian. Bila ingin berdosa, berbuatlah dosa sesuka hati kalian tetapi kalian akan mempertanggungjawabkannya dihadapan Tuhan. Dan jika kalian berbuat baik, maka tidak ada yang disia-siakan. Kalian pasti dan jelas akan menerima balasan dari perbuatan kalian itu, apapun bentuknya. Baik ataupun buruk"

    Seorang anak berhenti di hadapan pengkhutbah yang sendiri itu dan bertanya, "Untuk apa kau berbicara di sini, tak ada orang yang mendengarmu. Pergilah dan carilah seseorang yang kami anggap berhak untuk bicara. Bukan kau."

    "Hai nak, aku di sini hanya mejalankan tugas dari yang Maha Kuasa."

    "Seberapa besar kekuasaannya? Bukankah Castro lebih besar kekuasaannya? Bahkan Amerika negara yang paling ditakuti oleh seluruh negara di dunia, Castro tak memperlihatkan ketakutannya sedikitpun pada negara itu."

    "Tuhan telah menjanjikan kerajaan yang amat sangat megah untuk kalian yang beriman pada-Nya."

    "Janji?" potong anak itu dan tertawa sambil lalu.

    Dilain tempat, seorang berjubah dengan Kuran ditangan mengabarkan berita kemenangan dari Timur Tengah. Sebuah agama yang lahir diantara serpihan-serpihan ketololan umat jahiliyah telah membawa dan membuktikan sebuah zaman yang tidak terlupakan sepanjang sejarah umat manusia. Sebuah imperium pernah lahir dan bertahan ratusan tahun memimpin umat manusia ke dunai yang sangat mempesona dengan berbagai sistem yang rapi dan terhormat. Seluruh dunia mengakui sejarah itu, tetapi sangat sedikit yang mengakuinya dengan tulus.

    "Allah telah memberi kalian jalan yang lurus. Kalian tinggal menjalaninya saja sesuai aturan yang berlaku. Maka sebuah masyarakat yang diidamkan akan kalian dapatkan. Hidup yang damai seperti zaman Abbasiyah atau Umayyah akan kalian rasakan dan kalian nikmati. Satu syarat yang harus kalian penuhi, ikutilah agama ini. Allah telah menjanjikan kemenangan untuk kalian.

    "Ini bukan agama impor, ini adalah agama seluruh umat manusia. Kalian harus memeluknya bila ingin selamat dari neraka."

    Tak jauh dari tempat orang itu seorang biksu sedang mempragakan meditasi. Orang-orang berkerumun ingin melihatnya. Yang mereka kagumi adalah pakaian biksu dan kepalanya yang gundul. Hanya itu.

    Senja di pantai negeri Castro itu memang menyenangkan bila ditonton. Berbagai kejadian yang lucu sekaligus aneh akan terjadi secara bersamaan dengan teriakan permusuhan dengan Amerika. Tetapi satu hal yang dinantikan masyarakat Kuba. Ubermensch. Pantai itu sudah dikabarkan akan menjadi tempat berlabuhnya Ubermensch dari perjalanannya setelah mengunjungi teluk Persia. Sore itu orang-orang berkumpul di pantai, di alun-alun yang dibuat khusus untuk menyambut kedatangan Ubermensch. Para pengkhutbah pun ingin mengetahui siapa sebenarnya Ubermensch. Mereka berdatangan sambil berkhutbah barangkali ada orang yang mau beragama.

    Malam jatuh di laut. Gelap merayap ke darat. Malam telah genap, lembayung musnah ditelan kegelapan. Senyap. Riak gelombang terlihat lamat-lamat. Lampu-lampu segera dinyalakan. Panggung kehormatan sudah dirancang untuk menyambut kedatangan mansuia adikuasa. Seluruh pejabat distrik sudah berkumpul untuk menghadiri acara besar di tahun itu. Kunjungan Ubermensch yang pertama dan terakhir. Castro sudah mengirimkan pidato kehormatannya ke arena pertemuan itu.

    Lelaki bertubuh tinggi besar memasuki arena pertemuan akbar itu. Pejabat pemerintah duduk anggun di bangku kehormatan. Sebuah bangku kosong disiapkan. Tetapi tak seorangpun tahu seperti apa Ubermensch itu. Lelaki bertubuh besar yang baru memasuki arena itu langsung menaiki panggung kehormatan dan duduk dikursi yang kosong.

    Seorang lelaki tua dengan kaca mata tebal berdiri di atas mimbar. Mulai membacakan pidato tertulis Castro.

    "Selamat datang Ubermensch di negeri kami yang tanpa Tuhan. Aku tak bisa menghadiri pidatomu, karena seorang anak kelahiran Kuba telah dicuri oleh tentara Amerika. Aku harus menyelesaikan masalah itu. Dia adalah putera Kuba haram menjadi orang Amerika. Dia adalah simbol kekuatanku. Aku akan membawanya kembali ke negeri ini. Berpidatolah sesuka hatimu. Aku mendukungmu sepenuhnya. Selamat. Negeri tak bertuhan. Castro." Orang itu mengakhiri pembacaan pidato tertulis Castro.

    Lautan manusia berjejal pada malam itu memenuhi alun-alun untuk melihat dan mendengar Ubermensch. Kabar angin telah membuat mereka tergoda untuk menghadiri pertemuan itu. Ubermensch begitu hebat ditelinga mereka. Tepuk tangan dan teriakan histeris menggema di cakrawala saat lelaki bertubuh besar berdiri dari kursi kehormatannya. Berjalan menuju mimbar.

    "Terima kasih. Kegelapan telah datang menghantui bumi. Kalian berkumpul di sini dengan satu tujuan bertemu denganku. Kuba negeri tak bertuhan, sudah lama aku ingin mengunjunginya. Tetapi baru sekarang aku dapat bertemu dengan kalian. Ini bukan takdir, tapi kuasa Ubermensch. Segala sesuatu terjadi atas kehendak. Dan kehendak akan muncul karena sesuatu.

    "Sesuatu yang membuat aku berkehendak mengunjungi negeri ini adalah karena kalian memiliki kesamaan naluri. Yaitu membungihanguskan berbagai bentuk kekuasaan tertinggi. Dalam diri manusia biasa ada sebuah kesadaran semu yang mengakui adanya sesuatu yang maha. Mereka mencari yang maha tersebut, hingga menemukan matahari yang memberi kehidupan, mereka kemudian menghambakan diri pada matahari. Menemukan air yang menyirami ladang mereka sehingga mereka menghambakan diri pada air. Ada pula diantara mereka yang tersesat jalan dan dituntun oleh seorang Nabi menuju jalan yang benar, merekapun patuh pada sang Nabi yang mengaku bahwa kemampuannya menuntun kalian adalah karena kehendak yang maha kuasa. Akhirnya kalian menghambakan diri pada tuhan sang Nabi tersebut. Demikianlah segala bentuk keyakinan terjelma dari rasa tidak berdaya sebagai manusia biasa. Tetapi di negeri ini, aku tahu bahwa kalian tidak mengakui kekuasaan tertinggi manapun. Hanya saja sangat disayangkan bahwa kalian masih mengakui sebuah kekuasaan material yang dibawa oleh rezim negeri ini. Memperbaiki paham kalian tentang tak bertuhan itulah yang membawaku ke negeri ini.

    "Hasrat dan kehendak adalah hal yang berbeda. Hasrat kalian adalah memiliki kebebasan dalam bertindak dan melaklukan penyamarataan atas bentuk apapun yang kalian temukan dalam sistem sosial. Tetapi kehendak kalian memaksakan kalian untuk tetap pada satu sistem yang baku yang sesungguhnya bukan sistem yang dihasratkan, yaitu mengakui adanya penguasa. Kehendak untuk tetap mengakui adanya penguasa inilah kehendak yang harus kalian hancurkan. Biarkan hasrat yang berbicara pada hati kalian sehingga dunia ini tercipta dari hasrat-hasrat yang murni dari diri kalian. Karena kehendak pada dasarnya adalah keterbatasan, ketidak menyeluruhan, ketidakutuhan. Kehendak adalah bagian-bagian dari hasrat dan bentuk kehendak sifatnya sangat material.

    "Apabila kalian benar-benar menggunakan hasrat kalian yang tidak ingin dikuasai oleh apapun, maka pada saat itulah kesadaran kalian muncul untuk menjadi diri yang utuh. Tanpa ada tekanan dari manapun. Dalam kesadaran yang utuh kalian akan menemukan ketidak berartian segala macam bentuk material yang selama ini diperjuangkan. Benar bahwa komunisme adalah tak bertuhan, tetapi tidak benar bahwa komunisme tidak mengakui kekuasaan. Inilah yang menjadi masalah komunisme. Padahal yang terpenting adalah bagaimana menciptakan kesadaran bahwa tidak ada kekuasaan dalam bentuk apapun selain diri kita sendiri sebagai manusia. Dalam tahap inilah kalian akan merasakan sebuah keajaiban bahwa kalian dapat melakukan apapun yang kalian inginkan. Karena bayang-bayang ketakuan akan sirna dari muka bumi ini.

    "Kalian masyarakat tak bertuhan, tetapi kalian masih membayangkan sesuatu yang lebih berharga dari yang ada pada diri kalian, yaitu sebuah sistem nilai yang dibangun berdasarkan asas sama rata. Kesadaran akan adanya sesuatu yang lebih yang sedang kalian perjuangkan itu adalah sebuah kesalahan. Karena kesadaran itu akan membawa kalian pada perjuangan yang menyakitkan yang sifatnya sia-sia belaka.

    "Kalian pada saat ini mengaku tak bertuhan tetapi bagiku kalian masih tetap bertuhan bahkan lebih bertuhan dari orang-orang bertuhan. Ini aku katakan karena aku tahu kalian selalu berjuang untuk sesuatu. Sesuatu yang sedang kalian perjuangkan itulah Tuhan kalian.

    "Dalam perjuangan, kalian akan mengalami kesadaran bahwa diri kalian adalah lemah, perlu aturan, selalu cemas dan tercekam ketakutan. Dalam kondsi seperti ini kalian akan merindukan sesuatu yang lebih dari diri kalian.

    "Dan Tuhan adalah kesadaran akan kelemahan. Tuhan adalah sistem aturan. Tuhan adalah keabadian yang kalian bayangkan. Dia hadir dalam ketakutan kalian, dia datang dalam kecemasan kalian. Dia tidak pernah muncul dalam kesadaran kalian yang sesungguhnya. Yaitu kesadaran akan sebuah keutuhan. Yang akan memunculkan keyakinan pada diri yang mampu melakukan apapun, karena sesungguhnya kalianlah Tuhan itu.

    "Komunis puna adalah Tuhan yang kalian bangun secara sadar. Bahwa Tuhan tidak ada, pengakuan itu sudah mengukuhkan adanya Tuhan. Kesejatian tanpa Tuhan adalah kesejatian tanpa kata, tanpa pengakuan. Karena bahasa tetap memiliki makna ganda. Ibarat pedang bermata dua. Kalian menebas sekaligus tertebas. Bayangan yang menakutkan yang telah kalian bangun berdasarkan ketidakbertuhanan telah mengacaukan sebuah kesadaran lain yang telah kukuh dibangun para pendeta dan para nabi yang datang dan pergi disetiap zaman. Tuhan terus tumbuh dan tidak akan pernah mati. Tetapi Tuhan bukan untuk dikatakan, dibahasakan, diucapkan. Tuhan adalah sebuah kesadaran yang akan menyertai setiap tindakan apapun yang kita lakukan berdasarkan cinta bukan ketakutan yang konyol. Yang didasari hitungan-hitungan tolo. Surga dan neraka yang ditawarkan setiap senja di kota ini adalah sebuah kebohongan belaka.

    "Kesejatian akan muncul. Tuhan akan lahir. Kalian akan damai. Bukan dengan ancaman atau janji kebahagiaan. Tetapi dengan tindakan dan makna perjalanan antara tidur dan jaga. Hidup adalah penggalan dari gelap dan terang dari siang dan malam. Hanya itu. Dan Tuhan telah menciptakan kalian dengan cintanya yang suci. Neraka dan surga diciptakan oleh kekhawatiran bukan oleh kesejatian iman. Ketakutan pada ketidak pastian itulah yang menyebabkan kalian berlindung dibawah bayang-bayang yang kalian anggap sebagai sebuah kepastian.

    "Tidak ada hakikat yang dapat kalian raih dengan cara berpikir materialis. Tidak ada apapun yang kalian dapatakan dari hidup ini. Karena hidup memang demikian. Bukan untuk mendapatkan sesuatu. Hidup adalah untuk menjalin cerita yang sejuk dan damai penuh cinta dan pengorbanan. Sebuah tata nilai yang lahir dari perjuangan yang suci, tidak akan mengenal perhitungan. Tidak ada untung dan rugi tidak ada kalah dan menang. Itulah hidup yang sesungguhnya. Tanpa Tuhan.

    "Sehingga kalian akan menyadari dengan kesungguhan kesadaran kalian bahwa hidup ini bukanlah sesuatu yang harus dipertahankan. Tetapi hidup ini adalah sesuatu yang harus dijalani dengan cinta dan kasih sayang. Hanya dengan itu kalian akan menjadi manusia luar biasa yang lepas dari sengsara dan duka. Kalian akan mencapai kesadaran sosialis sejati. Tidak semu seperti kesadaran sosialis yang kalian bangun diatas aturan komunis yang katanya anti Tuhan itu. Padahal komunis sama sekali tidak anti Tuhan bahkan ia memberhalakan Tuhan yang paling tolol bila dibandingkan dengan Tuhan-tuhan mana pun di muka bumi ini. Tuhan harta.

    "Aku yakin pernyatan Castro tentang dukungannya atas kegiatanku menyebarkan kuasa Ubermensch adalah hanya hiasan belaka dari bibir seorang yang sedang terlelap dalam tahta. Kerajaan sosialis dengan menjanjikan sama rata adalah janji yang paling tolol yang pernah disampaikan oleh seorang manusia. Ketidakadilan akan lahir akibat kecerobohan itu. Aku ingin kalian segera menyadari. Komunis bukanlah pilihan hidup demikian juga halnya dengan agama-agama yang ada di muka bumi ini. Selama kalian berpikir dengan cara pandang hasil. Maka kalian akan tetap menderita di mana pun kalian bernaung. Surga dan neraka tidak diciptakan. Ia ada karena kalian memebangunnya dari tingkah dan laku yang kalian susun dalam nafas yang kalian tarik ulur setiap detik itu.

    "Janji apapun yang dibangun atas dasar kehendak berkuasa hanya akan berakhir dengan ketololan seorang penguasa.

    "Akhirnya, aku tak menjanjikan apapun untuk kalian. Satu hal yang penting bagi kalian tebarkanlah maaf untuk sesama, jadilah sesuatu yang kalian inginkan jangan pernah berpikir bagaimana akibat dari setiap tindakan."

    Pidato Ubermensch diakhiri, seorang perempuan berteriak dari sudut mimbar.

    "Ubermensch! apapun yang kau katakan malam ini adalah kebohongan belaka. Aku adalah seorang komunis dan aku merasakan bahwa komunisme adalah jalan hidup yang sebenarnya." Ubermensch memandang perempuan itu dan berkata, "Jalan yang bernama pada suatu saat akan berganti nama. Kau mengakui nama komunisme sebagai jalanmu hari ini, entah esok hari. Kau bisa berubah. Dan perubahan itulah yang lebih penting dalam hidup ini."

    "Benar apa yang kau katakan hai Manusia Adikuasa" suara itu menggema entah dari mana datangnya, "Aku adalah keturunan para Nabi. Sebut saja nabi yang kalian kenal maka aku dapat menjelaskan bahwa aku adalah keturuan ke sekian dari nabi itu. Aku meyakini jalan hidupku tak bernama. Aku meyakini hal itu. Karena aku mengalami sendiri bagaimana jalan itu terus berubah namanya. Sementara tujuan yang ingin dicapai tetap satu. Bagiku tujuan hidup itu adalah bahagia. Dan aku ingin bertanya padamu Ubermensch. Apalagi yang lebih penting dari tujuan hidup selain bahagia?"

    "Wahai suara yang asing yang tak berbentuk dalam pusaran manusia yang begitu banyak ini. Aku katakan padamu. Hari ini adalah hari yang tanpa tujuan demikian juga dengan hari-hari berikutnya setelah kehadiranku ini. Tidak ada tujuan itulah hidup. Hidup hanya menjalani apa yang terjadi dalam setiap pergantian waktu. Camkan itu."

    Suara-suara bermunculan menggema di udara, diseret oleh angin menuju suatu tempat yag jauh dan asing dari Kuba.


    25 Februari 1885

    Sekian miliar penduduk dunia akan musnah seketika, bila satu saja hulu ledak itu terlempar ke alam raya. Rusia telah menjadi teman bagi musuh-musuh Amerika. Dari zaman Soviet yang penuh dengan perseteruan dengan Amerika dan sekutunya hingga saat ini dibawah bendera kebersamaan persemakmuran eropa yang semu untuk menyelamatkan dunuia dari bahaya nuklir. Rusia tetaplah Rusia sebagaimana Amerika yang tetap saja Amerika. Angkuh dan usil.

    Sebuah kapal induk meninggalkan teluk, berlayar menuju samudera tanpa batas. Sebuah sampan terdampar di tepi pantai. Seorang lelaki bertubuh besar mendarat di pulau yang tak dikenalnya. Malam yang sunyi dan kelam. Bulan pucat menggantung di langit beberapa bintang tak bosan berkedip. Kadang terdengar teriakan panjang dari lorong entah di mana menggemakan gaung mencekam. Kegelapan menenggelamkan Moskow. Ubermensch berjalan menyusuri kegelapan, menuju lapangan terbuka di alun-alun kota Moskow tempat upacara pembaptisan. Seorang lelaki dari gereja Simon mengakui kesalahannya di depan umum. Seorang gadis berkata jujur pada ibunya bahwa ia tak perawan lagi. Sebungkus kondom jatuh di trotoar. Rintihan kesakitan menggema di lorong-lorong rumah sakit. Dan sebuah letusan mengguncang di puncak menara. Seorang serdadu sedang mencumbu pelacur. Terdengar rintihan dan desahan yang menggairahkan dari bilik hotel berbintang. Hiruk pikuk orang berkerumun di diskotik murahan.

    Alun-alun tetap gelap. Tak ada seorang pun di sana. Sebuah taman yang kosong. Bangku taman. Pot bunga. Sekuntum mawar mekar di malam hari. Sejumput rumput tercerabut dari tanah. Seekor lalat hinggap di hidung seorang gelandangan yang terkapar di pinggir jalan. Sunyi.

    Ubermensch berkata,

    "Aku tak ingin mengatakan apapun di kota ini. Mereka terlalu berani mengakui kesalahan dan terlalu berani mengakui kebenaran. Sungguh nekat yang dilakukan penduduk di sini.

    "Lihatlah gadis itu telanjang di atas dipan kayu yang sebentar lagi berderik karena terguncang oleh birahi. Di sudut jalan ini ada orang yang terlelap tanpa peduli sekitar. Dan di sana di gedung parlemen, orang-orang berdasi sibuk rapat.

    "Ladang nuklir harus ditutup. Ancaman terbesar dunia adalah perang nuklir. Dan bukan hanya itu, ketelanjangan ini membuat ancaman lain bagi dunia yang menyukai kesopanan. Satu hal yang aku inginkan dari penduduk kota ini. Kesunyiannya yang mencekam seperti ini."

    Dia terus berjalan. Sebuah bangku kosong. Duduk. Berhenti berpikir. Merasakan sesuatu. Teriakan itu terdengar lagi entah dari mana menggema di udara mengabarkan sebuah peristiwa.

    "Aku tak bisa berlama-lama di sini. Tak ada orang yang bisa berubah di kota ini. Aku ingin kembali ke negeriku. Tetapi ada satu perjalanan lagi yang sangat penting bagiku dan tentu saja bagi mereka yang sedang menantiku di sana. Indonesia."

    Ubermensch beranjak dari bangku taman. Melangkah mundur menuju dermaga.

    Sampannya tidak ia temukan di tempat semula.

    "Aku tak bisa melanjutkan perjalanan ke Indonesia. Ke mana lagi aku akan berkelana? Ah… ini pertanyaan yang paling tolol."

    26 Februari 1885

    Swiss dikenal dalam setiap ceritanya sebagai tempat menyimpan uang selundupan hasil korupsi yang paling aman di dunia. Negeri yang sangat indah dengan berbagai fasilitasnya. Di negeri ini sebuah pulau yang indah dan nyaman dapat dibeli asal memiliki uang yang cukup.

    Koruptor kelas kakap dari berbagai negara di dunia berdatangan ke negeri ini untuk membuka rekening mereka. Menumpuk kekayaan untuk masa yang tak terhitung di waktu yang akan datang adalah kebiasaan orang-orang super kaya di dunia. Berkumpul di kapal pesiar yang paling mahal, berjudi di Shanghai, main perempuan di Italia sudah menjadi gaya hidup mereka. Tetapi satu hal yang menyeret Ubermensch ke negeri ini. Kejenuhan.

    Ubermensch sampai di Swiss bertepatan dengan issu disimpannya uang mantan Presiden Soeharto di bank Swiss. Muladi sebagai menteri kehakiman melawat ke kota Swiss untuk mengetahui kebenaran issu tersebut. Kebetulan, pada hari itu Ubermensch sedang duduk santai di ruang tunggu nasabah di sebuah bank yang diakui kerdibilitas keamannya di dunia. Tiba-tiba seorang lelaki bertubuh besar, tapi pendek bagi ukuran Ubermensch, duduk di sampingnya dan bertanya.

    "Apakah anda juga hendak mengambil uang?"

    "Mengambil uang?" Ubermensch balik bertanya.

    "Kalau boleh tahu, sedang apa anda di sini?"

    "Oh, saya. Duduk melihat."

    Lelaki itu diam, matanya menatap antrian panjang orang-orang yang sedang melakukan transaksi. "Saya diutus oleh Presiden saya untuk mengecek uang." Ujar lelaki itu setelah mereka lama diam.

    "Itu bukan urusan saya." Kata Ubermensch acuh.

    "Bukan, bukannya saya ingin melibatkan anda dalam urusan saya. Tetapi saya diminta menemui seseorang yang bernama Ubermensch di sini."

    "Oh…" Ubermensch tetap acuh.

    "Menurut petunjuk Presiden, saya harus menemui orang yang bernama Ubermensch. Katanya dialah yang akan menolong saya mengungkapkan misteri penyelundupan uang."

    "Terus kenapa tidak mencarinya?" tanya Ubermensch.

    "Dalam pertanda yang diberikan kepada saya, bahwa Ubermensch itu adalah anda orangnya."

    Mereka diam, Ubermensch tak segera berkata, demikian juga dengan lelaki yang baru datang itu.

    Orang-orang di ruang tunggu bergantian datang dan pergi. Waktu terus bergulir menggelinding melibas segala kelambanan dan mengakibatkan penyesalan bagi pekerjaan yang belum selesai. Semua berjalan sesuai waktu yang ditentukan, ketika terjadi keterlambatan yang bertanggung jawab adalah si pembuat aturan itu sendiri.

    "Saya yakin andalah orang yang harus saya temui, sesuai petunjuk Presiden saya." Ubermensch tetap diam, "Baiklah, saya mengundang nada makan malam di istana negara Swiss dalam jamuan makan malam." Setelah berkata demikian orang itu beranjak meninggalkan Ubermensch yang tetap diam.

    Acara jamuan makan malam disiapkan dengan menu yang paling nikmat di dunia. Resep makanan terkenal dihidangkan di meja yang tertata rapi dan lux. Lelaki yang menemui Ubermensch pada siang hari di ruang tunggu bank sudah duduk di salah satu kursi tamu. Dan menteri luar negeri Swiss memulai acara jamuan makan malam. Sementara Ubermensch datang tepat pada waktunya. Yaitu setelah acara sambutan-sambutan kenegaraan. Dengan berani ia berdiri dan mulai berbicara.

    "Kalian tahu kalian akan mati, karena kalian adalah manusia biasa yang menua dan lapuk kemudian menjadi tanah. Aku Ubermensch mengajak kalian untuk menjadi manusia abadi yang tak mengenal lapuk dan mati yang tak mengenal derita. Hanya ada satu bentuk hidup yang abadi dalam hidup ini. Sebuah tujuan yang tak terjangkau oleh pikiran manusia biasa. Sebuah kebenaran yang sejati yang hanya diajarkan oleh para pengembara dunia. Yaitu menikmati proses hidup itu sendiri.

    "Kekayaan yang kalian banggakan. Anak cucu yang merepotkan. Rencana yang membingungkan. Ketidakpastian yang menjengkelkan. Kalian akan hancur bersama yang kalian miliki. Kehancuran yang paling menyedihkan.

    "Meteor yang jatuh ke muka bumi bukan karena kehilangan daya evolusi terhadap matahari. Mereka jatuh karena mereka menginginkannya. Berbeda dengan kalian. Jatuh tanpa diinginkan. Ketidakinginan itu yang membuat derita kalian semakin pedih berbuntut pada kesedihan-kesedihan lain. Anak cucu yang dikutuk oleh zamannya karena dosa-dosa bapak moyang mereka.

    "Jauh di Asia Tenggara, sebuah negeri yang kaya tetapi api terus menyala, membakar dan menghanguskan bangunannya. Ke sana aku akan pergi. Karena kalian tahu di sana adalah tempat yang paling menyenangkan untuk menghamburkan kekayaan. Sekaligus tempat yang paling mudah untuk mengumpulkan kekayaan."

    Ubermensch memberi jeda dalam pembicaraannya dengan mengambil minuman dan menguk beberapa tegukan, setelah itu ia kembali melanjutkan pidatonya.

    "Kesadaran untuk menjadi sesuatu yang lebih baik memang sulit untuk muncul, akan tetapi kesadaran menginginkan kebaikan memang selalu ada dalam setiap diri manusia. Dalam jamuan makan malam ini, aku datang atas permintaan seorang lelaki. Aku tak berniat mengenal lelaki itu. Karena apalah artinya perkenalan bila hanya akan membawa petaka. Untuk memenuhi undangannya itu aku akan banyak bicara dalam jamuan makan malam ini. Apa yang ingin aku katakan sudah kukatakan dihadapan tuan-tuan semua. Hanya beberapa hal lagi yang akan aku katakan dan setelah itu terserah anda semua akan bertanya atau berkata apa lagi untukku."

    Ubermensch kembali meminum gelasnya yang mulai mengosong, selesai minum ia kembali berkata.

    "Seorang pemimpin dibanggakan selama berkuasa dan disingkirkan setelah habis kekuasaannya. Benar-benar manusia biasa yang tak mengenal keabadian. Inilah akhir dari rencanaku dalam pembicaraanku malam ini sekarang terserah anda semua."

    Seorang kaya dari Arabia berdiri dan berkata.

    "Untuk ini kau datang dalam jamuan makan malam ini. Kau benar-benar Ubermensch yang menjengkelkan diantara orang-orang kaya dan terhormat. Sungguh manusia adikuasa yang tolol. Berbicara tanpa tujuan dan tanpa makna. Apa lagi yang akan kau katakan selain menghujat kami yang kaya raya?"

    "Kau benar tuan kaya. Aku bukan seperti yang kalian bayangkan selama ini. Karena yang dapat dibayangkan hanyalah bayangan. Kenyataan adalah tetap kenyataan yang tidak akan dapat dibayangkan betapapun sederhananya kenyataan itu dan betapapun hebatnya struktur otak kalian.

    "Sama sekali aku tidak menghujat kalian. Kaya adalah hak hidup. Aku tak menginginkan apapun dari kalian. Bicara bagiku adalah hak hidupku yang abadi dan aku akan terus berbicara dengan caraku dan dengan bahasaku. Hari ini kalian tidak mengerti, tetapi pada zaman yang akan datang akan banyak orang yang berbicara tentang Ubermensch yang abadi dan tidak akan pernah mati yang tak mengenal derita dalam hidupnya.

    "Kebodohan kalian, ketidakmengertian kalian adalah karena kalian telah mengganti Kuasa Tuhan dengan kuasa uang. Sesuatu Yang Maha Tinggi digantikan oleh sesuatu yang paling hina. Demikian yang kalian bayangkan selama ini. Aku bukan pengkhutbah tapi aku adalah pemberi cerita yang tidak akan terlupakan. Dengar dan rasakan. Aku datang dalam perjamuan ini karena aku tahu bukan hanya lelaki yang tadi siang menemuiku, tetapi kalian pun sedang menunggu kehadiranku…"

    "Maaf, tuan Ubermensch. Mestinya anda menjaga sopan santun dalam ruangan ini." Potong Perdana Mentri Swiss.

    "Sopan santun?" Ubermensch tertawa lepas. Para tamu undangan dalam perjamuan makan malam itu bengong terhipnotis oleh tawa yang begitu nikmat dan menyenangkan. "Sopan santun macam apa yang berlaku di sini?" Tanya Ubermensch. Tidak ada jawaban yang terlontar dari mulut orang-orang yang ada di perjamuan itu.

    "Kalian menghendaki sopan santun. Dan sopan santu itu kalian buat berdasarkan derajat kalian sebagai orang kaya. Padahal di muka bumi ini bukan hanya ada orang kaya tetapi juga orang miskin yang harus kalian akui keberadaannya. Karena tanpa mereka kalian tidak akan pernah ada. Dan aturan yang kalian buat sama sekali mengabaikan orang miskin. Sehingga kalian membuat aturan makan malam yang megah bagi kalian dengan tatak rama orang kaya. Kalian sangat egois. Dengan aturan itu kalian mendepak berbagai bentuk kemiskinan. Aku tahu dengan sesungguhnya bahwa kemiskinan yang sebenarnya itu ada pada diri kalian. Bukankah kalian tidak pernah puas?"

    Lelaki yang tadi siang bertemu dengan Ubermensch berbicara.

    "Tuan Ubermensch. Mohon anda tidak memojokkan kami. Saya ini orang Indonesia, saya tahu betul seperti apa orang miskin itu, karena penduduk kami yang terbesar adalah orang miskin. Oleh karena itu dari pada anda membicarakan kekayaan kami yang melimpah ini, kami lebih suka bila anda tak menyudutkan kami. Katakanlah kepada kami hal-hal baik tentang kekayaan dan kemiskinan. Jangan mencaci kami yang memang layak dicaci."

    Ubermensch belum sempat berkata ketika seorang pemuda berwajah cerdas berdiri dan berkata.

    "Aku yakin ruangan ini memang perkumpulan orang-orang kaya yang menyembunyikan ketololannya dibalik jubah kekayaan. Aku percaya pada apa yang dikatakan Ubermensch. Dan aku juga menginginkan sesuatu dari orang yang mengaku abadi ini. Katakanlah padaku tentang generasi yang miskin."

    Ubermensch menatap kesekiling ruangan itu dan matanya jatuh pada lelaki yang tadi siang menemuinya.

    "Engkau orang Indonesia yang ditugaskan menyelesaikan kasus korupsi. Negeri kaya. Benar-benar kaya. Sayang penduduknya bodoh dan mudah ditipu. Aku akan ke sana. Membuat orang-orang bodohnya menjadi cerdas dan mengerti arti kekayaan dan hidup mewah yang selama ini hanya dinikmati oleh kalangan pejabat. Sekalian saja aku minta tumpangan pada anda orang Indonesia untuk membawa serta saya dalam penerbangan pulang anda.

    "Berbicara tentang kekayaan dan kemiskinan tidak dapat dipisahkan dari ketololan dan kecerdasan. Orang-orang cerdas, semiskin apapun mereka tetap dapat menikmati hidup dengan suka cita. Sementara orang bodoh, sekaya apapun mereka akan tetap menikmati hidup ini dengan sengsara. Indonesia menjadi contoh yang paling mudah. Seorang Presiden karena kebodohannya tetap bertahan sebagai Presiden hingga rakyat mengamuk dan Presiden itu jatuh ke lembah yang paling curam dan tak mungkin ditolong lagi. Kini dikejar-kejar oleh kekayaannya yang ia tumpuk selama menjadi penguasa.

    "Dan untuk orang yang cerdas yang miskin dapat kalian lihat Israel. Negeri tak bertanah air itu tetap bertahan di muka bumi ini. Keberadaan mereka tetap diakui oleh dunia. Mereka dapat melakukan pesta-pesta yang menggiurkan. Tidak lain karena mereka cerdas.

    "Generasi muda yang miskin bukanlah sebuah ancaman. Ancaman bagi generasi muda bukanlah kemiskinan, tetapi ketololan. Kepandiran dari cara memandang dunia. Itulah yang perlu diperbaiki oleh generasi miskin. Kemiskinan bukan penghalang untuk menjadi penikmat hidup yang megah. Miskin adalah bagian hidup yang paling menyenangkan. Satu hal yang perlu diperhatikan, ubahlah cara pandang hidup. Gunakan cara pandang-cara pandang yang selama ini diabaikan. Maka kalian generasi miskin akan sadar bahwa kemiskinan dapat juga dinikmati dan diubah menjadi kekayaan yang tak terhingga."

    Ubermensch mengakhiri jawabannya. Oarang-orang yang ada di hadapannya itu berubah menjadi gundukan-gundukan sampah.

    "Seperti dugaanku, kalian memang sampah yang harus segera disingkirkan dari muka bumi ini." Setelah mengatakan hal itu Ubermensch meninggalkan acara jamuan makan malam itu.

    Mimpi-mimpi Nietzsche
    Novel Surgana

    27 Maret 1885

    Negeri pertikaian api, Indonesia menjadi tujuan terakhir Ubermensch dalam keliling dunianya. Dia datang ke Indonesia bersama rombongan Mentri Kehakiman. Kedatangannya di Indonesia disambut hangat oleh penduduk. Jakarta menjadi lautan manusia, orang-orang tumpah ruah di jalan raya. Seluruh kegiatan dihentikan. Kerja di perkantoran diliburkan. Mobil-mobil dikandangkan. Rumah-rumah dikunci. Semuanya ada di jalan, bak demonstrasi tahun 1998 yang menumbangkan seorang diktator berdarah dingin.

    Pesawat mendarat di bandara Soekarno-Hatta. Para pejabat disambut oleh anak istri mereka. Masing-masing memperebutkan isi koper yang penuh dengan oleh-oleh luar negeri. Sementara Ubermensch tak terhiraukan. Dia melangkah turun dari pesawat dengan tanpa emosi. Kosong menatap jauh ke depan. Sebuah taksi diparkir di depan tempat transit para penumpang pesawat.

    "Ke stadion senayan mas," ujar Ubermensch kepada sopir taksi.

    "Tidak. Kami sedang mogok, tidak melayani penumpang," jawab sopir taksi.

    "Mogok?" gumam Ubermensch heran.

    Matahari jatuh di sudut utara menara pengawas pesawat. Seorang lelaki berlari menuju ke arah Ubermensch dan langsung memeluknya.

    "Terima kasih tuan dapat datang. Kami sudah lama menunggu." Orang itu langsung menarik lengan Ubermensch.

    Tak boleh bertanya dalam keadaan seperti ini. Naluri lebih penting dalam situasi yang kacau di negeri ini. Ilmu dan akal sudah tak berfungsi lagi di sini. Aku akan memfungsikannya dengan rasa.

    Ubermensch berpikir menyasati keadaan yang baginya sangat aneh tapi menyenangkan. Orang-orang berkerumun menunggu sesuatu. Mereka hanya mendengar kabar burung. Kecuali beberapa orang yang mengerti apa yang akan terjadi di Jakarta setelah kedatangan Ubermensch. Dan lebih sedikit lagi yang mengetahui Ubermensch.

    Bundaran Hotel Indonesia penuh dengan awrna merah, massa PDI Perjuangan memenuhi ruas jalan menebarkan warna merah menyala yang mengerikan. Ada instruksi dari pimpinan partai untuk menyambut kedatangan Sang Pembaharu Indonesia dari Jerman.

    "Aku tidak mengerti mengapa orang asing yang akan mmenyelamatkan negeri ini?" kata seorang lelaki pada temanya. Mereka sedang mengaso di bawar tiang gantungan.

    "Asing? Menurutku Ubermensch bukan orang asing." Jawab temannya. "Gus Dur memang menentang kedatangannya, tetapi Bu Mega menginginkan kedatangannya," lanjut orang itu.

    "Bu Mega sekarang memiliki sikap yang cukup tegas."

    "Ya, beliau sekarang sudah melepaskan diri dari bayang-bayang Presiden."

    Di tempat lain di Istana negara Gus Dur gelisah menghadapi massa yang sudah melimpah ruah di sepanjang ruas jalan kota Jakarta. Bahkan menurut informasi dari setnegnya, luapan massa bukan hanya di Jakarta, tetapi di seluruh kota besar di Indonesia. Dan Istana hari ini terancam oleh kerumunan massa yang terus mendesak ke pagar Istana. Lautan manusia sangat mengerikan, tetapi Gus Dur menutup mata dari luapan massa itu. Kegelisahannya terobati oleh bisikan penasehatnya, bahwa luapan massa itu tak sebesar yang digembar-gemborkan.

    Namun hari ini, dengan mata kepalanya sendiri Gus Dur merasakan ada sebuah gelombang besar yang akan menerjang kekuasaannya. Ia mencoba menghibur diri dengan melihat acara hiburan di televisi.

    Seorang ajudan mendekat kepada Presiden yang sedang asik menonton televisi dan berkata, "Tuan Presiden ada telpon dari Panglima TNI."

    Tuan Presiden menerima telpon itu dan mulai berbicara, "Saya serahkan kepada anda." Kalimat itu terujar dengan berat dari mulut sang Presiden.

    Mereka tidak sedang menuntutku. Aku tidak terancam sama sekali, semuanya percaya bahwa aku masih layak memimpin negeri ini. Ubermensch brengsek. Hari ini seluruh Indonesia diguncang gelombang massa yang menyambut kedatangannya. Bagaimana dengan aku yang dengan tegas menolak kedatangannya?

    "Panggilkan penasehat satu," perintah sang Presiden.

    Beberapa menit kemudian seorang lelaki bertubuh ramping masuk ke ruang santai kepresidenan. "Apa yang dapat saya bantu?" tanya orang itu.

    "Bagaimana menurutmu, apakah aku perlu menyiapkan jamuan makan malam untuk Ubermensch sebagai ungkapan bahwa aku menyambut kedatangannya?" Presiden diam sejenak dan berkata lagi, "Apakah bu Mega sudah menyiapkan acara untuk Ubermensch?"

    "Tuan, saya tidak tahu. Tetapi menurut bisikan yang saya terima, massa yang berkumpul di luar sana memang dikerahkan oleh ibu Mega untuk menyambut kedatangan tamu agung Ubermensch."

    "Bukan untuk menggulingkan aku, bukan?" potong sang Presiden.

    "Bukan. Dalam jumpa pers, ibu Mega mengatakan akan memenuhi keinginan rakyat Indonesia, yaitu menyambut kedatangan Ubermensch di kantor wakil kepala negara." Orang itu diam, "Emm…."

    "Ada apa?" tanya Presiden.

    "Seluruh rakyat di negara ini sudah patuh pada perintah seseorang."

    "Apa maksudmu?"

    Orang itu tak segera menjawab pertanyan sang Presiden. "Ada apa sebenarnya ini?" sang Presiden sudah tak sabar.

    "Anu, Ubermensch akan memberi keputusan untuk masa depan negara ini."

    "Hei, itu melanggar aturan namanya," teriak Presiden. Sang penasehat diam. "Siapa yang membolehkannya?" tanya Presiden.

    "Memorandum Rakyat Merdeka yang diprakarsai oleh organisasi New Age."

    "Silahkan pergi."

    New Age? Celaka, aku tidak membredel organisasi ini sejak awal. Mereka berani melakukan sesuatu diluar aturan.

    Ajudan yang tadi memberitahu ada telpon datang lagi, kali ini menyampaikan berita rahasia, berbisik pada Presiden.

    "Adakan pertemuan darurat, hari ini juga." Perintah Presiden pada ajudannya itu.

    Ruang pertemuan di Istana negara tetap kosong, hanya sang Presiden yang duduk di kursi kehormatannya, menunggu para pembantunya. Tetapi tak satu pun yang datang.

    Apakah aku sudah ditinggalkan. Tidak. Bukankah bu Mega dan Akbar menjamin kekuasaanku. Tetapi mengapa para pembantuku tak seorang pun datang ke tempat ini.

    Para pengawal Istana menatap Presiden dari kejauhan, mereka memandang kasihan pada sang Presiden yang sudah tak berakyat. Kegagalan apa lagi yang dialami oleh seorang Presiden selain tidak mampu mengumpulkan orang-orang yang dapat membantunya.

    Hari sudah senja, konsentrasi massa di ruas-ruas jalan tidak berubah. Aparat keamanan tak seorang pun terlihat, semuanya terbaur dalam kerumunan massa. Mereka berkumpul menunggu ceramah Ubermensch. Televisi berukuran super besar di tempatkan di tengah-tengah jalan, bukan satu tetapi sekian banyak dengan jarak pandang setiap dua ratus meter. Dan bukan hanya di Jakarta, tivi-tivi raksasa itu juga di tempatkan di seluruh ploksok nusantara untuk menyiarkan acara akbar. Pidato terbuka Ubermensch dari lapangan Senayan.

    Di layar tivi raksasa itu yang pertama tampak adalah kumpulan ribuan massa yang memenuhi Istora Senayan. Setelah menampilkan lautan manusia yang beraneka warna, merah, biru, hijau kuning dan berbagai macam bendera partai serta bendera merah putih raksasa berkibar-kibar di udara. Layar tivi menampilkan sosok wakil Presiden ibu Mega yang didampingi oleh seorang lelaki bertubuh besar di panggung kehormatan.

    Terdengar suara pidato pembukaan yang disampaikan oleh seorang panglima TNI. "Salam untuk seluruh rakyat Indonesia di seluruh kepulauan nusantara. Hari ini di senja hari yang indah dengan langit berwarna cerah karena matahari masih menyinari bumi dengan cahaya emasnya yang sejuk. Saya membuka acara ini atas perintah wakil Presiden. Bahwa hari ini Ubermensch sudah berada di tengah-tengah kita, beliau akan menyampaikan pidato keabadiannya di hadapan kita yang sudah sejak lama menantikannya.

    "Dalam tradisi kekuasaan di Jawa ada yang dinantikan oleh kita dalam keadaan krisis seperti sekarang ini. Yaitu seorang Satrio Piningit yang akan menyelamatkan negara ini dari kehancurannya. Dan seluruh rakyat di negeri ini, kecuali sang Presiden, percaya dan yakin bahwa Satrio Piningit itu hanya dapat diketahui oleh manusia abadi seperti Ubermensch. Untuk menyingkat waktu, saya persilahkan kepada Ibu Mega memberikan sambutannya sebagai wakil Presiden yang sudah tidak lagi mendukung Presidennya. Setelah sambutan beliau akan disusul oleh sambutan Ketua MPR dan Ketua DPR yang pada kesempatan ini hadir dalam pertemuan terbuka ini."

    Sang panglima turun dari mimbar. Giliran wakil Presiden yang naik panggung. Pidato yang disampaikannya cukup panjang dan berkobar-kobar memberi semangat persatuan dan kesatuan serta menghentikan pertikaian di seluruh nusantara. Beliau juga mengutarakan bahwa kematian rakyat Indonesia dalam setiap pertikaian bukanlah kematian yang sia-sia, mereka telah mati sebagai sahid. Dan yang masih hidup akan meneruskan amanat perjuangan mereka yang sudah meninggal, yaitu membangun negeri tercinta Indonesia dengan cinta.

    Setelah pidato panjang wakil Presiden, berikutnya pidato Ketua MPR. Ketua MPR mengupas habis berbagai issu yang sedang berkembang seputar kemungkinan Sidang Istimewa untuk menggusur Prsiedan. Acara dilanjutkan dengan pidato Ketua DPR yang menyampaikan permaafannya kepada lawan-lawan politinya yang bersikap anarkis yang telah membakar habis fasilitas bangunan basis partainya. Pidato yang mengharukan dari seorang politisi yang dengan tulus memberi maaf pada mereka yang melakukan kekerasan pada partainya. Dan dengan terbuka siap melakukan berbagai perubahan untuk partainya itu.

    Matahari sudah jatuh di laut bagian barat kepualauan nusantara. Lampu-lampu dinyalakan. Suasana di seluruh kepulauan nusantara ini sangat meriah. Helikopter berputar-putar di udara memantau seluruh kegiatan dari pulau Sumatra di ujung barat hingga Irian Jaya di ujung timur.

    Ubermensch dipersilahkan menyampaikan pidatonya.

    "Tuan-tuan Indonesia. Dunia menyaksikan anda semua. Bahwa hari ini pada senja yang mulai gelap. Di negeri kepulauan ini telah terjadi sebuah peristiwa yang maha akbar. Gerakan massa yang damai dari Sabang sampai Merauke. Gerakan massa yang damai. Aku bangga dengan rakyat Indonesia," gemuruh tepuk tangan dan teriakan mengelu-elukan Ubermensch. "Meski hari ini Presiden kalian tidak hadir dalam pertemuan ini, aku yakin bahwa kalian tidak kecewa bahkan mungkin sangat senang dengan ketidakhadirannya. Tetapi bagiku, ketidakhadiran Presiden kalian sangat mengecewakan.

    "Sebelumnya aku ingin mengucapkan terima kasih pada masyarakat New Age yang telah berani mengambil tindakan untuk mengumpulkan seluruh rakyat Indonesia di seluruh jalan raya di seluruh kepulauan nusantara ini untuk mendengarkan para pemimpin kalian berbicara. Dan aku sebagai tamu di sini diperkenankan untuk turut campur dalam membicarakan masa depan kalian.

    "Hari ini aku bersumpah pada kalian Tuhan di negeri ini telah mati. Yang tertinggi di negeri ini telah mati, yaitu kekuasaan. Kalian dengan berani meninggalkan Presiden kalian. Apa yang kalian lakukan selama itu berdasarkan logika yang dapat diterima oleh akal pikiran dan perasaan maka aku dengan sepenuhnya mendukung segala tindakan kalian. Kekuasaan bukanlah hal yang terpenting dalam hidup ini. Tetapi bagaimana menjalankan kekuasan dengan baik itulah yang harus kalian pelajari.

    "Tetapi aku di sini bukan untuk mengajari kalian tentang bagaimana menjalankan kekuasaan, karena hal itu sudah diajarkan oleh kehidupan pada kalian. Aku berdiri di hadapan jutaan bahkan ratusan juta rakyat Indonesia di seluruh Indonesia ini adalah untuk menyampaikan keputusan politis yang masih dapat dipertimbangkan oleh kalian, bahwa Presiden kalian hari ini sudah tidak layak lagi memimpin negeri ini. Tetapi siapa yang layak menjadi pemimpin negeri ini, aku hanya akan menyampaikan tanda-tanda. Dan tanda-tanda ini hanya dapat dibaca oleh para cerdik cendikia di nusantara ini yaitu anak-anak yang baru belajar berjalan, yang tatapan matanya jernih dan terasa sejuk di hati kita. Selain mereka, tanda-tanda ini juag dapat dibaca oleh mereka yang hidup papa di bawah tekanan kemiskinan yang biasa disebut oleh kalian dengan takdir Tuhan.

    "Tanda-tanda tersebut antara lain, bahwa negeri ini membutuhkan seorang Ibu. Ibu yang tulus mencintai anak-anaknya dan dengan sepenuh hati menyayangi suaminya. Ibu yang memberi jalan lebih luas pada anak-anaknya untuk mengerti hidup dan mengalami berbagai peristiwa yang menyenangkan dalam hidup mereka. Ibu seperti ini sangat sulit ditemukan tetapi anak-anak dapat menemukannya dengan mudah.

    "Apabila Ibu untuk negeri ini tidak dapat ditemukan, maka temukanlah seorang diktator yang cerdas yang berpikiran maju yang mengerti kebutuhan rakyat. Dia adalah seorang bertangan besi berdarah dingin tetapi memiliki cinta yang tinggi bagi negerinya ini. Dia sekarang sedang dalam proses kelahirannya di nusantara ini. Dia adalah Gajah Mada yang bangkit dari kuburnya. Yang dapat mengenali Gajah Mada ini adalah orang-orang yuang mengerti sejarah negeri ini.

    "Selanjutnya adalah hak kalian untuk menentukan siapa yang akan menjadi penuntun jalan bagi kalian." Pidato Ubermensch diakhiri dan angin yang damai menghapus gambar di layar tivi raksasa. Lampu-lampu yang semula menyala mati, gelap. Seluruh Indonesia gelap gulita.

    Interlud

    1885 pada bulan April lelaki sakit itu yang badannya kembali stabil setelah menulis Ubermensch pergi ke Venesia. Pengembaraan imajinya sangat melelahkan, mengelilingi berbagai belahan dunia dalam dua bulan. Kini ia kembali ke jerman. Bukan sebagai Ubermensch dalam ceritanya, tetapi sebagai manusia biasa. Nietzsche. Dia akan menyelesaikan kisah terakhir dari Zarathustra. Karena tidak tahan tiggal di Venesia yang kering ide, pada bulan Juni dia pergi ke Sils-Maria. Adik perempuannya Elizabeth dengan Forster menikah pada tanggal 22 Mei tepat pada hari ulangtahun almarhum Wagner. Dan pada bulan September, dia berangkat lagi ke Naumburg, setelah itu pergi lagi ke Nice pada bulan Nopember.

    Dia membuka jendela kamarnya yang menghadap pada sebuah bukit yang tidak ia kenal. Dan lembah itu terlihat menakjubkan, kabut tipis menyelimuti pepohonan yang jarang dan beberapa makhluk asing melayang-layang di udara mencari mangsa. Seekor laba-laba jatuh dari talang jendela, menggelantung pada tali serat yang keluar dari pantatnya. Laba-laba itu benar-benar menggantung di depan matanya. Dia mengibaskan tangannya. Tali serat laba-laba itu putus, melayang di udara dan jatuh tak terlihat.

    Dia memandang ke luar jendela mengamati kembali makhluk asing yang terbang di udara. Apakah ia seekor gagak? Tanyanya dalam hati. Bukan. Di negeri ini tidak ada jenis burung seperti itu. Matanya terus mengikuti si burung yang melayang-layang di udara. Kadang tiba-tiba ia meluncur ke bawah dan dalam kecepatan yang masih dapat dilihat oleh mata, burung itu berbalik naik ke atas. Sayapnya dilipat pada saat meluncur ke bawah. Dan apabila ia hendak terbang kembali ke atas sayap-sayapnya dikembangkan. Kembali mengepak dan berputar-putar di udara.

    Terdengar desahan nafasnya.

    "Apakah aku akan tetap seperti ini?" entah kepada siapa dia bertanya. "Hari terus berganti, sementara aku tak juga berubah. Kepalaku masih tetap pening dan pinggulku terasa pegal bila duduk terlalu lama. Aku tak mampu melakukannya saat ini."

    Sunyi. Dia masih tetap berdiri di depan jendela memandangi burung yang terus menggoda imajinasinya. Melayang-layang di udara. "Dia tak jatuh. Padahal seharusnya sudah terbanting karena keseimbangan tubuhnya dengan gravitasi sudah tidak sesuai. Tetapi dia tetap bertahan terbang. Menakjubkan." Senyum mengembang dari bibirnya. "Bukankah Zarathustra juga demikian. Melambung tinggi ke angkasa pemikiran dan iamajiku sekaligus. Dan gravitasi di kepalaku sudah tak seimbang lagi. Tetapi dia tidak jatuh. Dia tetap terbang, melayang-layang dalam iamaji dan pikiranku." Dia kembali mendesah.

    "Elizabeth, beruntunglah engkau sudah menikah. Aku tak perlu lagi bertengkar denganmu. Dan aku tidak akan mengunjungimu lagi. Karena aku hanya akan menjadi beban bagimu dan suamimu, Forster." Dia berbalik, burung yang ia pandangi itu sudah meluncur terbang jauh dari pandangannya. Menghilang diantara kabut dan pepohonan yang menghalangi pandangannya.

    "Tetapi, apakah kepergianku dari mereka akan membangkitkan semangatku untuk hidup lebih lama lagi? Tak ada perempuan yang dapat kujadikan pelampiasan libido. Aku tak memiliki seorang kekasihpun. Mungkin inilah yang membuatku pandai menulis dan tidak pernah berhenti untuk menulis. Hanya saja aku benci pada penerbit itu. mereka memburu tulisanku dan menjualnya. Sementara sakitku tak pernah terobati. Uang? Rasanya sudah tak berarti lagi untuk hidupku."

    Dia duduk di kursi goyang, mencoba mengingat kembali apa yang ingin ia lakukan di tempat yang sunyi itu. Meja tak jauh dari hadapannya. Kosong. Sunyi tak berdenyut.

    "Dimana sebenarnya Zarathustra lahir?" pertanyaan dengan tatapan kosong.

    "Mungkin di Mesir yang mengenal peradaban Zoroaster. Tetapi itu adalah Tuhan. Jelas aku sudah muak dengan Tuhan. Gereja telah banyak merugikan masyarakat. Apakah itu yang disebut agama. Penyembah-penyembah berhala yang sudah tenggelam dari peradaban manusia kini muncul kembali di muka bumi dengan wajah yang lebih mengerikan lagi.

    "Apapun yang dilakukan oleh manusia saat ini hanya sebuah kesia-siaan. Celaka mereka tidak menyadari hal itu. Terlalu sibuk dengan pekerjaan, dengan aturan, dengan jadwal, dengan kesibukan sehari-hari. Dalam tidurpun mereka membawa masalah hidupnya dalam mimpi-mimpi mereka. Masalah yang rendahan dan terlalu sepele untuk dipikirkan.

    "Masihkah tersisa orang-orang yang memiliki pikiran besar yang mau berpikir tentang masadepan umat manusia. Masadepan yang sedang terancam oleh keangkuhan materialis. Sejarah umat manusia berngsek yang tidak berpikiran cerdas akan memenuhi bumi ini. Semuanya berakhir dengan konyol dan tolol.

    "Zarathustra. Aku menginginkan Zarathustra."



    1 April 1885

    Sebuah pasar. Kios berbaris mengikuti alur jalan yang berliku di tikungan yang tajam. Sepi, tidak ada penjual maupun pembeli. Malam semakin larut diburu angin dingin menggigit di musim panas. Bayangan-bayangan hitam berkelebat di udara, cicit suara makhluk malam menambah kengerian pasar. Sampah terserak di tempatanya yang tidak teratur tak jauh dari jalan raya. Sesekali mobil melintas dengan cepat tidak mempedulikan bahwa di sana ada pasar. Beberapa tubuh tergeletak berselimut koran di emeperan. Api menyala di sudut utara. Seseorang sedang duduk bertutup kain sarung yang sudah lusuh. Matanya tak terlihat, demikian pula dengan struktur tubuhnya. Benar-benar gelap. Lidah api yang menggapai-gapai di udara tak mampu memberi keterangan. Hanya rasa hangat yang memberi penjelasan bahwa orang itu sedang menjaga sesuatu.

    Sebuah kios tak berisi. Kosong tak terpakai. Pasar yang sudah tua kiosnya banyak tak terpakai lagi karena rapur dan bocor. Dia yang duduk di depan nyala api tetap diam membeku kedinginan. Dan api itu memberinya kehangatan membuatnya tak hendak beranjak dari hangatnya api yang sangat ia butuhkan. Wajahnya.

    Dia seorang penjaga keamanan pasar. Samar wajahnya mengatakan. Lekuka rahang yang kasar sorot mata yang dalam dan tangan yang kekar terbelit di dada. Dia sedang menjaga pasar. Dia penjaga pasar. Zarathustra menemui orang ini.

    "Kau di hadapan api, seperti musa yang memburu api suci. Menerima sabda Tuhan. Mengutuk sebuah kekuasaan menyingkirkan hawa nafsu dan ammarah. Kau tidakkah ada yang menjagamu selain api ini. Aku tersesat di pasar ini. Kemana gelandangan-gelandangan itu?"

    Orang itu tetap diam. Tidak ada gemingan yang berarti. Tangannya hanya membetulkan api yang hendak padam di hadapannya.

    "Hai orang pasar." Zarathustra berkata lagi "Aku datang dari negeri tak bernama, dunia tak berbentuk dan hidup tak bertujuan. Aku tersesat di sini. Apakah kau mau membantuku memberi tahu sesuatu?"

    "Ehmmm." Orang itu menggeram

    "Suaramu agung, menyeret segala pendengaranku di malam ini. Kau akan menjadi petunjukku dalam melangkah untuk esok hari. Sekali lagi persis seperti Musa yang tersesat di lembah Tih, dia tak menemukan petunjuk untuk membawa anak-anak Israel hingga dia mati karena tidak ada lagi api yang menyala di sana. Baru kemudian generasi berikutnya menemukan api itu dan mereka berhasil keluar dari Tih. Dan aku, aku benar-benar seperti Musa. Tersesat di pasar dan tak menemukan api selain di sini di dekatmu. Kau akan memberi petunjuk padaku. Kemana aku akan melangkah pada saat matahari jatuh di pasar ini dan keramaian menjadi sebuah kegaduhan manusia yang bicara dan diam secara bersamaan. Sebuah kebiasaan yang menjengkelkan. Berkatalah padaku!"

    Orang itu tetap diam.

    "Oh, malam. Malam sangat menakutkan. Bulir-bulir embun berjatuhan di pangkuan rerumputan. Kegelapan menyergap seluruh kehidupan. Menyeretnya ke dalam mimpi para petani yang terkubur harapan panennya karena tikus-tikus liar di lahan mereka. Pada malam hari semuanya terjadi. Berbagai kekejaman, kemesuman terjadi pada malam hari dan rencana-rencana busuk di susun dan diuji pada malam hari. Maling-maling berkeliaran pada malam hari. Benar-benar hantu itu ada pada malam hari. Apakah kau mau membantuku?"

    Lagi-lagi hanya suara geraman.

    "Gelap. Gelap bagian lain dari terang. Aku ini pengembara yang tersesat di pasar. Aku ridak tahu lagi apa yang harus aku lakukan dengan malam yang dingin seperri ini. Apakah aku akan sepertimu duduk membeku di hadapan api dan tubuhku akan mencair bersama terbitnya matahari esok pagi? Tidak hei manusia diam. Aku tahu ada banyak rencana yang disusun malam ini. Ada banyak maling yang berkeliaran pada malam ini. Ada banyak kemesuman yang terjasdi pada malam ini. Dan sekian banyak lagi mimpi-mimpi yang menghibur atau mengutuk orangh-orang tidur oada malam ini. Aku harus memikirkannya pada malam ini. Aku harus merencanakan sesuatu untuk esok hari."

    Zarathustra diam. Gelap membeku bersama dingin menghitam di sudut jalan di hadapan api kecil yang menyala hendak padam. Orang itu tetap diam membelitkan tangan di dada, bersedakap seperti samadhi hendak mencapai nirwana di malam yang dingin di hadapan api yang terus menyala meski hendak padam. Tanpa dipersilahkan Zarathustra akhirnya duduk di samping si diam yang ia tanyai itu. Tangannya yang kuat menggapai-gapai jilatan api yang semakin lama semakin mengecil. Sementara kayu yang membuatnya bertahan semakin surut menjadi arang dan persediaan sudah tidak ada selain setumpuk sampah plastik yang ada tak jauh dari tempat itu.

    "Apakah kau tak mendengar suaraku?" tanya Zarathustra di sela-sela suara angin lembut yang menyapu lorong-lorong dan menyeret sampah pelan-pelan.

    "Senadainya kau tahu atau paling tidak mau mengetahui siapa diriku. Teranglah dunia ini dengan cahaya tanpa matahari. Tetapi aku sekarang tersesat. Kaulah yang akan menuntunku pada duniaku kembali. Kau hanya diam dan diam. Apakah aku akan berjalan tanpa rencana, tanpa petunjuk. Baiklah. Aku akan pergi dan aku benar-benar pergi kau akan menyesal tak mengenalku. Esok hari kau akan melihatku dan kau akan menyelsal untuk malam ini. Kau benar-benar bisu."

    Dia bangkit dari sisi orang diam itu. Berdiri menatap sesuatu di arah yang ia tidak mengerti hanya insting yang mengatakannya bahwa itu adalah timur tempat matahari terbit. Tetapi bukankah sudah saatnya matahari terbit dari barat. Menentang arus sudah menjadi sesuatu yang biasa. Dan alam pun dapat melakukannya. Apalagi Tuhan melalui Nabi-nabinya bicara tentang akhir dunia dengan tanda-tanda. Matahari tidak terbit dari timur lagi. Tidak juga dari barat. Matahari tidak terbit.

    Lorong-lorong pasar masih tetap seperti semula. Sepi. Kios berbaris mengikuti alur jalan yang berliku di tikungan yang tajam. Tidak ada penjual maupun pembeli. Dia berjalan menuju sebuah tempat di kegelapannya sendiri yang hanya dia yang tahu. Gelap.

    "Apakah Musa pada saat menemukan cahaya di bukit Tursina itu juga tak mendengar suara? Seperti aku yang tak mendengar suara apapun dari api yang menyala di pasar ini. Tetapi. Oh, bukankah diam itu memberi jawabannya sendiri padaku. Rencana apa yang akan aku lakukan pertanyaan yang sangat tolol. Mengapa aku tak lagi secerdas dulu?"

    Zarathustra tertawa. Menggema di kesunyian yang senyap. Membangkitkan bulu kudung yang mendengarnya.

    "Aku benar-benar seorang penyabda yang tidak mempunyai rencana. Berbicara dengan berbagai bahasa tanpa mengerti bahasa siapa yang aku pakai. Aku berbicara dengan bahasa para Nabi. Bahasa pakir miskin. Bahasa kaum borjuis. Bahasa para ningrat. Bahasa ilmuan bahkan bahasa gelandangan pun aku bicara. Aku benar-benar pintar bicara." Tawa itu krmbasli menggema, lebih keras dan lebih menakutkan dari yang pertama.

    Garis cerah membelah cakrawala. Angin semakin dingin api yang semula menyala yang dapat dilihat olehnya sudah padam tetapi orang itu tetap diam.

    "Penjaga pasar. Biarkan saja dia terus diam dan terus menjaga pasar. Aku tak peduli pada orang itu." Gumamnya pelan sangat pelan hampir tak terdengar. Suara itu benar-benar lembut diseret angin ke lubang telinga dan menggetarkan genderang telinga dengan lembut.

    2 April 1885

    "Aku akan menyampaikan tiga perubahan untuk sebuah negara." Zarathustra bersabda di hadapan makhluk-makhluk pasar. "Kalian sudah mendengar ceramahku kemarin tentang kematian. Hari ini aku akan mengatakan sesuatu yang sangat penting. Tiga perubahan untuk sebuah negara."

    "Kami tidak memerlukan negara." Teriak sebuah suara dari khalayak "Kami butuh makan dan minum, tempat tinggal dan sandang, kepuasan sex dan anak-anak. Bicaralah tentang hal itu orang asing."

    "Ya. Engkau benar wahai entah siapa. Baiklah sebelum aku membicarakan tiga perubahan untuk negara aku akan menyampaiakan apa yang ingin didengar oleh entah siapa tadi.

    "Makan. Banyak jenis makanan yang dapat kalian makan. Tetapi karena kalian harus bekerja untuk mendapatkan makanan, maka makanan itu menjadi sulit dan kalian terus bekerja untuk mendapatkannya. Dengan makanan kalian dapat bertahan hidup sehingga kalian mempertaruhkan hidup demi makanan. Berjuang untuk makan itulah yang dilakukan oleh kalian di sini di pasar.

    "Berteriak menawarkan barang dagangan atau ngotot meminta harga yang paling murah bagi seorang pembeli. Itulah maknan. Enak di bibir sama di perut dan keluar sama sekali tidak ada yang disukai. Menjijikan. Makan, makanlah sepuas hati kalian selama kalian menginginkannya. Karena sesungguhnya pada suatu saat nanti kalian tidak akan membutuhkan makan. Kalian hanya butuh waktu dan tepat pada saat itu makanan benar-benar akan dibenci dan dunia ini akan penuh dengan makanan. Pada hari itu kalian tidak perlu lagi bekerja untuk mendapatkan makanan.

    "Minum. Tidak berbeda dengan makan, demikian juga sandang, kepuasan dan sex. Sama. Selama kalian menginginkan itu semua maka kalian akan bekerja untuk mendapatkannya dan kalian akan mendapatkan derita dari apa yang kalian inginkan itu.

    "Selama ini yang kalian inginkan hanya sebuah penderitaan dengan mengharapkan berbagai bentuk kepuasan dalam hidup yang kalian bayangkan. Kalian tidak pernah sungguh-sungguh ingin mendapatkan kebahagiaan. Tidak memiliki kehendak untuk berpikir tentang hal-hal yang lebih besar dan lebih sederhana. Itulah dunia manusia dan memang harus seperti itu bila masih megakui Tuhan. Kalian adalah hamba Tuhan yang tolol dan menjengkelkan. Tinggalkan makan dan minum. Jangan mencari kepuasan dan sex.

    "Untuk anak. Aku ingin bicara tentang mereka secara khusus. Tentu saja tidak sekarang. Karena hari ini aku sudah mengatakan sesuatu yang perlu kalian renungkan dengan baik, yaitu berhentilah berpikir tentang makan dan minum. Jangan mengharapkan kepuasan sex yang menjijikan itu. kalian dapat membayangkan betapa sex, maksudku kenikmatan sex apapun bentuknya. Masturbasi, onani. Bersetubuh, berciuman. Segala bentuk sex itu sangat menjijikan."

    Pasar bubar, Zarathustra kembali menyendiri. Diam dalam sunyi.

    5 April 1885

    "Seperti telah aku janjikan dua hari yang lalu. Hari ini aku akan berbicara tentang anak-anak yang kalian cintai itu." Zarathustra memulai pidatonya, orang ini benar-benar membuat banyak perasaan bermunculan dan bermacam tuduhan tajam dilemparkan ketelinganya dengan suara kejam.

    "Anak lahir dari rahim seorang perempuan. Perempuan itu bisa mengandung karena persetubuhan. Karena penis dan sperma. Tetapi, hari ini tanpa penis, seorang perempuan bisa hamil. Dan inilah yang paling penting. Kalian akan mendengar apa yang akan aku katakan tentang anak.

    "Sel telur mengeram dalam ovum, satu sel pejantan masuk dengan susah payah setelah mengalahkan ribuan lawan sejenisnya. Ribuan sel pejantan gugur demi menyelamatkan satu sel yang siap membuahi sel telur. Sebuah peristiwa alam terjadi dalam dunia rahim yang sempit. Erangan panjang terdengar ringkih dari mulut seorang perempuan yang sedang besetubuh dan lenguhan panjang seorang lelaki yang melepaskan hartanya yang paling berharga. Belahan dari seluruh energi tubuhnya.

    "Perjalanan berlanjut dengan penantian panjang, metamorfosa dari satu bentuk ke bentuk lain terjadi dalam waktu enam bulan untuk menjadi sempurna. Ruang dan waktu penciptaan umat manusia yang terbatas, itu mengatakan bahwa hidup manusia pun terbatas. Tetapi ruh diciptakan tanpa definisi, oleh karenanya dia pun tak terdefinisikan. Manusia hanya dapat merasakan bahwa dirinya bernyawa dengan perasaannya yang terus mengalami perubahan.

    "Seorang anak sesungguhnya hanya sebuah proses penitipan ruh pada dua sel yang berbeda jenis. Seorang ibu hanya sebagai pelengkap penderita dalam hidup sang anak. Sementara sang ayah adalah pelengkap sengsara bagi kehidupan anak. Dan anak itu sendiri dialah yang menikmati kehidupan yang sesungguhnya. Disayangi dan dicintai serta di manjakan oleh kedua orang tuanya. Hingga datang masanya. Sebuah hukum karma sebagai umat manusia. Sang anak akan menjadi ayah dari anak-anaknya. Dan perannya berganti pula bukan sebagai penikmat tetapi menjadi pelengkap penderita atau pelengkap sengsara bagi anaknya.

    "Oleh karena itu, seorang ayah atau seorang ibu yang mengerti perannya akan melakukan sesuatu yang menyenangkan bagi hidupnya. Balas dendam dengan mengabaikan anak-anak mereka. Itu bukan dosa, tetapi kutukan yang dia buat untuk mengukuhkan sebuah keegoisan umat manusia. Bagiku orang tua macam ini cukup bijak tetapi tidak cukup baik untuk tetap manjadi mansusia. Karena mereka sesungguhnya bukan manusia. Karena manusia yang sesungguhnya akan berkorban untuk yang lain dengan tulus penuh cinta.

    "Seorang anak yang dikandung selama sembilan bulan oleh seorang perempuan, kemudian anak itu lahir dan besar, setelah besar akan meninggalkan perempuan itu sendirian menantikan kematiannya. Itulah hidup. Karena anak yang lahir ibarat panah yang terlepas dari busurnya akan mencari dan menemuikan sendiri hidupnya. Yang tentu saja akan berbeda dengan peran-peran ayah dan ibunya,. Karena seorang anak hidup jauh di masa yang sangat berbeda dengan ayah dan ibunya.

    "Dalam posisi seperti ini, seandainya tidak ada cinta dalam diri manusia, mana mungkin seorang manusia mau melakukan sebuah tindakan yang penuh dengan resiko tanpa mendapatkan balasan. Itulah sebabnya, Tuhan tercipta untuk merenggut kesadaran seorang manusia bahwa dirinya telah dirugikan oleh alam.

    "Seorang anak yang lahir dengan kesadaran bahwa dirinya adalah mahluk yang paling disayangi oleh lingkungannya membuat mereka dapat bertahan dengan cinta. Tetapi akan lain halnya bila seorang anak manusia lahir dengan kesadaran bahwa mereka hidup dimuka bumi ini tanpa penyebab apapun baik secara fisik maupun non fisik. Yang akan terjadi adalah bahwa dirinya sosok makhluk yang berbeda yang mampu melakukan segalanya dengan akal dan pikirannya. Apapun yang ia pikirkan itulah yang akan terjadi pada dirinya.

    "Hidup seorang anak seperti ini akan membawa mereka pada kehidupan yang sejatinya sebagai kehidupan manusia yang sesungguhnya. Karena mereka tidak akan merasa takut ataupun khawatir dengan hidupnya. Hidup ini diberikan dengan gratis oleh alam kepada dirinya. Dia akan melakukan apapun yang dipikirkannya. Dengan demikian anak manusia semacam ini akan menjadi penemu yang paling andal di muka bumi ini.

    "Tidak ada yang perlu dikhawatirkan oleh mereka."

    Demikianlah Zarathustra telah berbicara tentang anak, tetapi tak seorang pun yang mendengarkannya. Dia pergi meninggalkan pasar.



    15 April 1885

    Matahari lekas-lekas sembunyi pada saat Zarathustra berjalan ke barat. Meninggalkan pasar dengan berbagai kesan. Tetapi satu kesan yang paling dalam menyentuh naluri Zarathustra. Manusia benar-benar tolol. Dan yang lebih tolol, barangkali Tuhan. Tetapi Zarathustra meyakini Tuhan tidak ada. Yang ada hanya ketololan itu sendiri. Karena Tuhan tidak mungkin menciptakan makhluk yang sia-sia seperti manusia-manusia tolol itu. Dia berpikir, di dunia yang bukan pasar ada manusia yang bijak yang akan berbicara dengannya, bukan hanya bertanya. Karena para penanya yang bertemu dengannya sangat menjengkelkan. Sebuah tanya yang sia-sia. Sebesar apapun jawaban yang ia berikan, orang-orang yang bertanya itu hanya bertanya. Tidak menghiraukan jawaban. Mereka terlalu sibuk memikirkan pertanyaan, lupa untuk menyimak jawaban yang diberikannya. Benar-benar sia-sia.

    Manusia sebanyak itu tak satu pun yang peduli dengan jawabanku. Aku benar-benar putus asa. Aku akan pergi ke tempat lain.

    Perjalanan Zarathustra terhenti di sebuah masjid. Ia mendengar sesuatu. Terjadi pertentangan antara kelompok muslim. Perdebatan panjang tentang perlu tidaknya negara Islam. Zarathustra termenung.

    "Sebuah kesadaran antara Islam dan non Islam terbangun dari adanya aturan keberagamaan. Peran Tuhan dikukuhkan dengan menciptakan perbedaan di muka bumi. Manusia akhirnya lupa, mereka enggan untuk bersatu menguasai bumi. Karena mereka merasa di bumi ini masih ada musuh yang lain yang harus segera di musnahkan. Yaitu mansusia yang lain yang harus segera disingkirkan untuk kemudian membangun dunia dalam sebuah kesadaran yang mereka miliki. Agama. Dalam posisi ini Tuhan sangat diuntungkan dan dunia tidak akan pernah menemukan kedamaiannya. Karena umat manusia akan terus bertikai. Memperebutkan bungkusan kosong yang bernama kekuasan. Dunia menjadi tempat pertentangan yang paling menyenangkan.

    "Seorang manusia yang berpikiran maju menemukan pertanda bahwa dunia tidak akan selesai dari masalahnya selama manusia penghuni dunia ini masih merasa bahwa diantara mereka ada musuh ada kawan. Kesadaran ini dibangun dalam berbagai bentuk kesadaran parsial. Kesadaran agama, membuat umat manusia saling bertentangan antara satu agama dengan agama yang lain. Sehingga mereka lupa untuk mengisi dan membangun dunia ini bersama-sama dalam agama yang berbeda. Kesadaran bernegara membuat manusia merasa terancam antara yang satu oleh yang lainnya, sehingga melahirkan kecurigaan-kecurigaan antara satu negara dengan negara lain. Pada saat seperi ini, kesempatan untuk membangun dunia jadi terampas dari tangan-tangan kreatif anak zaman. Kesadaran kelas juga berakibat pada saling bertentangan yang menakutkan antara satu kelas dengan kelas lainnya.

    "Demikianlah sebuah kekuasaan dikukuhkan. Seorang raja mengukuhkan kekuasaannya dengan menciptakan kelas-kelas sosial dalam masyarakatnya. Sebuah negara adikuasa mengukuhkan kekusaannya dengan menciptakan kecurigaan-kecurigaan antar negara. Dan Tuhan mengukuhkan keberadaannya dengan menciptakan konflik-konflik antar umat manusia dama keberagamaan mereka.

    "Oleh akerna itu kesadaran yang seharusnya tumbuh dalam sosok manusia sejati adalah kesadaran bahwa musuh mereka yang sesungguhnya adalah yang unreal. Dengan kesadaran ini manusia di muka bumi ini akan bersatu melawan yang Unreal ini. Maka dunia ini akan kehilangan deritanya dari permusushan antar umat manusia. Yang ada hanya sebuah kebersamaan menciptakan dunia baru yang penuh dengan pesona tawa dan seyum serta harum bunga-bunga yang mekar di musim hujan.

    "Contoh masyarakat idela atau masyarakat surga adalah para pendahulu umat manusia ini, yaitu masyarakat purba yang tidak mengenal Tuhan dalam bentuk imaji sekarang. Tuhan bagi mereka memang tidak ada. Mereka membentuk kesadaran tentang musuh-musuh yang sifatnya unreal. Musuh-musuh inilah yang menyatukan mereka untuk melakukan berbagai kerja yang bermanfaat bagi kehidupan mereka sebagai masyarakat purba yang serba terbatas. Mereka tidak mengenal pertikaian sampai munculnya masyarakat lain yang menimbulkan kecurigaan.

    "Kesadaran bahwa tidak ada musuh yang tampak di muka bumi ini itulah yang harus segera dikerjakan. Dengan kesadaran bahwa musuh umat manusia adalah sesuatu yang lain yang tidak real, yang abstrak dan tidak nyata. Dalam hal ini, musuh itu, aku mengatakannya, adalah Tuhan. Kesadaran bahwa Tuhan adalah musuh umat manusia yang sesungguhnya akan membangkitkan semangat kebersamaan untuk menghancurkan Tuhan. Umat manusia akan bersatu.

    "Karena manusia pada dasarnya meyakini adanya Tuhan. Kesadaran bahwa mereka mengakui keberadaan Tuhan harus diperangi. Dengan demikian setiap manusia sudah memiliki musuhnya sendiri dan mereka dapat bersatu bersama manusia-manusia yang lain untuk memerangi musunhnya tersebut.

    "Saat ini manusia modern sudah memiliki kesadaran yang sangat menarik. Yaitu bahwa musuh mereka pada hari ini adalah penyakit menular dan penindasan terhadap hak asasi manusia. Sosok musuh yang abstrak yang hanya dapat didefinisikan dan dirasakan. Akan tetapi musuh ini tetap saja sebagai musuh yang memiliki bentuk manusia yang lain. Kesadaran ini tetap merugikan umat manusia secara keseluruhan, karena mereka tidak dapat bersatu untuk menguasai dunia.

    "Aku lebih cenderung dan merasa yakin bahwa musuh umat manusia yang sesungguhnya memang adalah Tuhan. Dan Tuhan adalah musuh yag paling bijak yang pernah aku jumpai. Rela berkorban untuk umat manusia yang telah Ia ciptakan. Tuhan bunuh diri untuk kita semua. Untuk umat manusia.

    "Tuhan telah mati. Musuh satu-satunya umat manusia telah mati. Kini saatnya manusia merasakan kedamaian. Hidup tanpa musuh.

    Epilog

    Lihatlah dia sudah sangat kelelahan setelah menjalani kehidupannya yang penuh dengan penyakit dan penderitaan. Tetapi dia telah berhasil menciptakan satu monster menakutkan bagi dunia. Monster yang menghantui umat manusia di sepanjang zaman.

    Nasib seorang pemikir besar tidak selalu menyenangkan. Seorang pejuang sejati selalu berakhir dengan tragis. Setiap perjuangan untuk menyelamatkan kehidupan umat manusia selalu diakhiri dengan kenyataan pahit yang menyakitkan. 3 Januari 1889 Nietzsche ambruk di piazza Carlo Alberto Turin. Ketika ia sadar kembali, keadaannya sudah tidak waras lagi. Kondisinya yang mengkhawatirkan itu menyeretnya ke klinik Universitas di Besel pada tanggal 10 Januari tahun yang sama. Hasil diagnosis menunjukkan bahwa Nietzsche mengalami paralysis progressiva; kelumpuhan yang terus bertambah parah.

    Seorang ibu yang sangat mencintai anaknya membawanya kembali pulang ke pangkuannya dalam keadaan sakit parah pada tahun 1990. Tetapi malang bagi Nietzsche tujuh tahun kemudian sang ibu meninggal pada bulan April 1897. Akhirnya tepat pergantian abad tahun 1900 dia meninggal di Weimar tanggal 25 Agustus.

    Demikianlah dia telah banyak menggugah manusia, bahkan kadang menghantui manusia dengan kesadaran yang lebih besar dari hanya sekedar mencari musuh sesama manusia, yang hanya menghasilkan derita dalam sejarah umat manusia. Ide terbesarnya adalah menciptakan kesadaran seluruh umat manusia - dan demikianlah adanya setiap pemikir dunia - yaitu menciptakan kesadaran baru yang akan menyelamatkan umat manusia dari kehancurannya.

    Hanya sekelumit kebaikan yang dilakukan olehnya, yaitu ketika dia mengatakan bahwa Tuhan telah mati. Kalimat singkat ini mampu menyelamatkan umat manusia. Karena tugasnya adalah memberitakan tentang sosok musuh yang harus dihadapi bersama oleh seluruh umat manusia. Musuh itu adalah Tuhan dan Tuhan telah mati. Sepeninggal Tuhan, tugas manusia berikutnya adalah menciptakan kerajaan dunia yang tentram. Membangun dunia ini bersama-sama. Niscaya kedamaian akan tercipta dengan janji-janjinya yang tulus dan permusuhan berakhir.

    Tetapi manusia saat ini tidak mengerti apa yang diinginkan oleh alam dengan bermacam misterinya itu. Manusia hanya mampu menyadari bahwa Tuhan adalah sesuatu yang harus dikukuhkan. Mungkin Nietzsche akan mengganti subyek tulisannya - seandainya dia masih hidup - bahwa manusia tidak memiliki musuh. Yang perlu dilakukan oleh manusia adalah menyadari bahwa hidup ini berwarna dan bagaimana membuat warna itu menjadi indah. Berlomba mewarnai dunia ini akan menciptakan kesatuan antar umat mansuia dalam membangun dunia. Sehingga tidak perlu lagi permusuhan di muka bumi ini.

    Biarlah neraka dan surga itulah musuh yang paling abadi dan tidak akan pernah menyentuh dunia ini. Hanya mimpi-mimpi yang tersisa dari sejarah konyol umat manusia.

    baca selengkapnya..





    Web This Blog

    Locations of visitors to this page

    Copy Paste Kode Berikut Pada Blogroll Anda, Untuk Kemudahan Kembali Ke Halaman Ini

    Informasi Bisnis, Hati2..!

    Komentar Singkat

      Name :
      Web URL :
      Message :


    © 2006 Cerpen & Novel | Blogger Templates by GeckoandFly.
    No part of the content or the blog may be reproduced without prior written permission.
    Learn how to make money online | First Aid and Health Information at Medical Health